::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

PMII Soroti Pola Kepemimpinan Soekarno dan Mbah Wahab

Senin, 29 Februari 2016 18:04 Daerah

Bagikan

PMII Soroti Pola Kepemimpinan Soekarno dan Mbah Wahab
Jombang, NU Online
Pola kepemimpinan Soekarno atau Bung Karno dan Mbah Wahab (KH Abdul Wahab Hasbullah) menjadi sorotan para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Wahab Chasbullah, Tambakberas, Jombang. Pengurus komisariat berupaya membedah secara gamblang pola kepemimpinan mereka dengan kegiatan seminar kepemimpinan kedua tokoh tersebut, Sabtu (27/2) di Aula Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum.

Dalam seminar itu disebutkan bahwa Bung Karno dalam kepemimpinannya sudah memberikan banyak kontribusi bagi bangsa dan Negara, sehingga sampai saat ini ia selalu menjadi teladan para elit pemimpin kekinian. Selain itu, ia juga dekat dengan sejumlah kiai di Nusantara, termasuk Mbah Wahab sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU). 

Sebagai pembicara, pengurus komisariat menghadirkan Dian Sukarno, penulis buku sekaligus pegiat sejarah tokoh di Indonesia. Pada kesempatan itu Ia membahas tentang perjalanan hidup Bung Karno dan sejarah kepemimpinannya. 

Sedangkan tentang kepemimpinan Mbah Wahab disajikan Ahmad Samsul Rijal, Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang. Dan pemateri ketiga yakni Gus Fadlullah, keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum berhalangan hadir.

Dari Perbincangan tentang kedua sosok istimewa tersebut, ditemukannya garis besar kesamaan tujuan dalam kepemimpinannya, yaitu mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Perjuangan mereka pada ahirnya kita bisa memahami bahwa keduanya melakukan upaya-upaya menyetahterakan umat atau bangsa Indonesia dari penindasan,” kata Samsul Rijal di tengah-tengah seminar berlangsung.

Di samping itu, Rijal sapaan akrabnya berharap seminar tersebut bisa memberikan nilai manfaat bagi mahasiswa pergerakan dalam menjalankan mandat organisasi, ia juga mengimbau kepada aktivis PMII menauladani pola kepemimpinan dua tokoh tersebut di tengah-tengah Indonesia saat ini diguncang oleh beberapa kelompok anti pancasila dan NKRI. Sudah semestinya PMII dan NU yang sama-sama memiliki paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) membangun kekuatan dalam visi yang sama, yakni mempertahnkan NKRI dan pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Senada dengan hal tersebut, Abdul Aziz Ketua Mandataris PC PMII Jombang mengungkapkan bahwa perjuangan dua tokoh itu masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, kalangan mahasiswa sebagai kaum intelektual dan agent perubahan hendaknya mampu menerusakan perjuangan mereka.

"Dengan langkah ini, saya berharap kader PMII dalam setiap gerakannya mampu mencontoh kedua tokoh tersebut. Dan saat ini bukan akhir dari sebuah perjuangan, melainkan awal dari langkah kita semua untuk lebih semasngat dalam memperjuangkan Bangsa ini," ujarnya.

Seminar ini diikuti perwakilan dari pengurus komisariat dan rayon PMII se-Jombang, juga utusan beberapa mahasiswa setempat. Menurut pantauan NU Online, puluhan peserta mengikutinya dengan antusias dan mencermatinya hingga acara rampung. (Syamsul Arifin/Fathoni)