::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gubernur NTB Pidato Bahasa Arab di Depan Grand Syekh Al-Azhar

Rabu, 24 Februari 2016 14:07 Nasional

Bagikan

Gubernur NTB Pidato Bahasa Arab di Depan Grand Syekh Al-Azhar
Tangerang Selatan, NU Online
Ada yang menarik dalam halaqah nasional dengan pembicara utama Grand Syekh Al-Azhar Grand Syekh Al-Azhar Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (23/2) siang.

Tepuk tangan berkali-kali terdengar dari tangan para hadirin yang memadati Auditorium Prof Dr Harun Nasution dan di balkon ruang pertemuan di kampus I tersebut. Mereka terkesima atas sambutan salah satu alumnus Universitas Al-Azhar Kairo Mesir ini. Dialah, TGH Muhammad Zainul Majdi.

Pidatonya yang jelas, pelan dan meyakinkan membuat hadirin berdecak kagum. Zainul Majdi mewakili alumni menyampaikan sambutan tanpa teks dengan Bahasa Arab fasih. Pria berkaca mata itu kini mendapat amanah dari rakyat Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai gubernur di wilayah tersebut.

Dalam sambutannya, Majdi mengatakan sangat berbahagia atas kunjungan Grand Syekh Al-Azhar dan para ulama yang duduk di Majelis Hukama Muslimin beserta rombongan. Atas nama seluruh alumni, ia katakan “Ahlan wa Sahlan wa Marhaban bi Qudumikum bi baladikum al-tsani, Indonesia” (Selamat datang di negara kedua kalian, Indonesia).

Hal yang membuat Majdi gembira adalah ini merupakan kunjungan bersejarah Grand Syekh Ahmad Thayyeb. “Bagi kami, kedatangan Grand Syekh merupakan kunjungan seorang kiai kepada santrinya. Kunjungan seorang guru kepada muridnya,” ujarnya disambut aplaus hadirin.

Bangsa Mesir dan Indonesia, lanjut Majdi, memiliki hubungan kesejarahan, persaudaraan, dan cinta yang kuat. Pada waktu Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, Mesir lah negara pertama yang mengakuinya. Dan ini menjadi dukungan moral bagi Indonesia yang tak mudah dilupakan. 

Gubernur NTB juga menyebut banyak sekali murid Al-Azhar dari negeri ini. Mereka mengikuti dan meneladani akhlak para guru di sana. Apalagi para masyayikh di Mesir menganut faham Islam “wasathiyah”, yang jauh dari sikap tatharruf (ekstrim). “Fal-Azhar daaiman fii qulubinaa likhidmatihi lil islam wa muslimin,” ujarnya.

Majdi lalu mencontohkan putra Indonesia yang pernah belajar di Al-Azhar. Salah satunya Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menjadi presiden di masa yang sulit. Kedua, adalah Prof Dr Quraish Shihab yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama yang hingga kini masih mengajarkan ilmunya melalui televisi nasional.

Ketiga, lanjut Zainul Majdi, KH A Musthofa Bisri (Gus Mus). “Beliau sempat menjadi Rais Aam Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia,” tegasnya lagi-lagi diiringi tepuk tangan meriah. (Musthofa Asrori/Fathoni)