NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

PBNU Kecam Kekerasan atas Muslim Rohingya

Selasa, 22 November 2016 12:30 Nasional

Bagikan

PBNU Kecam Kekerasan atas Muslim Rohingya
Tempat Muslim Rohingya di Myanmar. (Newssumedup)
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam tindakan kekerasan yang terjadi terhadap umat Muslim Rohingya yang menimbulkan korban jiwa di sejumlah titik di negara bagian Rakhine, Myanmar. Penegasan tersebut disampaikan melalui pernyataan sikap resmi PBNU.

"PBNU mengecam segala tindakan kekerasan yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Bahwa segala bentuk kekerasan sama sekali tidak dibenarkan," demikian Rais Aam PBNU, KH Ma'ruf Amin, Selasa (22/11).

Ia menyampaikan, tidak ada satupun agama dan ideologi di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan. Umat Islam pada umumnya ikut merasakan kepedihan yang sangat luar biasa atas peristiwa yang menimpa saudara-saudara seiman yang berada di Myanmar.

"PBNU mengajak kepada seluruh kepala negara dan pemimpin negara di dunia untuk proaktif melawan segala bentuk kekerasan. Represi adalah musuh bersama dan harus dilawan sekuat tenaga guna menciptakan upaya perdamaian dan harmoni," tegasnya.

Rais Aam PBNU meminta seluruh umat manusia terus menggalang solidaritas kemanusiaan untuk menciptakan perdamaian bagi segala bangsa.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada kesempatan sama mendesak kepada komunitas internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk segera mengambil langkah-langkah atas peristiwa tersebut, dan mendesak ASEAN untuk meminta kepada pemerintah Myanmar mengakui status kewarganegaraan Muslim Rohingya.

"Pemerintah Indonesia harus mengambil tindakan diplomasi bagi terwujudnya penghormatan atas hak asasi manusia di Myanmar," tandasnya. (Tan Malika/Fathoni)