::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai NU Sudah Saatnya Dakwah di Dunia Maya

Senin, 29 Februari 2016 02:03 Nasional

Bagikan

Kiai NU Sudah Saatnya Dakwah di Dunia Maya
Purwakarta, NU Online
Di era digital seperti sekarang, kiai NU semestinya tidak hanya berdakwah di dunia nyata tapi harus mulai berdakwah di dunia maya. Karena daya jangkau yang lebih luas, praktis dan privasi yang kuat membuat dakwah di dunia maya ini menjadi sangat penting.

Demikian salah satu poin yang disampaikan oleh KH Maman Imanulhaq saat mengisi materi dalam kegiatan Pendidikan Kader NU di Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Ahad (28/2).

"Memperkuat  dakwah di hadapan jamaah majelis taklim, pesantren, dan publik secara langsung harus tetap dijalankan," kata Kang Maman yang saat ini dipercaya sebagai Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU ini.

Keadaan zaman ini juga mengharapkan para kiai untuk menyapa dan menyentuh pengguna media sosial yang didominasi oleh anak-anak muda, kaum kosmopolitan, dan kelompok sekuler yang haus akan nilai spiritualitas yang rasional, toleran, dan damai.

"Kita harus mengakui bahwa kiai-kiai NU masih belum banyak mengisi ruang dakwah cyber," tambahnya.

Untuk itu, kita mengharapkan para kiai untuk memanfaatkan jaringan internet, terutama media sosial agar ajaran-ajaran Islam yang moderat, toleran, damai dan rahmatan lil alamin dapat menyentuh jamaah yang ada di dunia maya.

"Adanya propaganda intoleransi, radikalisasi, terorisme, pornografi dan amoral di dunia maya itu karena kurang berperannya kelompok moderat di sana," kata Pengasuh Pesantren Al-Mizan ini.

Menurut Kang Maman, sebuah postingan di media sosial dapat memberikan pengaruh terhadap sebuah kebijakan publik atau bisa juga dijadikan sebagai rujukan media massa.

"Saya pernah ngetwit kemudian banyak yang baca karena followers saya banyak, kemudian twit tersebut dijadikan sebagai rujukan kebijakan," tambahnya.

Para kiai juga diharapkan menggandeng anak muda untuk mendokumentasikan pengajian kitab kuning di pesantren, ceramah di majelis dan tablig akbar para kiai NU yang berisi ajaran Islam Ahlussunah wal Jamaah, prinsip  ke-NU-an, dan nilai kebangsaan.

Tiga hal yang menjadi ciri khas kiai NU ini kemudian diunggah di medsos dan Youtube agar bisa diakses publik yang lebih luas di seluruh dunia. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)