::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Telah berpulang ke rahmatullah Pengasuh Pesantren Roudlatul Falah Pamotan, Rembang KH Ahmad Tamamuddin Mundji::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Grand Syekh Al Azhar Puji Indonesia Atas Kemampuan Jaga Harmoni

Senin, 22 Februari 2016 18:30 Nasional

Bagikan

Grand Syekh Al Azhar Puji Indonesia Atas Kemampuan Jaga Harmoni
Jakarta, NU Online
Grand Syekh Al Azhar Prof Dr Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb memuji Indonesia yang mampu menjaga harmoni dalam perbedaan. Menurutnya, Indonesia berhasil mengelola perbedaan pandangan keagamaan dan itu tidak terlepas dari peran para ulama.

“Itu tidak terlepas dari kiprah para ulama yang dapat bermusyawarah dalam menyelesaikan perbedaan. Ikhtilaf (perbedaan) adalah rahmat,” terang Syekh Ath-Thayeb dalam pertemuan dengan sejumlah ulama dan tokoh cendekiawan Muslim di kantor Majelis Ulama Indonesia, Jakarta, Senin (22/02). Hadir juga dalam kesempatan ini, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Dubes negara sahabat. Demikian dikutip dari laman kemenag.go.id.

Menurut Syekh Ath-Thayeb yang juga Ketua Majelis Hukama, perbedaan merupakan sunnatullah. Perbedaan dalam Islam bahkan sudah terjadi sejak zaman Nabi. Syekh Ath-Thayeb lalu mencontohkan tentang shalat. Menurutnya, para sahabat belajar shalat dari Rasulullah Saw. Namun, faktanya ada beberapa perbedaan kaifiyat (tata cara) shalat yang sampai kepada umat Muhammad. “Untuk yang syar’i (prinsip) tidak ada perbedaan. Tapi untuk yang furu’iyah (cabang-cabang keagamaan) terjadi perbedaan pendapat,” terangnya.

Perbedaan itu, lanjut Grand Syekh, mulai dari mengangkat kedua tangan saat takbiratul ikhram. Ada pendapat yang hanya sampai depan dada, ada yang berpendapat sampai dua telinga. Demikian juga perbedaan dalam bacaan Al-Fatihah, Maliki tidak didahului Basmalah, sementara Syafii harus.

Terkait hal ini, Grand Syekh menghargai peran MUI yang dapat menghimpun banyak ulama dari beragam ormas dan pemikiran yang berbeda. Menurutnya, MUI menjadi modal besar bagi upaya  menyatukan umat Islam dan memberikan penyadaran kepada umat Islam agar tidak mudah terprovokasi.

Grand Syekh menegaskan bahwa perbedaan para ulama adalah rahmat. “Yasurruni an yakhtalifa ashhabu Rasulillah (perbedaan di antara sahabat Rasulullah menyenangkan buatku),” tutur Syekh Ath-Thayeb mengutip pernyataan Malik bin Abdul Aziz.

Dalam keragaman pandangan dan pemahaman, Grand Syekh mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh terjebak pada klaim kebenaran. “La taqul ana wahdy ash-shahih wa ghairii khatha’un (Janganlah kamu mengatakan hanya saya saja yang benar, lainnya salah),” tegas Syekh Ath-Thayeb sembari menyampaikan harapannya agar MUI dapat menjelaskan cara pandang dalam menyikapi perbedaan ini kepada umat Islam di Indonesia.

Sebelumnya, Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin menyampaikan terima kasih atas kunjungan Grand Syekh Al Azhar ke Indonesia, khususnya ke kantor MUI. KH Ma’ruf berharap kunjungan ini akan dapat memperkuat dakwah Islam dan mempererat persaudaraan Indonesia dan Mesir.

Kepada Syekh Ath-Thayeb dan rombongan Majelis Hukama, KH Ma’ruf menjelaskan bahwa Indonesia adalah bangsa dengan beribu pulau serta beragam suku dan agama. Menurutnya, ada 6 agama resmi, yaitu: Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Dalam agama Islam, lanjut KH Ma’ruf, mayoritas Indonesia berakidah Ahlussunah wal Jamaah dan berpedoman pada beberapa madzhab dalam ibadah dan muamalah.

Dijelaskan juga bahwa di Indonesia terdapat beberapa ormas keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, Mathlaul Anwar, Al Wasliyah dan lainnya. Meski setiap ormas mempunyai tujuan dan cara pandang masing-masing dalam mencapai tujuannya, namun antara satu dan lainnya saling menghargai dan terhimpun dalam MUI. Red: Mukafi Niam