::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Memahami Islam Harus dengan Cara yang Luas

Kamis, 01 September 2016 15:59 Daerah

Bagikan

Memahami Islam Harus dengan Cara yang Luas
Kiai Said sedang memberikan tausiyah di hadapan hadirin
Pacitan, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, spirit dan ruh beragama harus selalu ditingkatkan oleh warga Nahdliyin, agar ke depan Nahdlatul Ulama menjadi lebih kuat dan dapat selalu memberi manfaat untuk umat Islam dan bangsa Indonesia. 

“Dalam beragama itu harus kita dalami, kita pahami, kita kaji, pemahaman-pemahaman beragama sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing. Dan kalau sudah paham, diamalkan,” demikian dituturkan Kiai Said saat memberikan ceramah dalam acara Nyantri Bareng Kiai Said dan peringatan HUT ke-71 RI yang digelar oleh PAC GP Ansor NU Ngadirojo, Pacitan, Jawa Timur, Rabu (31/8) malam.

Bagi masyarakat Indonesia, kata Kai Said, memahami agama harus dengan cara yang luas, tidak boleh sempit apalagi hanya cukup dengan nama dan simbol semata. Nilai keislaman harus dikaji lebih dalam. Pemahaman dan sejarah perkembangan Islam harus dipahami oleh masyarakat, agar mampu mempraktikkan ajaran agama dengan baik dan benar.

“Bila warga NU ingin agamanya kuat, maka harus memperdalam ilmu agama, terutama ulamanya, assatidz-nya, para guru-gurunya. Supaya memahami agama semakin luas, semakin aktual dan kontekstual, semakin nyambung dengan kebutuhan zaman sekarang,” kata kiai kelahiran Cirebon itu.

Memahami agama secara benar, imbuhnya, didapatkan dari belajar pada guru-guru yang nasab keilmuannya jelas dan bersambung Rasulullah SAW. Pesantren, menurutnya, merupakan tempat yang tepat untuk belajar agama secara mendalam. 

“Bagaimana ingin paham agama secara benar, kalau masuk pesantren hanya dua minggu. pesantren kilat lagi. Maka tidak mungkin,” jelasnya.

Oleh karena itu, Kiai Said berharap kepada para santri yang saat ini sedang belajar di pesantren, kelak harus mau terjun mengamalkan ilmunya dan berperan untuk membangun masyarakatnya. Berawal dari seorang santri, nanti akan menjadi kiai atau tokoh yang dihormati di kalangan masyarakat karena kapasitas keilmuannya.

“Para santri setelah pinter ngaji, pulang ke rumahnya masing-masing harus mau berjuang. Ayo membimbing masyarakat, Ayo membangun masyarakat. Agar bangsa ini menjadi kuat dan persatunya kuat,” tandasnya.

Selain itu, Kiai Said menyebut, kiai-kiai NU di desa memiliki peran besar dalam merawat tradisi keagamaan warga Nahdliyin. Dengan kapasitas keilmuan yang dimilikinya, kiai kampung mampu berperan membangun karakter masyarakat yang santun, rukun, dan berbudaya.

“Walaupun ilmunya kiai kampung tidak begitu alim, rutinitasnya hanya memimpin tahlil, manaqib, tapi ternyata peranannya begitu besar dalam membimbing masyarakat,” pungkasnya.

Hadir dalam acara tersebut Katib Syuriyah PBNU KH Luqman Harits Dimyathi, Mustasyar PCNU Pacitan KH Umar Syahid, Ketua PCNU H Mahmud, para kiai dan warga Nahdliyin dari saentaro Pacitan.(Zaenal Faizin/Mukafi Niam)