::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Para Mursyid Tarekat Syattariyah Agendakan Pertemuan Nasional

Rabu, 05 Oktober 2016 15:00 Nasional

Bagikan

Para Mursyid Tarekat Syattariyah Agendakan Pertemuan Nasional
Madiun, NU Online
Para mursyid tarekat Syattariyah se-Indonesia dijadwalkan akan berkumpul di Pondok Pesantren Darul Ulum Rejomulyo Barat, Magetan, Jawa Timur, pada 28-30 Oktober 2016. Rencananya, acara bertajuk “Pesamuan Agung Mursyid Syattariyah Nusantara” ini bakal dihadiri sejumlah tokoh nasional maupun mancanegara.

“Insyaallah, kegiatan tersebut akan diikuti 125 mursyid tarekat Syattariyah se-Nusantara, dan Kasultanan Cirebon, serta undangan dari ulama Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, dan Malaysia,” kata Didik Karyanto, wakil ketua panitia, via sambungan telepon, Selasa (4/10).

Forum yang mengusung tema “Peranan Syattariyah dan Tantanganya dalam Sejarah Menuju Kejayaan Masa Depan Umat, Negara dan Bangsa” tersebut juga mengundang Rais Aam Idarah Aliyah Jatman (asosiasi tarekat NU) Habib Luthfi Bin Yahya, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nachrowi, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo.

Pada September kemarin, panitia sudah melakukan rapat persiapan di lokasi acara, Pondok Pesantren Darl Ulum Rejomulyo Barat. Acara ini digelar antara lain berangkat dari keprihatinan para mursyid tarekat atas merosotnya mental bangsa yang ditandai dengan kian maraknya ekstremisme.

KH Muhammad Nurwaji dari Grobogan dalam rapat itu berpendapat, berbagai kasus dekadensi moral, perpecahan umat serta kedangkalan dalam pemahaman agama juga semakin tumbuh subur saja di negeri yang mayoritas Muslim ini.

Beragam usaha, katanya, juga telah dilakukan oleh berbagai pihak baik dengan pendekatan politik, hukum maupun ekonomi. Nyatanya, bangsa Indonesia khususnya umat Islam sebagai kelompok mayoritas masih saja terjebak kepada kepentingan-kepentingan sesaat. Sehingga perlu upaya lain, yakni dengan pendekatan spiritual atau kehidupan sufistik. (Ali Makhrus/Mahbib)