::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Listrik Mati Lagi

Ahad, 11 Desember 2016 13:03 Cerpen

Bagikan

Listrik Mati Lagi
Oleh Abdullah Alawi
Listrik di rumahku mati berbarengan dengan petir menggelegar. Di luar hujan deras sekali. Ibu memasang lampu teplok yang diletakkan di tengah rumah. Api di sumbunya meliuk-liuk seperti penari ular ketika angin dari luar menembus dinding bilik. Asap hitam mengudara, lalu hilang di langit-langit, seolah menerobosnya.

“Ini minyak tanah terakhir,” kata ibu, “besok kalau listrik mati lagi, rumah kita gelap!”

Ayah tidak menanggapi omongannya. Sedang aku kembali mengisi PR yang sempat tertunda. Kini diterangi temaram teplok.

“Besok tak mungkin antre minyak tanah lagi seperti tetangga, karena uang sudah habis,” kata ibu lagi sambil menyelimuti adik bungsuku, berusia tiga tahun.

Ayah masih terdiam. Entah apa yang dipikirkannya. Tangannya mulai melinting tembakau dengan daun nipah. Padahal biasanya ia merokok kretek. Sekarang barangkali yang penting berasap.

“Beras sudah ludes. Entah makan apa kita selanjutnya?” kembali ibu memberi laporan kondisi dapur sebagai wilayah kekuasaannya.

Ayah belum juga bicara. Dia malah mengisap rokoknya dalam-dalam seolah kalimat-kalimat ibu itu tak berhubungan hidup mati  seseorang.

Di luar hujan masih deras. Namun petir tidak seperti tadi. PR-ku tinggal satu nomor. Mataku perih. Aku berhenti sebentar. Di dinding, dengan pencahayaan teplok, bayangan ayah seperti raksasa sedang mengisap rokok. Asapnya membumbung seperti kebakaran hutan. Ibu yang mengintip nyamuk di kaki adik seperti raksasa akan memangsa orok.
Tiba-tiba listrik menyala. Mataku silau. Ayah dan ibu mengecil seperti semula. Mereka kembali menjadi manusia. Lampu teplok segera dimatikan.

“Ke dapur sebentar!” kata ibu kepada ayah.

Ayah mengikutinya tanpa bicara. Aku mendengar gemeremang mereka membicarakan sesuatu, tapi entah apa.

Kedua adikku sudah tidur nyenyak. Mereka tidak tahu-menahu tentang gelap, terang, teplok, listrik, dan ocehan ibu soal beras dan minyak tanah. Di kaki adikku yang pertama terlihat bekas sapu lidi ketika dia merengek minta dibelikan layang-layang tadi sore. Adikku yang kedua sering dibentak karena ingin ini itu. Keduanya tampak kurus dan tak terurus. Tidak seperti sebelumnya, akhir-akhir ini makan kami dijatah.

Tak lama kemudian, listrik mati lagi. Keadaan gelap kembali. Ayah menyalakan lampu teplok dengan korek api yang selalu tersedia di sakunya. Kembali ayah dan ibu menjelma raksasa.

Cahaya teplok itu bergoyang-goyang rapuh. Sumbunya kikis kehabisan minyak tanah. Lalu mati. Ruangan gelap. Dua raksasa ditelan gelap.

“Kamu tidur sekarang! Bawa adikmu!” kata ibu ketus sambil menunjuk adik pertamaku, berumur 5 tahun.

“PR belum selesai.”

“Sudah, sekarang tidur!”

Aku beranjak ke kamar sambil menggendong adikku. Tubuhnya lebih ringan dibanding beberapa bulan lalu.

Di luar hujan tinggal gerimis saja. Petir sudah lama tak terdengar.

Aku berbaring di kamarku yang gelap. Mata susah dipejamkan. Entah kenapa perasaanku tidak enak dan pikiran meracau kemana-mana. Besok pasti dimarahi pak guru karena PR belum selesai ditambah perutku yang menggeliat-geliat karena lapar. Tiba-tiba pikiranku bertanya, kenapa ibu marah-marah terus? Membicarakan apa di dapur tadi bersama ayah? Kenapa pula adik bungsuku tidak diminta tidur denganku? Tidak biasanya.

Gelap mempercepat kantukku datang. Di antara tidur dan jaga, aku mendengar suara menjerit, lalu sunyi. Sunyi sekali. Karena aku telah masuk ke alam mimpi.

Aku bangun kesiangan. Adikku masih tergolek di samping. Kenapa ibu tidak membangunkanku? Tidak seperti biasanya. Aku menyibak gorden. Pagi sudah terang. Dan, kenapa di tengah rumah terdengar suara tangis sesenggukan? Siapa yang menangis? Terdengar pula suara orang membaca ayat suci perlahan.

Aku segara keluar kamar. Kudapati orang-orang berkumpul di tengah rumah. Sebelum bertanya apapun, aku dibimbing Mak Enah, tetanggaku.

“Aduh, baru bangun ya?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya karena heran dengan suasana rumahku.

“Kenapa banyak orang di rumahku, Mak?”

“Sabar, ya, cucuku, adikmu...!”

***

Setelah peristiwa itu, tak terdengar lagi ocehan ibu tentang beras dan minyak tanah. Kedua benda tersedia berkat sumbangan tetangga. Beberapa bulan cukup untuk makan sekeluarga. Tapi setelah keduanya ludes, ibu kambuh lagi.

Pada suatu malam, listrik mati berbarengan gelegar petir di deras hujan. Pagi harinya Mak Enah menceritakan adikku yang pertama sebagaiman adikku yang bungsu. Aku hanya tertegun, kemudian ingat adikku semalam tak tidur bersamaku.

Setelah itu, ibu pun berhenti mengoceh soal beras dan minyak tanah karena kembali mendapat bantuan tetangga.

Sekarang aku selalu takut jika listrik mati di malam hari ketika hujan. Apalagi jika mendengar ibu marah-marah karena tidak ada beras lagi untuk dimasak. Aku takut esok harinya akan cerita Mak Enah. Aku takut. Takut sekali.

Entah apa hubungannya antara matinya listrik, ocehan ibu karena beras dan minyak tanah, cerita Mak Enah dan sumbangan beras tetangga. Pikiranku tak mampu memecahkan pertanyaan rumit yang kerap hinggap di kepalaku.

***

Malam ini hujan turun lagi. Aku mengingat-ingat apakah siang tadi ibu ngoceh beras? Ya, ibu bilang kehabisan beras dan minyak tanah. Aku harus bertahan jangan sampai tidur malam ini. Aku takut bernasib seperti cerita Mak Enah. Cerita terjadi dalam keadaan gelap setelah beras tak ada lagi.  

Malam semakin larut. Hujan tinggal gerimis saja. Rasa kantuk mulai menyerang. Aku berusaha melek, tapi kepalaku malah terasa berat. Tiba-tiba antara tidur dan jaga, aku mendengar telapak kaki mendekati pintu kamarku yang hanya ditutup gorden. Gorden itu seperti disibak seseorang, disusul seseorang lagi.

Napasku memburu. Dadaku turun naik. Dua sosok mendekatiku.

“Tidak!” jeritku sekerasnya. Aku langsung bangkit.

Pada saat bersamaan, listrik nyala. Mataku silau. Di hadapanku sudah berdiri dua sosok yang matanya silau juga. Keduanya tampak kaget. Dua sosok itu ternyata ayah dan ibu.

“Ada apa?” tanya ayah.

Aku tak menjawab. Napasku terengah-engah.

“Kamu mimpi buruk, ya?” ibu bertanya.

Aku belum menjawab. Tatapanku tertuju pada tangan ayah dan tali yang dipegang ibu. Tak biasanya ibu dan ayah masuk ke kamarku.

“Ada apa?” tanpa sadar aku bertanya.

“Ta...tadi ayah mendengar suara,” kata ayah sedikit gugup, “jendela kamarmu seperti ada yang membuka paksa dari luar. Maka ayah mengendap-endap masuk kamarmu bersama ibu.”

Aku mengingat-ingat apakah tadi aku mendengar suara itu. Sama sekali tidak ingat. Kalaupun ada pencuri, jelas mereka salah sasaran. Tak ada harta yang pantas dicuri di rumah ini.

“Kenapa Ayah malah mendekatiku, bukan jendela, dan buat apa ibu membawa tali?”

Ayah dan ibu terdiam beberapa saat seperti maling kepergok.

“Aku tidak mendengar apa-apa, Ayah.”

“Iya pasti karena kamu sudah tidur.”

“Aku tidak tidur, Ayah,” aku berbohong.

“Ya sudah sekarang kamu tidur, ya. Berarti telinga ayah salah.”

Setelah ibu dan ayah pergi, aku berjuang untuk tidak tidur. Ingatan akan cerita Mak Esah tentang dua adikku muncul dengan jelas. Tapi aku berusaha keras menekan pikiran buruk itu.

Menjelang subuh, aku sudah tak bisa menahan kantuk. Di antara tidur dan jaga, terdengar telapak kaki mendekatiku. Kemudian dua telapak tangan meraba leherku. Sementara tangan lain meraba kakiku sambil membelitkan sesuatu seperti tali. Rabaan di leherku semakin keras mencengkeram. Jangankan teriak, bernapas pun aku tak bisa. Kakiku teringkus dan seperti dibebani tubuh seseorang.

Mungkin sebentar lagi aku menyusul adik-adikku.


Cerpen ini merupakan salah satu di antologi Gula Kawung Pohon Avokad dan Cerita Lainnya