::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pentaskan Babi dan Monyet, Grup Teater SMK Fadlun Nafis Juara Lomba Qashasul Quran

Sabtu, 02 April 2016 00:01 Daerah

Bagikan

Pentaskan Babi dan Monyet, Grup Teater SMK Fadlun Nafis Juara Lomba Qashasul Quran
Jepara, NU Online
SMK Fadlun Nafis Desa dan Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara berhasil menjadi menjuarai Lomba Qashasul Quran yang dihelat oleh Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jepara di Gedung NU setempat, Kamis (31/3). SMK yang baru berdiri dua tahun ini berhasil menjadi yang tebaik dari 6 grup yang lain.

Sekolah kejuruan yang dikepalai Akhmad Efendi ini memperoleh skor 576. Sementar terbaik kedua Pesantren Balekambang Jepara dengan nilai 562. Sedangkan juara ketiga diraih Pesantren Hasyim Asyari Bangsri Jepara dengan skor 550.

Dalam kegiatan yang awalnya diikuti 14 tim dan saat hari H setengah peserta mengundurkan diri, SMK Fadlun Nafis mengangkat kisah Monyet dan Babi.

M Mizan Syaroni selaku penanggung jawab pentas menyatakan kisah itu terinspirasi dari Al-Maidah ayat 60. Tema yang diangkatnya tentang keserakahan. Contoh keserakahan yang dimaksud kaum Bani Israil sering mengubah hari ibadah. Saking serakahnya Allah SWT menyabda mereka menjadi seekor monyet dan babi.

Drama yang diambil dari penggalan Al-Quran yang diperankan 8 siswa ini yang dibumbui banyolan segar sehingga menjadikan grup itu menjadi juara.

Tiga dewan juri Tohar (Seniman), Kiai Habib (Agamawan) serta Oki Setiawan (Seniman) menyatakan mengisahkan cerita dalam Al-Qur’an tidak hanya sekadar menyampaikan keindahan yang menarik.

“Penyampaikan isi yang disampaikan harus sesuai dengan realita. Karena ini bentuk dari dakwah,” urai Oki.

Sehingga esensi yang disampaikan harus apa adanya. Wakil Ketua Lesbumi PCNU Jepara ini menilai semua peserta yang tampil luar biasa. Peserta boleh saja mengadaptasi kultur Timur Tengah maupun khas Nusantara asalkan mereka juga harus siap bertanggung jawab dengan apa yang dipentaskan.

Dalam pentas ini ada dua yang diangkat. Pertama, soal etika, layak tidaknya sebuah adegan dipertontonkan. Kedua, estetika, keindahan.

Ia mencontohkan bagaimana pemeran memerankan sosok Nabi. Tentu baginya wajib diperankan sesosok imajiner. Kolaborasi beraneka bahasa juga tidak masalah asal yang penting digarisbawahi esensi yang ditampilkan tidak hilang.

H. Hisyam Zamroni, Wakil Ketua PCNU Jepara dalam sambutannya menyebutkan lewat lomba qashasul quran merupakan menyampaikan mauidloh hasanah lewat tetenger (contoh).

Karena itu, peran yang dilakukan tidak boleh melenceng. “Kalian memerankan Fir’aun, Musa, Sulaiman, Bilqis maupun Qarun tidak boleh melenceng dari peran yang sesungguhnya,” jelas Hisyam.

Agar tidak melenceng, butuh penghayatan mendalam saat melakonkan tentang sosok yang diperankan. “Kembangkan terus prestasi kalian. Teruslah melangkah untuk menggapai prestasi yang terbaik,” pesannya kepada seluruh peserta.

Ketua panitia Sholikhul Huda memaparkan, tujuh peserta yang tampil ialah MA dan Pesantren Hasyim Asyari Bangsri, Pesantren Balekembang, SMK Fadlun Nafis Bangsri, MA Mathalibul Huda Mlonggo, Madrasah Athfal Islam Pecangaan, serta Pesantren Hadziqiyah. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)