::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Agus Sunyoto: Penulisan Sejarah Sarat Kepentingan Politik

Selasa, 01 Maret 2016 04:53 Nasional

Bagikan

Agus Sunyoto: Penulisan Sejarah Sarat Kepentingan Politik

Jakarta, NU Online

Pembacaan historiografi harus hati-hati karena banyak kepentingan politik di dalamnya. Selain pencampuradukan peristiwa, tidak sedikit sejarawan yang menyamakan mitos dengan fakta. Demikian diungkapkan Ketua Lesbumi NU, KH Ng. Agus Sunyoto dalam “Ngaji Sejarah Bareng Lesbumi NU” di Gedung PBNU Jakarta, Senin (29/02).

Agus Sunyoto mencontohkan, kisah Sunan Kalijaga bertemu Sunan Bonang kemudian disuruh menjaga tongkat, duduk di pinggir kali selama 15 tahun hingga keluar lumut dan semak belukar. Oleh para sejarawan hal itu dianggap tidak masuk akal.

Dalam kisah lain, lanjut penulis Suluk Abdul Jalil 7 jilid ini, Nabi Isa pergi ke atas gunung selama 40 hari. Di sana ia tidak makan dan minum. Pada hari ke-40 Nabi Isa hampir pingsan, dan melihat bayangan di luar pancaindra. Peristiwa itu dianggap setan yang menggodanya.

Dua kisah di atas dapat dilihat mana yang masuk akal dan mana yang tidak. “Seorang Nabi yang mempunyai mukjizat saja bisa pingsan setelah 40 hari karena tidak makan, bagaimana dengan manusia biasa, mungkinkah bisa duduk selama 15 tahun?” tanya Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini.  

Contoh lainnya, kata Agus, kisah Ken Arok yang bersumber dari naskah Pararaton yang ditulis tahun 1920, di mana Ken Arok digambarkan berkarakter sangat negatif seperti merebut istri orang, membunuh Empu Gandring, termasuk kisah kematiannya yang tewas dibunuh saat makan di singgasana. Ini bertolak belakang dengan keterangan Prasasti Mula Malurung yang mengisahkan Ken Arok meninggal di atas singgasana, tidak terbunuh, dan tidak sedang makan.

Agus kembali mempertanyakan, mungkinkah seorang raja tidak punya tempat makan, sehingga harus makan di atas singgasana? Sedangkan singgasana biasanya hanya diduduki raja saat acara khusus?

Menurut pengasuh Pesantren Global Tarbiyyatul Arifin Malang ini, persoalan lainnya dalam historiografi adalah adanya pencampuradukan peristiwa satu dengan yang lain. Misalnya penggambaran pasukan Majapahit dipimpin Patih Gajah Mada saat menyerang Sunan Giri. Padahal Sunan Giri dan Gajah Mada hidup pada zaman berbeda. Selisih masa hidup keduanya hampir seratus tahun.

Hal-hal semacam ini, menurut Agus Sunyoto, tentu saja mengacaukan dan membingungkan. Oleh karena itu, penulis buku Atlas Walisongo ini mengingatkan agar jeli dan kritis dalam membaca buku-buku sejarah yang beredar. Sejarawan harus mampu memisahkan antara fakta dan mitos.

Diskusi bulanan yang diselenggarakan Lesbumi ini mengambil tema “Membaca Secara Kritis-Analitis Historiografi Nusantara sebagai Rujukan Sejarah,” dihadiri ratusan pengunjung.

Risa, mahasiswa S2 STAINU Jakarta, mengatakan dengan mengikuti acara ini jadi melek sejarah, tahu sejarah yang sebenarnya. Bagi Risa, paparan Agus Sunyoto belum selesai dan belum memuaskan, justru muncul pertanyaan baru yang perlu dikejar pada diskusi atau perkuliahan selanjutnya. (Kendi Setiawan/Zunus)