::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Perjalanan Kekasih

Ahad, 07 Agustus 2016 18:03 Cerpen

Bagikan

Perjalanan Kekasih
Oleh Muyassarotul Hafidzoh
Tatapannya menghujani langit, cahaya dari matanya mampu membuat bintang tersipu dan bulan bersembunyi di balik awan. Malam begitu hening, bahkan terlalu hening. Baginya ini tidak baik, ini bukan hal yang diharapkan Sang Penguasa, Maha Segalanya, bahkan tatapannya pun akan tunduk dan tak mampu menengadahkan dagunya.

Keheningan malam terkesan menjadi sebuah kemalangan bagi manusia. Dia berpikir, aduhai... betapa terlenanya manusia-manusia di sini, tak adakah getaran dada yang menyesakkan napas mereka? Atau mereka mencoba menahannya? Bukankah sangat jelas para malaikat-malaikat tersebar di bumi ini, mereka tak disambut, mereka terlupakan, dan mereka dibiarkan lelah mencari manusia istimewa.

Mulut laki-laki itu masih basah dengan lafal-lafal yang begitu indah dan menggoda. Pujian bagi Sang Penguasa, doa dan salam bagi manusia istimewa megalir dalam darahnya, mengembuskan kesejukkan di setiap pori-porinya.

"DDUUARRR"

Suara hantaman yang cukup keras menghentikan kedua bibirnya. Pintu pun terbuka. Getaran nadinya semakin menguat, lemah tanpa daya. Beberapa saat, dia mengingat kesalahan yang pernah dilakukannya. Mengingat dosa yang kumal dan nyinyir. Ketakutan merasuki sekujur tubuhnya. Melewati hatinya yang masih bertasbih, tangisannya terpecah menggegerkan heningnya malam. Penyesalan, penderitaan mengantarkannya pada pertaubatan. Dia berjanji kepada Sang Penguasa, tanpa kecuali bahkan tanpa syarat, lantunan pertaubatan beterbaran. Tetasan tangisannya jatuh di atas tanah. Tanpa dia ketahui, si tanah kemudian mengucap doa untuknya, doa pertaubatannya. Si tanah merasa begitu nikmat dan bahagia, tetesan tangisnya menjadikan si tanah merasa sangat beruntung. Hingga bertanya kepada para malaikat.

"Air mata seperti apakah ini, yang diciptakan Sang Maha?" para malaikat menjawab dengan penuh senyuman, senyum yang pernah dia berikan pada Adam setelah menangis selama ratusan tahun. "Tak ada air yang indah, nikmat dan lezat yang Sang Pengasih ciptakan melebihi air mata pertaubatan. Karena mereka bisa akan mampu menghapus dosa-dosa yang bacin. Memberi energi ruh atas ridha-Nya merasuk dalam darah manusia itu, menyingkirkan hasutan, kekejian dan kedurjanaan nafsu amarah."

Si tanah masih merasa penasaran, "Hanya manusia inikah yang mendapatkan kenikmatan itu? Aduhai, alangkah beruntungnya." Malaikat pun kembali menjawab dengan senyuman. "Semua, semua manusia yang mengenal dirinya sendiri, maka mereka melangkah untuk mengenali Sang Pemurah." Tanah pun memahami dan dia yang mereka bincangkan itu masih terus menangis sepanjang malam.

***

Setelah kejadian di malam itu, hatinya kian semakin lembut, cintanya lebih dalam, dan matanya sangat mudah menjatuhkan hujan air, dan membasahi sekelilingnya. Banyak benda, daun, cacing, burung dan semut yang mengharapkan tetesan itu.

Kembali heningnya malam menggulati wilayah ini. Kembali resah yang ada dalam dirinya. Sungguh kasian para malaikat kembali dibiarkan mencari manusia istimewa yang mau menyambutnya. Dia kembali menyalahkan manusia yang terelena, terlelap, dia merasa beruntung karena dia menjadi manusia yang mewarnai malam, bersama hujanan doa para malaikat. Menyambut malaikat, dan berharap mereka memilihnya menjadi manusia istimewa di hadapan Sang Penguasa.

Seketika, jantungnya merasa sakit, nafasnya terengah-engah, lutut bergetar, bahkan jari tangan tak mampu dia genggam. Dia memejamkan mata menahan rasa mengerikan ini. Namun, dalam pejamannya, dia melihat cahaya yang menyinari tulisan indah, sebuah pertanyaan besar dalam benaknya. Ya musabbibul asbab. Segera dia membuka matanya dan bersujud, bersimpuh, kembali dengan air mata indah yang diciptakan Sang Pengasih untuknya.

Kini, dia merasa semua yang dia pikirkan bukan kehendaknya untuk mengira-ngira, menyalahkan manusia lain, ataupun membenci apa yang manusia lain lakukan. Bahkan bagi dirinya sendiri, dari semua apa yang dirinya lakukan. Sujudnya begitu lama, begitu lemah dan hina di hadapan Sang Penguasa. Semua atas kehendak-Nya.

"Aduhai.... Dzat yang ku cinta, yang kutakuti dan yang ku idam-idamkan. Semua milik-Mu, semua kehendak-Mu." Tetesan air yang jauh lebih indah kembali menetesi si tanah.

"Inikah, inikah manusia istimewa?" Tanya si tanah pada malaikat. "Ya, mereka dan termasuk dia, menjadi manusia yang dipilihNya."

"Apa rahasianya wahai makhluk tanpa nafsu, ciptaan Sang Pemurah?"

Malaikat pun menjawab, "Tarku al-iktisab iktifaan bi musabbib al-asbab. Tidak untuk semua manusia, hanya yang istimewa yang mampu memilikinya. Manusia pilihan."

***

Berbeda dengan malam sebelumnya, malam ini lebih menegangkan. Cintanya kepada sang Penguasa, benar-benar membuatnya ingin menyaksikan keindahan-Nya. Keinginan untuk menghadirkan kekasihnya dalam segala yang dipandang dan dirasakannya, mencoba menghilangkan segala benda-benda, mencoba untuk menyimbolkan mereka semua, hanya menancapkan keinginan bersama-Nya. Dia berusaha keras melakukan itu, mencoba menenangkan hati dan pikirannya, membenarkan lafal-lafal indahnya, mengirim bunga-bunga doa bagi kekasih Sang Pengasih, manusia mulia, cahaya di atas cahaya. Cahaya yang diciptakan sebelum Sang Pencipta menciptakan dunia seisinya. Semua usahanya terasa masih dangkal, hatinya tak mampu menerobos hakikat. Tak kuasa, semakin keras usahanya semakin lemah dirinya, hingga tersungkur dalam sujud tanpa kesadaran. Terpejam cukup lama, dia bahkan tak merasakan aliran darahnya, atau hembusan nafas, atau detakan jantungnya. Dia tak sadar semua itu, layaknya Musa yang lunglai tak kuasa menerima kedatangan Sang Pembebas.

Tanah yang tersentuh dahinya, ikut merasa berat. "Apakah yang tejadi, kenapa dengan diri manusia istimewa ini?" tanyanya pada malaikat.

"Tak seorangpun mampu menyaksikan kehadiran Sang Penghidup. Bahkan manusia istimewa sepertinya pun, tak mampu."


*Terinspirasi dari kisah Syaikh Dzunnun al-Mishri, dalam kitab Nafahatul Unsi min Hadharatil Qudsi karya Mulla Nuruddin 'Abdurrahman al-Jami.