::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Jangan Meremehkan Madrasah

Rabu, 16 Maret 2016 08:23 Opini

Bagikan

Jangan Meremehkan Madrasah

Oleh Ruchman Basori 

Bertahun tahun posisi dan peran madrasah kerap di kesankan sebagai pencetak orang yang hanya bisa ngaji, memimpin doa, tahlilan atau atribut-atribut lain yang berkutat pada bidang keagamaan (tafaqquh fiddin). Madrasah ditahbiskan sebagai pencetak ahli agama, sebagai bengkel moral dan spiritual. Anak-anak yang sering bandel, terkena narkoba, sering tawuran dan berbuat onar itu dititipkan di madrasah untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan akhlak yang cukup.

Seiring dengan waktu dan penguatan regulasi pendidikan nasional, kini madrasah diposisikan sebagai “sekolah umum” berciri khas Islam. Artinya, apa yang dipelajari di SD, SMP dan SMA/SMK sama persis dengan yang dipelajari oleh anak-anak di bangku MI, MTs dan MA. Namun di madrasah mendapat tambahan mata pelajaran keislaman yaitu Aqidah Akhlak, Fiqih, Quran Hadits, Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab sebagai ciri khas keislaman sebagaimana amanat undang-undang.

Pada sisi lain dengan berubahnya status madrasah sebagai sekolah yang berciri khas Islam, kini telah mampu bersaing dengan sekolah umum. Madrasah tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai pendidikan kelas dua. Banyak pakar dari pelbagai kalangan telah mengakui eksistensi madrasah. Bahkan kalangan kampus mulai terkagum-kagum terhadap kualitas mahasiswa yang berasal dari madrasah dan pondok pesantren. 

Dalam dua pekan terakhir ini saya mendapatkan kabar yang menggembirakan dari pelbagai media massa, juga jejaring sosial tentang capaian prestasi siswa dan siswi madrasah. Diantaranya keberhasilan siswa madrasah menjuarai kompetisi tingkat nasional, regional hingga internasional. Bidang yang dikompetisikan rata-rata adalah capaian sains dan teknologi, seperti penemuan-penemuan (riset) brillian, kompetisi robot, berbagai olimpiade, lomba debat dan lain sebagainya yang berfungsi menajamkan intelektualitas, bakat minat dan rekayasa sosial.

Para Juara Diciptakan

Kebijakan pendidikan Islam oleh Kementerian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam nampaknya telah membuahkan hasil. Siswa/i madrasah telah mampu berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan para siswa sekolah lainnya di tanah air. Hal itu melalui upaya serius kebijakan perluasan akses dan peningkatan mutu madrasah.

Dalam dekade terakhir ini, madrasah telah mengalami lompatan besar. Jika selama ini madrasah terkesan la yamutu wala yahya, kini telah lahir madrasah-madrasah bermutu dan berkualitas. Hal ini sebagai respon tuntutan masyarakat sebagai pengguna pendidikan (user). Menurut Juran, mutu adalah kecocokan penggunaan produk (fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Sementara Crosby (1983) mendefinisikan mutu dengan conformannce to requirement, yaitu sesuai dengan yang isyaratkan atau distandarkan. Adapun Deming, mutu adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar atau konsumen. Ahli lain semacam Feigenbaum, menyebut mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full customers satisfaction) (Nasution, 2001: 15-16).

Madrasah yang bermutu dengan demikian adalah madrasah yang mampu memuaskan pelanggannya yaitu masyarakat. Masyarakat yang kompetitif sangat membutuhkan produk lulusan madrasah yang mampu bersaing secara kompetitif. Secara teknis dapat diterjemahkan bahwa madrasah dituntut untuk bisa bersaing dengan sekolah umum, baik dalam hal capaian nilai UN, memenangkan berbagai kompetsisi dan mempunyai keunggulan karakter. Dengan bahasa lain madrasah yang mampu mencetak para juara adalah madrasah yang dibutuhkan hari ini.

Syahrozad Zalfa Nadia siswi kelas 4 MI Madrasah Pembangunan UIN Jakarta dan Avicenna Roghid Putra Sidik, siswa TK A Madrasah Pembangunan telah mampu menorehkan prestasi di kancah Asia, yaitu menjuarai kategori Soccer Robotic Junior dan kategori Brick Speed pada ajang kompetisi Asian Youth Robot Olympiad (AYRO) 2016. Kedua siswa kakak beradik ini menyabet tiga medali emas, dua medali perak, dan satu medali perunggu. Siswa MP lainnya, Faiz yang mewakili katagori senior meraih medali emas dalam kategori Robot Kreatif. Faiz juga berhasil menyabet medali perak untuk kategori Robot Animasi.

Tak ketinggalan Abdillah Fatwa Sandy, siswa MTsN Malang, berhasil masuk final di ajang Singapura Mathematic Olimpiad (SMO) Tingkat Internasional di Singapura pada Mei mendatang. Sementara siswa/i MAN 1 Samarinda berhasil menjadi Juara I Lomba Debat Bahasa Inggris Tk se-Provinsi Kalimantan Timur. Dalam waktu yang hampir bersamaan, MAN Model Gorontalo juga meraih Juara I Debat Hukum jenjang SMA/SMK/MA Tingkat Provinsi Gorontalo. Para juara ini tentu tidak lahir ujug-ujug, namun melalui pendidikan dan latihan yang sistematis diberikan di madrasahnya oleh para guru yang hebat-hebat.

Dengan ragam capaian yang dihasilkan, madrasah kini telah bermetamorfosis menjadi madrasah pencetak para juara yang tidak dapat diremehkan oleh kalangan manapun. Jika kondisi pembelajaran kondusif, manajemen dan kepemimpinan di madrasah transformatif, kultur akademik dan tata nilai mendukung dan mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya, kedepan tidak mustahil akan mengantarkan sebagai madrasah sebagai pusat keunggulan (center of excellence) yang menjadi kebanggaan tidak hanya bagi Kementerian Agama namun juga masyarakat luas.

Madrasah pencetak para juara juga layak disematkan pada MAN Insan Cendekia Serpong dan MAN IC Gorontalo. Sebagaimana data yang dikumpulkan oleh Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Madrasah, setiap tahun sejak 2004, siswa dan siswi MAN Insan Cendekia Serpong memperoleh sejumlah medali di Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan sering mewakili Indonesia pada Olimpiade Sains Internasional. Diantara prestasi internasional yang telah dicapai adalah medali perunggu di  International Olympiad in Informatics (IOI) ke-24 di Milan, Italia (2012); Medali perunggu di International Geography Olympiad di Krakow, Polandia (2014) dan terakhir medali perunggu pada kompetisi  International Biology Olympiad (IBO) di Aarthus, Denmark (2015). Di bidang sosial, tercatat di tahun 2013 siswa MAN IC Serpong meraih  prestasi sebagai peserta terbaik di 2nd Committee General Assembly pada Moscow International Model United Nations (MIMUN), di Institut Hubungan Internasional Moskow (MGIMO) Rusia. Selain itu, pada tahun 2014, tim cerdas cermat MAN Insan Cendekia Serpong menjuarai Olimpiade Indonesia Cerdas yang diselenggarakan oleh televisi swasta nasional Rajawali Televisi.

MAN IC Serpong juga menorehkan prestasi peringkat ke-2 tingkat nasional hasil Ujian Nasional tingkat SMA/MA (2013). Sukses tersebut disempurnakan dengan keberhasilan 97 persen lulusan MAN IC Serpong tahun 2013 yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit.

Nan, jauh di sana MAN Insan Cendekia Gorontalo pada OSN tahun 2015, meraih satu emas, dua perak, dan empat perunggu. Pada ajang internasional, siswi MAN IC Gorontalo meraih medali  perunggu pada ajang IESO (International Earth Science Olympiad) di Taiwan(2009).

MAN Insan Cendekia Gorontalo, Serpong, dan Jambi setiap tahun meluluskan siswanya dalam Ujian Nasional (UN) dengan taraf A. Lebih dari 90 persen dari mereka yang melanjutkan pendidikan di PTN maupun Perguruan Tinggi Luar Negeri. Hingga saat ini mayoritas alumni di dalam negeri melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, Institut Pertanian Bogor, dan beberapa universitas negeri lain. Untuk luar negeri, negara tujuan belajar dengan jumlah alumni paling banyak adalah Jepang.

Memang, keberhasilan madrasah tidak hanya ditentukan oleh nilai atau prestasi akademik. Namun tolak ukur ini bisa dijadikan pegangan sejauhmana alumninya mampu memasuki perguruan tinggi ternama. Dari data yang ada, 97 persen lulusan MAN IC Serpong (1998-2013) diterima di PTN, sebagian besar melalui jalur tes tulis SBMPTN. Mereka tersebar di PTN bergengsi di tanah air yaitu: ITB 33 persen, UGM 20 persen, UI 16 persen, UNPAD 8 persen, PTN lainnya 18 persen, dan PTS 5 persen. Sedangkan alumni di perguruan tinggi luar negeri antara lain: Jepang 42 persen, Jerman 14 persen, Malaysia 14 persen, Singapura 8 persen, Amerika 7 persen, Mesir 7 persen, Korea 5 persen, Australia 2 persen, Rusia 1 persen.

Tidak berbeda jauh dengan itu, alumni MAN Insan Cendekia Gorontalo mampu menembus 10 PTN papan atas yaitu Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanudin, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan Institut Sepuluh November.

Para juara juga lahir dari madrasah-madrasah berbasis pondok pesantren melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama RI. Lulusan Madrasah yang mendapatkan beasiswa PBSB Kemenag RI yang menempuh studi pada ITS Surabaya, kini melanjutkan prestasinya melanjutkan studi S2 melalui Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan, diantaranya Mansur Maturidi pada Georgia Institute of Technology, Fia Mahanani dan Fadli Aziz, University of Manchester, Indra Lukmana, Belanda, M Faqih Hamami, UGM. Diantara yang mendapatkan beasiswa LPDP di ITB adalah Iqbal Ahmad Dahlan, Khoiron, Amelinda Pratiwi, Sitatun Zunaidah dan Nasrul Millah. Sedangkan Fadli Adhim, diterima di almamater yang sama yaitu ITS.

Berburu Sang Juara

Mencetak para juara yang lahir dari garba pendidikan madrasah harus dengan langkah-langkah afirmatif, sistemik, semangat, daya juang serta kebijakan dan program brilian. Hanya dengan mengandalkan madrasah tidaklah cukup apalagi hanya dengan mengandalkan anak-anak madrasah sebagai “pemain alam”.

Negara melalui Direktorat Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama harus turun tangan, hadir dan menjadi bagian sistem mencetak para juara. Tidak hanya ikut bangga dan memberikan selamat kepada sang juara, namun harus disertai dengan kebijakan dan program yang memungkinkan lahirnya bibit-bibit unggul sebagai kader multitalenta. Salah satunya melalui program berburu calon-calon juara ke pelosok-pelosok negeri yang dilanjutkan dengan short course, pelatihan dan persiapan kompetisi sains, sosial, humaniora, riset, maupun pengembangan bakat minat seni dan keahlian.

Pada saat yang sama pemerintah harus memfasilitasi sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh madrasah agar pengembangan bakat dan minat tergali dengan baik. Tentu juga diikuti dengan pemberian fasilitas anggaran yang memadahi karena biaya yang cukup mahal mengikuti ajang kompetisi adalah pembiayaan. Langkah menggelar kompetisi sains madrasah, aksioma dan lomba robot, barulah bagian kecil ikhtiar Kementerian Agama memberikan kesempatan para siswa madrasah.

Sekali lagi para juara harus diciptakan dan dilahirkan, bukan dibiarkan begitu saja. Komitmen, kemauan dan sekaligus keberanian para pemimpin sangat dibutuhkan agar madrasah yang hari-hari ini sedang mekar bisa berkembang dengan baik. Apresiasi tidak cukup dengan pemberian selamat, namun perlu diikuti dengan komitmen kuat membuat terobosan agar calon-calon juara terdidik dan terlatih dengan baik mengembangkan talentanya.


Penulis adalah Sekretaris Jenderal PMU MAN Insan Cendekia dan Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta