::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Membaca Sekitar, Membaca Kalam Tuhan

Selasa, 09 Agustus 2016 15:00 Opini

Bagikan

Membaca Sekitar, Membaca Kalam Tuhan
Oleh Munandar Harits Wicaksono

Karen Amstorong, seorang orientalis dalam bukunya “Muhammad, prophet for our time” memberikan prolog yang cukup menarik pada pasal ketiga puluh delapan bab pertama. Menukil dari kitab-kitab sejarawan Muslim yang berdasarkan kumpulan riwayat hadits Nabi Muhammad ataupun tidak, ia dengan baik mengisahkan prosesi turunnya wahyu pertama pada peristiwa yang masyhur di sebuah gua pinggiran kota Makkah.

Dalam pasal tersebut ia mengatakan “pada saat sedang menyendiri di gunung Hira tahun 610 inilah Muhammad mendapatkan visi yang mengejutkan dan dramatis. Kata-kata yang keluar, seakan-akan dari dalam wujudnya, menjangkau akar persoalan di Makkah. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang maha menciptakan (1) menciptakan manusia dari sebuah embrio (2) bacalah, dan Tuhanmulah yang maha mulia (3) yang mengajar dengan pena (4) mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya (5)”

Titik fokus dalam artikel ini adalah kalimat Amstrong yang berbunyi “menjangkau akar persoalan di Makkah.” Amstrong dengan seksama mampu mengaitkan ragam dimensi dan problema dengan sudut pandang lain dalam memandang ayat tersebut. Hal ini jarang sekali kita temui dalam buku-buku sejarah Islam klasik.

Tuhan, dengan segala kebijaksanaannya menyebutkan kata “membaca” pada ayat yang pertama kali Ia turunkan. Ia tidak menyebutkan kalimat pertama shalli (shalatlah), atau isyhad (bersyahadatlah), akan tetapi iqra’ (bacalah). Sebegitukah pentingnya membaca?

Memang, bila merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, membaca memiliki makna “melihat dan memahami sebuah tulisan.” Akan tetapi dalam khazanah kajian ilmu ushul fiqh kita akan menemui pembahasan lafal hakikat dan majaz. Makna yang sebenarnya maupun makna bayangan.

Penggunaaan lafal semacam ini diperbolehkan oleh ulama tersohor asal Mesir. Dalam bukunya “Lubbul Ushul fi Syarh Ghoyatul Wushul”, Zakaria al-Anshori memberikan pandangan akan hal ini. Ia memperbolehkan penggunaan ke dalam dua maknanya dengan catatan lafal tersebut dianggap majaz secara umum.

Berkaca pada pendapat di atas, membaca tidak terbatas pada tulisan saja. Ia merupakan replikasi dari kegiatan mengamati segalanya. Inilah yang coba ditekankan Tuhan dalam ayat-Nya.

Lalu apa maksud dari “akar persoalan di Mekkah” yang coba Amstrong tekankan dengan kegiatan membaca?

Persoalan pertama yang coba diuraikan Amstrong dalam ayat-ayat itu adalah konsep ketuhanan. Satu hal lain yang dianggap fundamental bagi kehidupan manusia. Dalam bukunya, Amstrong mengatakan “ayat ini sejalan dengan keyakinan Quraisy. Bahwa Allah telah menciptakan mereka. Ayat ini menegaskan bahwa ia bukan Tuhan yang jauh dan tidak hadir. Melainkan mengajarkan dan memandu makhluknya, sehingga mereka mesti datang kepada-Nya.”

Tidak bisa dipungkiri, Quraisy sebagai suku di mana Muhammad dibesarkan masih mengimani bahwa Allah-lah tuhan mereka dan Allah pula lah yang menciptkan mereka. Tetapi, disebabkan oleh fanatisme buta dan kejahiliyahan lainnya mereka membuat patung yang dijadikan perantara untuk beribadat kepada tuhannya.

Dengan ayat ini, Tuhan mengingatkan untuk membaca dan menelaah secara seksama segala hal. Mulai dari alam, politik, dan sosial yang kemudian mengembalikan segala itu kepada pencipta-Nya. Singkat kata, kita harus mengingat Tuhan ketika melihat fenomena di sekitar.

Persoalan kedua yang disinggung secara tidak langsung oleh Amstrong adalah problem sosial-antropoligi di masa itu. Sesuai namanya, masa itu disebut sebagai masa jahiliyah (era kebodohan). Ia tidak mutlak sebagai bodoh dalam arti sempit. Akan tetapi kebodohan yang dimaskud adalah demoralisasi yang terjadi di jazirah Arab masa itu. Seorang ayah akan tega mengubur hidup-hidup anak wanitanya karena merasa malu. Seorang anak akan lancang mengawini ibu kandungnya saat sang ayah sudah tidak ada. Kebobrokan moral masa itu begitu nyata di depan mata Nabi Muhammad.

Maka dengan ayat ini, tuhan menyinggung pembacanya untuk lebih kritis dengan segala hal yang ada di sekitar. Untuk tidak apatis saat demoralisasi menggerogoti sendi-sendi kemasyarakatan. Bahkan lebih jauh, konteks ini akan bisa kita bawa pada era kekinian. Ya, saat ketuhanan tak lagi menjadi problema dengan sempurnanya syariat. Dengan aspek toleransi dan keimanan sudah bisa dimenejemeni secara nyata. Problem yang tersisa hanya satu. Bahwa ketidak meratanya kesejahteraan masih saja ada di indonesia, bahwa ribuan orang dicabut hak-haknya memperoleh pendidikan di Turki, bahwa pabrik semen hanya akan menyusahkan warga Rembang, maka ingatlah selalu bahwa kalam tuhan itu abadi. Bacalah hai manusia! Bacalah apa yang ada di sekitarmu!


Penulis adalah alumnus MAPK MAN 1 Surakarta, saat ini tercatat sebagai mahasiswa universitas Al-ahqoff, Hadramaut Yaman. Dapat dihubungi melalui akun Twiter @Munandar1