::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Said: Islam Nusantara sebagai Benteng dari Timur

Ahad, 28 Februari 2016 23:02 Nasional

Bagikan

Kiai Said: Islam Nusantara sebagai Benteng dari Timur
Kiri-Kanan: Anis Sholeh Ba’asyin, KH Said Aqil Siradj, KH M. Yusuf Chudlori, Budi Harjono dan Ilyas dalam Suluk Maleman “Beragama Setengah Linglung di Negeri Setengah Bingung” di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (27/2).

Pati, NU Online

Pemaknaan Islam di tengah kehidupan manusia belakangan ini dirasa banyak kalangan bergeser ke arah yang nista. Persoalannya, bukan hakikat Islam itu sendiri, tetapi lebih pada pemaknaan yang menyertakan hawa nafsu.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menyebut orang yang paling jahat adalah mereka yang melakukan kejahatan atas nama Islam. Perilaku demikian tidak lepas dari ketidakpahaman terhadap makna, dan dari mana Islam turun.

“Orang saat ini sangat mudah mengatas namakan agama justru untuk berbuat kerusakan,”ujarnya.

Kiai Said secara khusus menjelaskan hal tersebut dalam Ngaji Budaya Suluk Maleman di Rumah Adab Indonesia Mulia Jalan Diponegoro Pati, Sabtu (27/2) malam. Forum ngaji bulanan yang digagas Anis Sholeh Ba'asyin kali ini juga dihadiri KH Muhammad Yusuf Chudlori (Magelang), KH Budi Harjono (Semarang), dan akademisi Unnes Ilyas.

Dihadapan ratusan jamaah yang hadir dalam pengajian interaktif berbalut tampilan musik dari Orkes Sampak GusUran itu, Kiai Said membeberkan beberapa fakta terkait Islam sebagai agama mayoritas bangsa Indonesia.

Menurut pengasuh Pesantren Al Tsaqafah Ciganjur ini, Islam diturunkan untuk membangun budaya bagi manusia. Tujuannya tiada lain agar manusia kreatif, cerdas, mampu berkarya, dan bermanfaat di dunia. Islam, lanjutnya, turun dari langit (Allah) ke bumi (manusia) dan bukan sebaliknya.

"Maka, agama itu bukan untuk Allah tetapi untuk kita (manusia). Semua aturan dalam agama adalah untuk membangun kehidupan yang berbudaya, beradab, bergengsi, berkarya, dan bermartabat," tutur lulusan Ummu al-Qura' Makkah.

Kehadiran agama Islam mengarahkan manusia, yang merupakan makhluk (insan) untuk berbudaya, beradab, bergengsi, dan bermartabat dengan perangkat yang telah diberikan Allah. Karenanya menjadi keniscahyaan, bahwa insan harus hidup harmoni, intim, saling mendukung, melengkapi, dan menyempurnaan.

"Jadi, agama tidak pernah dimaksudkan untuk merusak keharmonisan. Justru untuk mendukung insaniah, mendukung keharmonisan," tandasnya dalam pengajian bertema "Beragama Setengah Linglung di Negeri Setengah Bingung".

Fenomena gerakan radikalisme atas nama agama, menurutnya bentuk kedzoliman yang sangat parah. Lebih parah dari kejahatan lainnya.

"Karena tidak paham agama, maka Islam menjadi komoditi, perdagangan, bisnis. Sepanjang ada yang mendanai, maka akan melakukan apapun, termasuk merusak, ngebom dengan Allahu Akbar," jelasnya.

Agar paham semacam itu tidak berkembang, NU saat ini memang tengah mengembangkan Islam Nusantara.

“Islam nusantara kami harapkan sebagai benteng sebelah timur Islam yang beradab dan berbudaya khususnya dalam menjaga NKRI,” terangnya.

Islam Nusantara, menurutnya bukan merupakan agama, sekte, atau paham baru. Itu lebih pada tipologi, ciri khas Islam di Indonesia yang melebur dengan budaya setempat. Adapun polanya mengacu pada cara dakwah Walisongo dan bukan mengadopsi budaya yang buruk yang bersifat kemaksiatan.

Kiai Said menyebut, penyelarasan Islam dengan semangat kebangsaan (nasionalisme) telah ditanamkan sejak dulu oleh pendiri NU KH Hasyim Asy'ari. Itu diakui menjadi kekuatan besar sehingga negara tidak tercabik karena perbedaan seperti yang terjadi di banyak negara Timur Tengah.

Ia menambahkan kemerdekaan Indonesia juga diakuinya sebagai salah satu bentuk perjuangan ulama.  Menurutnya Indonesia termasuk sebuah hasil kemerdekaan yang diwarnai semangat Islam.

“Bahkan seorang jurnalis pernah menulis bahwa KH Hasyim Asyari saat belajar di Makkah selalu berdoa agar bangsa Indonesia merdeka dari penjajah. Di situ ditulis KH Hasyim menjadi salah seorang yang meletakkan kemerdekaan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Akhlak Mulia

KH Yusuf Chudlori mengemukakan, tidak ada ajaran dalam Islam yang membenarkan kerusakan akhlak manusia. Mengingat dalam satu hadist disebutkan, Nabi Muhammad diutus Allah ke dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Salah satu titik pusat akhlak manusia sejatinya ada pada pemaknaan dari pelaksanaan syariat Islam. Sholat, misalnya, ketika disiplin dikerjakan dan menyelami makna sejatinya, maka orang akan lembah manah dan berakhlak mulia.

"Asal usul dan bibit radikalisme atas nama agama berasal dari pengakuan orang yang khusyuk menjalankan syariat, tetapi gagal paham. Jadi, merasa paling benar, gampang menyalahkan dan mengkafirkan orang lain karena sholat hanya sebatas kulitnya, bukan menghasilkan akhlak mulia," papar kiai yang akrab disapa Gus Yusuf ini. (Red-Zunus)