::: SimakĀ berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Rangkul Umat Putus Asa Supaya Tidak Tergelincir Radikalisme

Sabtu, 27 Februari 2016 18:04 Daerah

Bagikan

Rangkul Umat Putus Asa Supaya Tidak Tergelincir Radikalisme
Way Kanan, NU Online
Kepercayaan umat yang putus asa dengan kondisi ekonomi dan sosial yang ada harus dikembalikan supaya tidak lebih jauh tergelincir pada kelompok yang cenderung menghalalkan segala cara untuk melakukan perubahan berlandaskan ajaran agama. Banyak hal lain perlu dilakukan guna menangkal radikalisme anti-Pancasila.

Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Way Kanan H Bunyamik Sidik, cara lain adalah dengan memperkenalkan pengetahuan agama sejak dini sesuai ajaran Islam yang benar berdasarkan Al-Qur'an dan hadits termasuk memberikan pemahaman tentang nasionalisme.

"Lalu upaya menekan kesenjangan sosial harus pula dilakukan. Selain itu, bagaimana mengajak masyarakat untuk terus memahami dan menjalankan nilai-nilai Pancasila juga harus dilakukan kontinu," ujar Bunyamin di Blambangan Umpu, Sabtu (27/2).

Pencegahan gerakan radikal anti-Pancasila juga perlu melibatkan tokoh agama, ulama dan pengasuh pesantren sebagai pengawal masyarakat dari penyimpangan-penyimpangan pemahaman dan akidah.

"Ada beberapa faktor penyebab radikalisme, antara lain pemikiran, ekonomi, politik, sosial, dan pendidikan. Kemiskinan dan pengangguran dapat mengubah pola pikir seseorang dari sebelumnya baik menjadi orang sangat kejam dan dapat melakukan apa saja termasuk teror," ujar mantan Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Waykanan tersebut.

Dampak pendidikan yang keliru juga sangat berbahaya. Berkaitan dengan itu, ia mengimbau pendidikan agama khususnya harus lebih diperhatikan. "Terutama ajaran agama tentang toleransi, kesantunan, keramahan, dan persatuan harus lebih banyak disampaikan. Umat putus asa harus kita rangkul," demikian Bunyamin Sidik. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)