::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pernikahan Dini di Pacitan Tinggi, IPPNU Minta Pemerintah Turun Tangan

Selasa, 01 Maret 2016 21:01 Daerah

Bagikan

Pernikahan Dini di Pacitan Tinggi, IPPNU Minta Pemerintah Turun Tangan
Pacitan, NU Online
Angka pernikahan dini di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur akibat pergaulan bebas di kalangan pelajar, dalam dua bulan terakhir ini mencapai 12 permohon dispensasi pernikahan di bawah umur. Hal ini menimbulkan keperihatinan di kalangan masyarakat sebagai di kota yang dikenal adem ayem dari hiruk pikuk pengaruh budaya modern itu.

Ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Pacitan Dyan Wahyu Putri turut mengomentari situasi itu. Ia sangat menyayangkan terjadinya kasus ini. Manurutnya, kasus seks pranikah telah mencoreng nama baik Pacitan.

”Kami sebagai salah satu organisasi yang menaungi para pelajar turut perihatin dan menyanyangkan terjadinya kasus ini,” ungkapnya kepada NU Online di Pacitan, Selasa (1/3).

Menurut Dyan, terjadinya kasus kehamilan pra nikah dikalangan pelajar lebih diakibatkan beberapa faktor. Pertama, minimnya pengetahuan agama dan pendidikan karakter di kalangan pelajar.

Kedua, belum siapnya para pelajar terhadap perkembangan zaman yang semakin modern seperti mudahnya akses internet dan media sosial sehinga mereka mudah terbawa derasnya arus pergaulan.

Ketiga, kurangnya pengetahuan dan pemahaman pelajar mengenai kesehatan reproduksi dan bahaya seks pranikah.

“Para pelajar yang masih labil, biasanya rasa keingintahuanya sangat tinggi sehingga ada gejolak  ingin mencoba. Parahnya, mereka tidak berpikir tindakanya akan berakibat fatal bagi dirinya dan masa depanya,” jelasnya.

Untuk itu, IPPNU Pacitan meminta pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan untuk segera turun tangan menyelesaikan fenomena ini. IPPNU meminta Dinas Pendidikan untuk lebih serius dalam mengoptimalkan sistem pendidikan yang berbasis karakter.

Sebab selama ini, materi pendidikan agama dan pendidikan karakter di sekolah dirasa masih kurang. Melalui pendidikan karakter, para pelajar kelak dapat membentengi dirinya dari pengaruh zaman yang semakin kompleks ini. Sehingga kasus seks pranikah di kalangan pelajar dapat dihindari.

Selain itu, Dinas Pendidikan diminta lebih mendukung organisasi pelajar berbasis agama untuk dijadikan sebagai tangan kanan pemerintah dalam membantu menyiapkan generasi  pelajar yang berkualitas dan bermoral.

“Pemerintah diminta lebih memperhatikan lembaga pendidikan berbasis agama seperti pondok pesantren dan juga sekolah swasta. Karena moral pelajar dibentuk dari lembaga yang berbasis agama,” ujarnya.

Dari data yang berhasil dihimpun, di Pacitan kasus nikah dini atau hamil pranikah di kalangan remaja tergolong tinggi. Tahun lalu dispensasi nikah dini jumlahnya mencapai 102 pasangan. Jumlah lebih banyak ditemui pada 2014 dengan 130 kasus nikah dini dan 126 kasus pada 2013.  Tahun 2015 lalu, pernikahan dini di Pacitan di atas rata-rata angka nasional yakni, mencapai 8 persen dari keseluruhan jangka usia pasangan yang menikah di bawah 17 tahun. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)