::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Seruan PBNU Tentang Amaliyah Saat Gerhana Matahari Total

Selasa, 08 Maret 2016 22:30 Taushiyah

Bagikan

Seruan PBNU Tentang Amaliyah Saat Gerhana Matahari Total
A. Merujuk pada hisab Lembaga Falakiyah PBNU dengan menggunakan Markaz Jakarta, dipermaklumkan kepada masyarakat akan terjadinya Gerhana Matahari Total (GMT) pada 29 Jumadil Ula 1437 H bertepatan dengan 9 Maret 2016 di seluruh wilayah Indonesia. GMT terjadi dalam fase-fase dengan waktu Indonesia Barat sebagai berikut:

1. Awal gerhana matahari sebagian : pukul 06:20:58
2. Awal GMT : pukul 07:22:14
3. Pertengahan GMT : pukul 07:23:16
4. Akhir GMT : pukul 07:24:18
5. Akhir Gerhana Matahari Sebagian : 08:34:21.

Di wilayah Indonesia Barat, Gerhana Matahari dimulai pukul 06.20 WIB, sedangkan di Indonesia Tengah pukul 07.25 WITA dan Timur pukul  08.35 WIT.

Di antara daerah di Indonesia yang mengalami GMT adalah Palembang, Bangka, Belitung, Sampit, Pelangkaraya, Balikpapan, Palu, Poso, Luwuk, Ternate, dan Halmahera. Sedang wilayah Indonesia lainnya akan mengalami Gerhana Matahari Sebagian.

B. Hal-hal yang perlu dilakukan

Menghadapi peristiwa gerhana matahari ini, PBNU menghimbau umat Islam untuk:

1. Memperbanyak takbir, dzikir, dan doa kepada Allah dengan penuh khusyu' dan tadlarru'. Peristiwa gerhana ini merupakan tanda-tanda kebesaran Allah yang harus diambil i'tibar (pelajaran) dengan terus mendalami kebesaran Allah melalui ayat-ayat kauniyah-Nya.
2. Melaksanakan shalat gerhana
3. Memperbanyak shadaqah dan amal shalih
4. Melakukan muhasabah atas berbagai musibah yang melanda bangsa Indonesia, mulai banjir, tsunami, longsor, serta bencana alam dan bencana sosial lainnya, karena ulah dan kesalahan kita; dengan disertai taubat nashuha, komitmen bersama untuk ketaatan dengan menjalankan seluruh perintah agama, dan menjauhi, mengingkari dan mencegah perbuatan yang dilarang oleh-Nya seperti praktek-praktek keagamaan menyimpang, korupsi, prostitusi, homoseksual dan perbuatan haram lainnya. Komitmen ketaatan dan perbaikan dimulai dari diri, keluarga, dan lingkungan terdekat.

C. Hukum dan Tata Cara Shalat Gerhana

1. Hukum shalat gerhana adalah sunnah muakkadah, sangat dianjurkan; baik sendiri (infirad) maupun berjamaah. Lebih utama dilakukan dengan berjamaah di masjid.
2. Shalat gerhana dilakukan setelah nyata terlihat hingga berakhir.
3. Shalat gerhana matahari dilakukan secara sirr (memelankan bacaan), sedang gerhana bulan dilakukan secara jahr (mengeraskan bacaan)
4. Shalat gerhana matahari dilakukan dua rakaat, masing-masing rakaat dilaksanakan dua kali ruku dan dua kali sujud dengan tata cara sebagai berikut :

a) Ketika jamaah sudah berkumpul dan gerhana mulai terjadi maka diserukan shalat dengan membaca seruan.
الصلاة جامعة ..
b) Niat melakukan shalat gerhana matahari (kusufisy-syams) menjadi imam atau makmum. 
c) Shalat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat. 
d) Setiap rakaat terdiri dari dua kali ruku dan dua kali sujud. 
e) Setelah rukuk pertama dari setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan surat kembali. 
f) Pada rakaat pertama, bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat kedua. Demikian pula pada rakaat kedua, bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat kedua.
g) Sesudah selesai shalat, Khatib menyampaikan khutbah yang berisi nasihat agar orang memperbanyak Istighfar, berdzikir, bersedekah, rasa takut kepada azab Allah dan amal kebaikan lainnya 

D. Pelaksanaan Khutbah

Ketentuan shalat gerhana, sama dengan ketentuan khutbah shalat Jumat, hanya saja dilakukan setelah shalat.

Khatib berkhutbah dengan ketentuan:

1. Khutbah dilakukan 2 kali, sebagaimana khutbah Jumat, baik syarat maupun rukunnya.
2. Khutbah dianjurkan berisi motivasi melakukan taubat nashuha, memperbayak istighfar, sedekah dll dan menjelaskan bahwa gerhana adalah bagian dari fenomena alam dan tanda kekuasaan Allah. Tidak benar jika gerhana dimitoskan dengan berbagai takhayul, juga dikaitkan dengan lahir atau meninggalnya seseorang.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam al- Bukhori dan Muslim dari Sayyidah Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 

إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا ينخسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتم ذلك فادعوا الله وكبروا وصلوا وتصدقوا 
"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda keagungan Allah. Terjadinya gerhana bukan karena meninggal atau lahirnya seseorang. Apabila kamu melihatnya maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah dan bersedekahlah” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

3. Setelah khutbah pertama, Khatib duduk diantara dua khutbah.
4. Khatib melanjutkan khutbah ke-2 sampai selesai.

Demikian surat edaran ini disampaikan untuk dilaksanakan dan dijadikan panduan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan, hidayah, taufik dan kekuatan dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jakarta, 04 Maret 2016

Rais ‘Aam  KH Ma'ruf Amin
Ketua Umum KH Said Aqil Siroj