::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KPAI: Pelaku dan Germo Gay Anak Bisa Dihukum Mati

Kamis, 01 September 2016 15:54 Nasional

Bagikan

KPAI: Pelaku dan Germo Gay Anak Bisa Dihukum Mati
Jakarta, NU Online
Ketua Komisi Perlidungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Sholeh mengapresiasi keberhasilan bareskrim Mabes Polri dalam mengungkap kasus prostitusi gay dengan korban anak di Bogor, Jawa Barat. Hal itu menurutnya sebagai wujud perlindungan anak. KPAI bersama Tim Bareskrim kemudian melakukan koordinasi penanganan kasus tersebut.

"Tidak sedikit komunitas para gay berkembang dan menyasar anak sebagai korban. Bahkan kemudian ada komunitas anak, salah satunya komunitas Gay Brondong yang berada di Bogor ini," ujar Niam di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (31/8).

Kasus ini harus menjadi alarm bagi kita soal seriusnya ancaman kejahatan seksual yang bentuknya semakin beragam, termasuk homoseksualitas dan gay berbayar. Berdasarkan pengembangan penyidikan, korban mencapai 99 orang dari satu germo.

"Ini jumlah yang sangat fantastis. Fakta ini perlu membangkitkan kesadaran kolektif kita bahwa ancaman kejahatan seksual itu sudah sangat serius," tegasnya.

KPAI melihat anak-anak yang jadi korban harus segera memperoleh rehabilitasi dan pemulihan agar tidak terus dalam kemenyimpangan seksual. Anak yang diamankan, secara umum kondisinya sehat, dan merupakan laki-laki sejati, tetapi karena lingkungannya, kemudian terjerumus dalam kemenyimpangan. Perlu langkah cepat untuk pemulihan agar tidak terus dalam kemenyimpangan. Jika tidak ditangani serius, potensial untuk menjadi pelaku.

Menurut dia, germo yang jadi pelaku serta kaum gay yang jadi pelanggannya perlu dikenakan pasal 81 Perppu 1/2016 tentang perubahan atas UU Perlindungan anak, yang mengatur hukuman pidana hingga hukuman mati, hukuman seumur hidup, atau penjara minimal 10 maksimal 20 tahun. Pelaku adalah residivis yang atas kejahatan serupa, korbannya lebih dari satu sehingga terpenuhi unsur untuk pemberatan.

“Si pencabul harus dikejar. Ini ada semacam manajemennya. Jaringan dan sindikatnya harus dibongkar," ujar Dosen Pascasarjana UIN Jakarta ini.

Kejadian tersebut, lanjutnya, harus dijadikan momentum perang total terhadap kejahatan seksual. Modus kejahatan seksual semakin beragam, mulai perkosaan, trfficking, pencabulan, sodomi, hingga prostitusi gay. Ini fenomena gunung es, yang harus ditangani secara utuh. Pencabulan sesama jenis telah merusak masa depan dan mental anak. Fisik dan psikis anak dirusak atas nama kebebasan

"Pencabulan sesama jenis akan melahirkan dampak yang jauh lebih berat karena disamping fisik dia merusak mental.Ini harus dijadikan momentum untuk perangi kejahatan seksual pada anak, sekaligus wujud kongkrit dukungan atas kebijakan Presiden yang menegaskan kejahatan seksual terhadap anak sebagai kejahatan luar biasa, dan mempelopori dengan menerbitkan Perppu." (Red: Abdullah Alawi)