::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Akhir Ramadhan Masih di Jalan, Zakat Fitrahnya di Mana?

Selasa, 05 Juli 2016 09:00 Syariah

Bagikan

Akhir Ramadhan Masih di Jalan, Zakat Fitrahnya di Mana?
Ilustrasi (metrotvnews)
Menurut berita yang beredar luas, sebagian pemudik terjebak kemacetan di tengah jalan hingga berjam-jam. Tidak menutup kemungkinan jika ada di antara mereka yang akan mendapati tenggelamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan dalam arti lain persis maghrib pada malam 1 Syawal 1437 H atau bertepatan dengan hari Selasa, 5 Juli 2016 masih berada di tengah jalan.

Selain itu, juga ada sebagian masyarakat lain yang memang sengaja berlebaran di perantauan, baik dari para santri, kaum pekerja dan lain sebagainya. Maka bagi siapa pun juga di mana pada waktu maghrib 1 Syawal (waqtul wujub) berada di salah satu daerah tertentu, zakat fitrahnya harus dikeluarkan kepada mustahiqqin (orang yang berhak menerima zakat) setempat yaitu di daerah di mana dia berada saat itu.

Sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Syekh Nawawi al Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain, halaman 182:

أما زكاة الفطر فمحل الوجوب هو الذى غربت شمس آخر يوم من رمضان والشخص فيه

"Adapun zakat fitrah, posisi kewajibannya adalah pada saat matahari tenggelam pada akhir bulan Ramadhan sedang orang itu berada di dalam suatu tempat di mana ia berada."

Referensi ini juga didukung oleh banyak pendapat Syafi’iyyah, di antaranya juga disebut pada redaksi kitab lain, Itsmidil ‘Ain:

تجب زكاة الفطر فى الموضع الذى كان الشخص فيه عند الغروب

"Zakat fitrah wajib (dikeluarkan) di tempat di mana seseorang berada pada saat matahari tenggelam."

Adapun mengeluarkan zakat di luar daerah di mana ia berada pada saat matahari tenggelam pada akhir Ramadhan menurut pendapat mayoritas ulama tidak diperbolehkan. Sebagaimana diungkapkan dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin yang dikutip dalam Ahkamul Fuqaha’, halaman 161-162 adalah sebagai berikut:

الراجح فى المذهب عدم جواز نقل الزكاة واختار جمع الجواز كابن عجيل وابن الصلاحوغيرهما. قال ابو مخرمة وهو المختار اذا كان لنحو قريب. واختاره الرويانى ونقله الخطابي عن اكثر العلماء وبه قال ابن عتيق فيجوز تقليد هؤلاء (مسئلة ي ك) لا يجوز نقل الزكاة والفطرة على الاظهر من اقوال الشافعي، نعم استثني فى التحفة والنهاية ما يقرب من الموضع ويعد معه واحدا وان خرج عن السور. زاد ك و ح. قال فالموضع الذى حال الحول والمال فيه هو محل اخراجه هذا ان كان قارا ببلد وان كان سائرا ولم يكن نحو المالك معه جاز تأخيرها حتى يصل اليه والموضع الذى غربت الشمس والشخص به هو محل اخراج فطرته

"Pendapat madzhab (Syafii) yang paling unggul tidak memperbolehkan pemindahan zakat ke daerah lain. Sekelompok ulama memilih diperbolehkan pemindahan zakat seperti pendapat Ibnu Ujail dan Ibnu Shalah. Yang lebih baik menurut Abu Makhramah adalah (kebolehan memindah zakat) untuk daerah yang dekat. Pendapat ini juga dianut oleh Imam Ar Rauyani, Al Khattabi, Ibnu Atiq dan sebagian besar ulama, maka boleh mengikuti mereka itu.

Menurut salah satu pendapat Imam As Syafii yang lebih memilih shahih, tidak diperkenankan memindah zakat (maal) dan fitrah. Dalam kitab Tuhfah dan Nihayah terdapat pengecualian untuk daerah yang berdekatan dan masih dianggap satu walaupun di luar perbatasan.

Daerah tempat perputaran harta merupakan tempat pengeluaran zakatnya. Hal ini jika ia menetap di suatu tempat sedangkan ia bepergian maka boleh mengakhirkan zakat sehingga sampai ke tempatnya. Dan daerah terbenamnya matahari dan orang yang berada di sana merupakan tempat pengeluaran zakat fitrahnya."  

(Ahmad Mundzir)