::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Surat Al-Maidah Ayat 51 Menurut Tafsir Jamal

Jumat, 18 November 2016 19:04 Syariah

Bagikan

Surat Al-Maidah Ayat 51 Menurut Tafsir Jamal
Surat Al-Maidah ayat 51 belakangan ini menjadi perbincangan ramai di tengah masyarakat. Hampir semua lapisan masyarakat merujuk ayat ini ketika membahas masalah kepemimpinan dalam Islam.

Banyak tafsir yang bisa ditelaah kembali untuk melihat komentar para ulama terkait Surat Al-Maidah ayat 51 ini.

Salah satunya adalah Tafsir Jalalain. Pada kesempatan ini kutipan berikut tidak diambil dari Tafsir Jalalain, tetapi dari Tafsir Al-Futuhatul Ilahiyah bi Taudhihi Tafsiril Jalalain lid Daqa’iqil Khafiyyah, atau lebih dikenal dengan sebutan Tafsir Jamal.

Al-Futuhatul Ilahiyah adalah salah satu tafsir yang menguraikan mensyarahkan Tafsir Jalalain yang singkat itu. Selain mengutip Tafsir Khazin, penulis Tafsir Jamal mengutip tafsir yang ditulis Abu Sa‘ud sebagai berikut.

قوله يأيها الذين آمنوا، خطاب يعُمّ حكمُه كافةَ المؤمنين من المخلصين وغيرهم. وقوله آمنوا أي ولو ظاهرا. وإن كان سبب نزولها في غير المخلصين فقط وهم المنافقون، كعبد الله بن أبى واضرابه الذين كانوا يسارعون فى موالاة اليهود ونصارى نجران، وكانوا يعتذرون الى المؤمنين بأنهم لا يؤمنون أن تصيبهم صروف الزمان كما قال تعالى يقولون نخشى

Artinya, “’Hai orang-orang beriman’ hukum yang dituju ayat ini menyasar kepada semua orang beriman yang ikhlas maupun yang tidak ikhlas. ‘Berimanlah kamu’ meskipun hanya secara lahir, tidak sampai ke batin. Ayat ini menyasar semua orang beriman meskipun sebab turunnya ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang tidak ikhlas. Mereka adalah orang munafiq seperti Abdullah bin Ubai dan pengikutnya. Mereka inilah yang segera menjadikan orang Yahudi dan Nasrani Najran sebagai pelindung. Mereka sebelumnya menyatakan ‘maaf’ kepada orang-orang beriman bahwa mereka akan melepaskan keimanannya bila peralihan zaman menempatkan orang beriman dalam posisi kalah perang seperti perkataan mereka yang diabadikan dalam Al-Quran, ‘Kami khawatir...’”

Demikian dikutip dari Tafsir Jamal karya Syekh Sulaiman bin Umar Al-Jamal, Darul Fikr, 2003 M/1423 H, Juz 2, halaman 251.

Dari keterangan di atas, Al-Quran mengingatkan bahwa loyalitas ganda sangat berbahaya terutama dalam kondisi konflik. Al-Quran jelas mengecam kelompok munafik di Madinah mencari perlindungan kepada Yahudi dan Nasrani. Mereka yang secara lisan mengaku beriman membangun relasi dengan Yahudi dan Nasrani sebagai alternatif tempat perlindungan ketika zaman tidak berpihak kepada umat Islam. Wallahu a'lam. (Alhafiz K)