::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Media Sosial dan Mundurnya Akhlak Kita

Jumat, 02 Desember 2016 15:00 Opini

Bagikan

Media Sosial dan Mundurnya Akhlak Kita
Oleh Ahmad Faizal Amin

Pernah suatu masa, bangsa kita sangat disanjung oleh bangsa lain. Bukan hanya karena kekayaan alamnya, namun juga perilaku kita. Bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang ramah, penuh sopan santun, gotong royong, dan sikap religius yang sangat kuat. Tak heran jika banyak warga asing yang langsung jatuh cinta kepada Indonesia karena melihat bagaimana orang-orang kita yang sangat beragam dapat hidup dengan damai dengan suasana penuh kekeluargaan dan saling menghargai dengan menjunjung tinggi sopan-santun.

Orang jawa menyebutnya sopan-santun ini sebagai unggah-ungguh. Orang arab menyebutnya sebagai adab. Orang Inggris menyebutnya sebagai attitude. Meski berbagai macam sebutan, namun dapat ditarik definisi umum bahwa sopan-santun ini mempunyai arti sebagai sikap menghargai dan menghormati orang lain baik yang lebih mudah, lebih tua, maupun karena posisinya di dunia professional.

Meski bangsa kita dikenal dalam tempo sejarah yang panjang sebagai bangsa yang penuh sopan-santun dan religius. Namun, akhir-akhir ini kita melihat ada sebuah fenomena yang cukup memprihatinkan. Pergeseran pola komunikasi face to face menjadi komunikasi melalui dunia maya sedikit demi sedikit mulai membuat sopan-santun kita juga mulai bergeser. Orang yang dikenal dengan penuh keramahan dan sopan-santun di dunia nyata mendadak menjadi macan yang siap mencengkeram dan menerjang dengan kata-kata yang kasar di media sosial. Caci-maki dan saling lempar umpatan seolah menjadi menu harian yang hampir selalu kita temui di kolom komentar terutama karena perbedaan pendapat dan pandangan terkait isu-isu yang sensitif. Tidak ada lagi batasan umur maupun kedudukan seseorang, asal pendapatnya berseberangan, ya hajar saja.

Yang lebih memprihatinkan akhir-akhir ini adalah fenomena bagaimana ulama kita yang bertahun-tahun belajar, mengaji, kemudian mengajarkan ilmunya ke santri-santrinya dengan mudah diperolok dan dicaci-maki seolah-olah beliau-beliau baru belajar kemarin sore. Ketika seorang yang konon berpendidikan dengan mudahnya menghina sosok ulama kharismatik sekaliber Gus Mus dengan menyebut bagian tubuh yang melambangkan kehormatan dengan sebutan yang amat tidak pantas karena tweet yang berseberangan. Ketika seorang yang notabene lulusan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia dengan mudahnya share foto pribadi wakil ketua Majelis Ulama Indonesia, KH Ma’ruf Amin, dengan caption yang sangat tidak pantas terkait dengan fatwa MUI yang dianggap politis. Atau ketika para santri gugel dengan mudahnya merendahkan sosok ulama besar semacam Prof. Quraish Shihab dan Prof. Syafi’i Ma’arif karena berbeda pendapat dengannya.

Apa yang salah dengan kita? Mengapa bangsa yang dulu dikenal dengan sopan-santunnya dengan sangat cepat berubah menjadi kumpulan orang-orang celelekan dan tidak tahu adab ketika sudah berada di depan layar gadget? Adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita?

Apapun agama kita, di manapun kita belajar, setidaknya kita akan selalu mendapat pelajaran mengenai sopan-santun ini, yang termaktub dalam bab budi pekerti. Di dalam agama Islam, kita menyebutnya sebagai akhlak. Salah satu akhlak tersebut adalah tawadhu’ (rendah hati dan hormat) kepada orang-orang berilmu. Kita akan mudah melihat teladan ini kepada ulama-ulama yang sempat direndahkan ini, salah satu yang paling nyata adalah bagaimana Gus Mus menangis dan memohon bahkan menyatakan bersedia mencium kaki para kiai sepuh untuk menenangkan suasana muktamar NU tahun lalu. Di sinilah kita melihat betapa tinggi rasa tawadhu’ beliau dan seberapa tinggi derajat akhlak beliau.

Bagaimanapun juga agama tidak hanya mengajarkan mengenai akidah, namun juga akhlak. Akidah tanpa akhlak akan membuat orang tinggi hati, merasa dirinya paling mulia hingga merendahkan pendapat orang lain. Akhlak tanpa akidah hanya akan membuat kita bingung dan lupa jati diri kita sebagai muslim, lupa siapa Tuhan kita dan bagaimana kita harus beribadah. Maka, mempelajari keduanya adalah ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi dan tak dapat dipisahkan.

Sungguh amat tidak pantas kita sebagai orang yang beragama dan terpelajar dengan mudahnya merendahkan para ulama. Bagaimanapun juga, akhlak adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan di era social media ini, terlebih jika sudah berurusan dengan ulama. Pun juga dengan orang selain ulama, akhlak juga perlu deperhatikan. Tentu kita tidak mau mendapat masalah di kemudian hari karena ketidakhatihatian kita dalam ber-social media bukan? Tidak sedikit pelajaran yang dapat kita ambli dari teman-teman kita harus berurusan dengan hukum karena salah memanfaatkan social media. Atau beberapa orang harus kehilangan pekerjaan karena menghina orang lain di media sosial yang ternyata merupakan orang atau relasi penting di perusahaan. Atau beberapa orang yang sulit mendapat pekerjaan karena siulan di media sosialnya membuat recruiter ogah merekrut dirinya. Cukuplah kasus mereka menjadi pelajaran bagi kita. Mari lebih bijak dalam dalam ber-social media. Selalu perhatikan adab dalam ber-social media dan selalu berhati-hati dalam menulis. Ingat, lisanmu adalah pedangmu, socmed-mu adalah harimaumu!

Penulis adalah mahasiswa Teknik Geologi UGM; Exchange Student Tohoku University, Japan; anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI)-Sendai, Japan