::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tolak Bandara di Kulon Progo, Ratusan Warga Paliyan Gelar Istighotsah Akbar

Jumat, 11 Maret 2016 16:01 Nasional

Bagikan

Tolak Bandara di Kulon Progo, Ratusan Warga Paliyan Gelar Istighotsah Akbar
Kulon Progo, NU Online
Warga yang tergabung dalam kelompok Wahana Tri Tunggal menolak pembangunan bandara Kulon Progo. Mereka melakukan istighotsah akbar di pedukuhan Krengo, Desa Paliyan, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Kamis (10/3) pagi. Aksi mereka didampingi Ketua PBNU H Imam Aziz. Warga setempat mengalami intimidasi dari pihak-pihak tertentu.

Menurut H Imam Aziz, pembangunan bandara di Desa Paliyan adalah hal yang sepatutnya ditolak. Ia menyatakan argumentasinya bahwa warga mengalami tindak kekerasan dan intimidasi oleh pihak yang ingin memuluskan pembangunan bandara.

“Pada dasarnya saya tidak menolak pembangunan bandara, tapi saya sangat menolak pembangunan bandara bila pembanguan ini dilakukan dengan cara kekerasan atau dengan cara pemaksaan. Kita tidak menolak bandara, tapi sangat menolak bandara,” ujar Imam Aziz.

Proses pembangunan bandara, tambahnya, harus sesuai aturan hukum yang telah ada. Namun dalam pratiknya proses pembangunan bandara kerap menabrak aturan yang berlaku.

Imam Aziz menegaskan bahwa segala sesuatu harus berdasarkan aturan hukum. Apabila terdapat hal-hal yang bersifat melanggar hukum, pelaku harus diadili dengan aturan hukum yang ada.

Acara istighotsah ini dihadiri oleh Ketua PBNU H Imam Aziz, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, Lembaga Kajian Islam, Jaringan Gusdurian Yogyakarta, dan juga ratusan petani yang lahannya terkena dampak pembangunan bandara.

Pascaistighotsah, mereka menyusuri lokasi yang akan dijadikan bandara. Lokasi-lokasi tersebut dianggap gersang dan tidak subur, tetapi faktanya sangat subur dan memberikan banyak hasil pertanian.

Warga Wahana Tri Tunggal (WTT) tetap menolak pembangunan bandara Kulon Progo karena pembangunan dilakukan di atas lahan produktif dan menjadi tumpuan hidup warga terdampak pembangunan bandara.

“Kalau digusur, kita akan tinggal di mana dan makan apa? Sementara lahan yang ada saat ini adalah lahan yang sangat produktif,” ujar Ketua Wahana Tri Tunggal Sumartono. (Fatin-Autad/Alhafiz K)