::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Harlah Ke-62 IPNU

Kebangkitan Pelajar NU: Dari Refleksi Menuju Proyeksi

Rabu, 24 Februari 2016 07:25 Opini

Bagikan

Kebangkitan Pelajar NU: Dari Refleksi Menuju Proyeksi
Ilustrasi: Muntijo

Oleh W Eka Wahyudi



"Tjita2 daripada Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama ialah membentuk manusia jang berilmu, tetapi bukan manusia calon kasta elite dalam masyarakat. Tidak. Kita menginginkan masyarakat jang berilmu. Tetapi jang dekat dengan masyarakat."



Itulah petikan pidato KH Tolchah Mansoer dalam Muktamar ke-4 IPNU di Yogjakarta, 11 Februari 1961. Dalam sambutannya, Kiai Tolchah menegaskan kembali bahwa poin terpenting dari berdirinya IPNU adalah berorientasi pada dua arus utama; intelektualitas dan responsibilitas. 

 

Pertama, alasan intelektulitas merupakan kegelisahan para tokoh NU pada tahun 1950-an. Mereka benar-benar merasakan sulitnya menemukan orang NU yang mempunyai kadar intelektual matang. Realitas ini pernah dikeluhkan KH Wahid Hasyim pada tahun 1953 yang menyatakan bahwa mencari seorang akademisi di NU, ibarat mencari tukang es pada jam 1 malam. Itulah mengapa, pada bulan Februari 1954, Konferensi Besar PB Ma’arif menyusun draf khusus yang membahas persoalan masa depan pelajar NU dalam salah satu agenda persidangannya. Ini juga yang menjadi “pembuka jalan” para pendiri IPNU yang mempunyai inisiatif kuat untuk membentuk organisasi khusus bagi pelajar NU, yang pada puncaknya lahirlah IPNU pada 24 Februari 1954 di Semarang, di tengah perhelatan Konbes PB LP Ma’arif.

 

Kedua, alasan responsiblitas merupakan harapan luhur Kiai Tolchah agar para kader-kader IPNU, dalam hal ini kalangan mudanya, apabila telah sukses menjadi akademisi dan sarjanawan, tidak lantas menjadikannya sebagai kasta elit yang hidup terasing di tengah masyarakat. Sehingga, indikasi keberhasilan kader IPNU, jika merujuk pada cita-cita Kiai Tolchah adalah mampu hidup membaur dan melebur dengan segala denyut kehidupan masyarakat, ikut aktif dalam memberikan konstribusi guna memecahkan masalah bersama yang tengah dihadapi oleh masyarakat sekitar.

 

Dua aras utama inilah, jika diimplementasikan IPNU melalui program-program konkrit yang terukur, terkontrol dan terevaluasi dengan benar, akan melanggengkan posisi IPNU sebagai organisasi pembelajar (learning organization) yang pada akhirnya membentuk tatanan masyarakt pembelajar (learning society).

 

Harlah: Momentum Refleksi Menuju Proyeksi

 

IPNU sebagai organisasi yang tidak kedap terhadap gempuran gelombang peradaban yang terus berkembang, tentu memiliki tantangan yang berbeda dari waktu ke waktu. Kelestarian IPNU yang telah sukses menginjakkan kaki sejarahnya selama setengah abad lebih ini, memberikan kita kabar gembira bahwa IPNU mampu eksis di tengah belukar tantangan dan hambatan.

 

Momentum hari lahir IPNU yang ke 62 tahun ini, menyeret kita untuk merefleksikan diri agar IPNU sebagai garda depan kaderisasi NU tetap konsisten memberikan andilnya dalam pembangunan sumberdaya pelajar yang lebih produktif. Tantangan-tantangan yang seolah telah siap merobohkan eksistensi IPNU, layaknya harus dijawab dengan program kerja yang lebih produktif.

 

Semakin menjalarnya nilai-nilai radikalisme, mengakarnya sifat-sifat materialistik dan hedonis di kalangan pelajar, kian pudarnya moral generasi muda, serta semakin ketatnya daya saing di segala lini kehidupan memberikan sinyalemen bahwa IPNU jika ingin tetap lestari dan tidak tenggelam di telan zaman, harus mampu menyiapkan kader-kadrnya dengan pola kaderisasi yang lebih substansial.

 

Pendalaman ideologi, revitalisasi identitas dan jati diri bangsa, serta pelatihan-pelatihan untuk mengasah keterampilan individu harus dijadikan sebagai prioritas dan agenda wajib guna membuktikan bahwa IPNU tetap menjadi organisasi yang kecintaannya kepada Ulama, dibuktikan dengan kadar intelektualitas yang tinggi, ideologi yang mumpuni, kuatnya jati diri dan skill yang memadai.

 

Harapannya, dalam rangka harlah IPNU ke 62 ini, tetap menjaga konsistensinya dalam mengawal pelajar agar kuat dalam memegang ideologi, tanggap terhadap kondisi sosial serta mempunyai kecakapan hidup yang lebih baik. Semoga..!



Wakil Ketua II Bidang Kaderisasi PW IPNU Jawa Timur