::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mantan Presiden Sudan Sambangi PBNU

Kamis, 25 Februari 2016 18:43 Nasional

Bagikan

Mantan Presiden Sudan Sambangi PBNU
Siwar el-Dzahab (tengah)
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendapat kunjungan dari mantan Presiden Sudan, Jenderal Siwar el-Dzahab, Kamis (25/2/2016). Dzahab yang didampingi seorang asistennya Ahmad Azzam el-Amin ini disambut hangat oleh Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani dan Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini di ruang kesekjenan.

“Selamat datang dan terima kasih telah berkunjung ke PBNU,” sambut Helmy mengawali obrolan.

Selanjutnya, Helmy Faishal memperkenalkan Islam Indonesia kepada Dzahab. Dia juga menjelaskan tentang bangsa Indonesia yang sangat beragam dalam sisi agama, sosial, budaya, suku, dan lain-lain tetapi bisa hidup berdampingan secara damai.

“Indonesia memiliki 500 suku lebih, tetapi karena mampu menyinergikan antara paham agama dan negara, Indonesia tetap damai,” terang Sekjen.

Namun demikian, lanjut Helmy, potensi radikalisme dan terorisme masih ada. Karena kelompok dan paham radikal terlihat masih eksis. “Saya tidak mengatakan wahabi itu teroris, tetapi satu langkah lagi kecenderungan menjadi teroris itu ada,” jelasnya.

Sementara itu, Siwar Dzahab dalam kunjungannya itu mengatakan, persahabatan Indonesia dan Sudan sudah terjalin lama. Bahkan, lanjut Dzahab, Indonesia dan Sudan satu sama lain mendukung perjuangan rakyat melawan ketidakadilan penjajah waktu itu. 

“Dalam sejarah, Indonesia dan Sudan sama-sama tergabung dalam Konferensi Asia-Afrika dan Gerakan Non-Blok yang dulu dipimpin oleh Soekarno,” jelas Dzahab yang juga didampingi M Ullinuha Husnan dari Pascasarjana STAINU Jakarta.

Sebelum menjadi Presiden Sudan 1985-1986, Dzahab menjabat Menteri Pertahanan Sudan. Kunjungannya ke Indonesia sebagai anggota dari Majelis Hukama Muslimin yang dipimpin oleh Grand Syekh Al-Azhar Prof Dr Ahmad At-Thayyeb. Adapun kunjungannya ke PBNU atas nama Munazzamat al-Dawa al-Islamia, lembaga yang dipimpinnya.

Setelah menyelesaikan tugas sebagai Presiden Sudan, Dzahab mendirikan lembaga bernama ‘Munazzamat Al-Dawa Al-Islamia’. Lembaga ini bergerak dalam bidang dakwah Islam yang saat ini markasnya ada di Khortoum Sudan dan Dubai Uni Emirat Arab. Lewat Majelis Hukama Musliminnya itu, dia proaktif menyebarkan Islam damai di seluruh dunia.

Dalam kesempatan tersebut, secara khusus, Siwar Dzahab juga mengundang PBNU untuk hadir dalam Seminar Internasional itu yang rencananya akan dilaksanakan 31 Maret 2016 di Khortoum Sudan. Dari pertemuan ini, Dzahab juga menawarkan kerja sama di bidang pendidikan dan pengembangan Islam moderat. 

Sebelum beranjak pulang, Dzahab dan rombongan menyempatkan diri bertemu dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di ruangannya. (Fathoni)