::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kisah Dua Ajengan dari Tanah Pasundan

Rabu, 10 Agustus 2016 13:01 Nasional

Bagikan

Kisah Dua Ajengan dari Tanah Pasundan
Foto: ilustrasi/tanah pasundan
Subang, NU Online 
Diantara ulama nusantara yang lahir di tanah pasundan adalah KH Ahmad Zakariya atau lebih dikenal dengan sebutan Mama Rende Bandung dan KH Tubagus Ahmad Bakri atau Mama Sempur Purwakarta. Kedua ulama karismatik ini punya kisah menggelitik sebagaimana diungkapkan KH Nawawi, Pabuaran, Subang.

"Waktu 'mesantren' di Mekkah, Mama Rende seniornya Mama Sempur," ungkap Kiai Nawawi beberapa waktu yang lalu.

Suatu hari, kata Kiai Nawawi, Mama Sempur hendak mempelajari sebuah kitab, namun sayangnya ia tidak mempunyai kitab tersebut. Hingga akhirnya Mama Sempur sowan kepada Mama Rende. "Di sana Mama Sempur menemukan kitab yang dicari, akhirnya Kitab tersebut dipinjam oleh Mama Sempur," tambah mantan Rais PCNU Subang itu. 

Suatu hari, kata dia, Mama Rende hendak membaca kitab ini, ia baru ingat bahwa kitabnya masih dipinjam oleh Mama Sempur, hingga akhirnya Mama Rende mengajak santrinya bernama Mansur untuk silaturahim ke Sempur, Purwakarta.

"Sampai Sempur sudah malam, Mama Rende tidur di bawah bedug. Santri Mama Sempur kaget karena saat hendak menabuh bedug subuh, ada seseorang yang tidak dikenal, barulah diketahui bahwa orang tersebut adalah Mama Rende, sahabatnya Mama Sempur," ujarnya.

Ditambahhkannya, usai shalat subuh keduanya mengobrol, Mama Rende mengeluarkan bako mole, melinting lalu merokok. Sesaat kemudian sambil guyon Mama Sempur menyindir Mama Rende karena merokok.

"Masih merokok, ajengan?" kata Kiai Nawawi meniru pertanyaan Mama Sempur.

Pertanyaan tersebut dianggap cukup menohok, karena diketahui Mama Sempur bukanlah perokok aktif, tanpa pikir panjang, Mama Rende pun akhirnya menjawab. "Lebih baik merokok daripada pinjam kitab tapi tidak dipulangkan," jawab Mama Rende.

Usai saling melontarkan sindiran, kedua ulama tersebut kemudian melanjutkan obrolan namun tetap dalam susana keakraban. "Saya tahu cerita ini dari ajengan Mansur, dulu dia sering ke sini, dia santri yang ikut mengantar Mama Rende ke Pesantren Sempur,” kata Kiai Nawawi menutup kisahnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)