::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kanker Serviks Penyebab Tertinggi Angka Kematian Perempuan Indonesia

Senin, 29 Februari 2016 23:26 Nasional

Bagikan

Kanker Serviks Penyebab Tertinggi Angka Kematian Perempuan Indonesia
Jakarta, NU Online
Kanker serviks menjadi penyebab tertinggi angka kematian perempuan di Indonesia. Demikian disampaikan dr Wanda Wimalasari pada sesi penyuluhan dalam rangka Bakti Sosial yang digelar Pengurus Pusat Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (PP LKKNU), di Gedung PBNU 2, Jalan Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat, Ahad (28/2).

Di hadapan ratusan peserta baksos, Wanda memaparkan, tingginya angka tersebut menjadi penyumbang terbesar kematian perempuan akibat kanker serviks di seluruh dunia, karena mencapai 80 persen dari seluruh kematian.
 
“Di Jakarta setiap hari ada 1-2 orang perempuan meninggal akibat kanker serviks,” tambah dokter muda kelahiran Tegal, Jawa Tengah itu. 

Kanker serviks adalah kanker yang disebabkan oleh HPV (human papilloma virus) yang menyerang bagian leher dari organ vital wanita. Walaupun bagian awal yang diserang adalah organ kewanitaan, dalam jangka panjang dapat menyebar ke organ-organ lain dalam tubuh penderita. Organ-organ lain itu misalnya kelainan  atau kerusakan ginjal, jantung, dan kerusakan saraf pusat. 

Penderita kanker serviks pada stadium lanjut ditandai dengan gejala-gejala antara lain pendarahan pada kemaluan setelah berhubungan seksual, susah buang air kecil atau anyang-anyangan, air kencing berwana merah, keputihan, nyeri pinggul, nyeri otot, nyeri otot, dan sakit perut.

Virus HPV penyebab kanker serviks dapat terjadi melalui hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan, dan hubungan intim dengan pasangan yang beresiko. Faktor resiko lainnya adalah perokok, hubungan seksual yang dilakukan oleh perempuan yang terlalu muda, ibu yang memiliki banyak anak, dan penderita infeksi seksual menular.

Menurut Wanda, kebanyakan perempuan biasanya tidak mempedulikan kesehatannya, termasuk terhadap adanya kemungkinan kanker serviks ini. “Sangat disayangkan bila konsultasi dan pemeriksaan baru dilakukan ketika penderita sudah masuk pada stadium lanjut. Perempuan harus peka. Jangan tunggu adanya keluhan yang berat,” ungkap dokter yang enerjik itu.

Penyuluhan oleh dr Wanda menjadi awal dari rangkaian bakti sosial yang terselenggara atas kerjasama PP LKKNU dan Perum Bulog itu. Para peserta baksos yang sudah terdaftar selanjutnya dipersilakan mengikuti tes IVA (inspeksi visual dengan asam asetat). Tes IVA dapat diikuti oleh perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, tidak sedang hamil, dan tidak sedang menstuasi.

Tes IVA dilakukan sebagai pemeriksaan atau deteksi awal adanya kanker leher rahim. Dengan tes IVA akan terlihat ada atau tidaknya gejala kanker serviks sehingga selanjutnya dapat diberikan pengobatan lebih lanjut pada penderita. Tes IVA sangat tepat dilakukan karena dalam prosesnya tidak sakit, tidak membutuhkan waktu yang lama (2-5 menit) hasilnya langsung diketahui, mudah, murah dan hasilnya terjamin akurat. 

Wanda mengapresiasi pihak PBNU dan LKKNU yang mengadakan bakti sosial berupa penyuluhan kesehatan kanker serviks dan tes IVA  yang diselenggarakan kali ini. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)