::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Petuah KH Maimoen Zubair Terkait Kondisi Bangsa Indonesia Saat Ini

Jumat, 02 Desember 2016 04:30 Nasional

Bagikan

Petuah KH Maimoen Zubair Terkait Kondisi Bangsa Indonesia Saat Ini
Jakarta, NU Online
Keshalehan vertikal kepada Allah lahir dari penguatan keshalehan sosial kepada seluruh umat manusia. Sebab itu menurut Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair, habluminallah mesti diperkuat dan habluminannas harus dijaga dengan baik. 

Hal itu diungkapkan oleh Mbah Maimoen untuk merespon sebagian kelompok di Indonesia yang masih gencar menggunakan isu perbedaan agama untuk sebuah kepentingan politik dan golongan. Tentu hal ini bisa memecah belah kerukunan bangsa yang selama ini terjaga dengan baik.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah ini, perbedaan tak perlu dibesar-besarkan karena bisa memicu konflik SARA. Sebab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hidup rukun harus dijaga dengan baik di tengah kemajemukan.

“Perbedaan tak perlu dibesar-besarkan sehingga kita bisa hidup rukun. Yang penting kita umat Islam itu habluminallah harus dikuatkan dan habluminannas harus dijaga dengan baik,” tegas Mbah Maimoen seperti dilansir Majalah Nahdlatul Ulama AULA edisi November 2016.

Kiai sepuh kelahiran Rembang, 28 Oktober 1928 ini mengingatkan kepada rakyat Indonesia akan pentingnya menjunjung dan menjaga keutuhan bangsa dan negara. Hal ini mengingat kerap kali ditemukan orang atau kelompok yang terus berupaya memecah belah bangsa dan menganggu stabilitas negara dengan berbagai upaya.

Sentimen SARA sering dihembuskan sebagai pemicu efektif terhadap kekacauan yang selama ini terjadi. Lain daripada itu, membawa-bawa agama dalam kepentingan politik juga menambah daftar kegagalpahaman sebagian kelompok dalam memaknai dasar negara Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan segala penguatnya.

“Pada masa sekarang ini, sudah tidak ada khalifah. Tidak ada negara Islam. Semuanya negara nasional,” ujar Mbah Maimoen.

Sebab itu ia menuturkan, jika hanya Islam, tidak akan mampu mempersatukan perbedaan di Indonesia. Menurutnya, nasionalisme harus disinergikan dengan keislaman sehingga beda tapi sama, sama tapi beda.

“Dalam perbedaan ada titik-titik kebersamaan. Agama mengajarkan perbedaan tetapi ada titik persamaan, yaitu seluruh agama mengajarkan kebaikan,” jelasnya. (Fathoni)