::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Hukum Berdiri saat Mahallul Qiyam di Tengah Peringatan Maulid

Rabu, 14 Desember 2016 06:03 Bahtsul Masail

Bagikan

Hukum Berdiri saat Mahallul Qiyam di Tengah Peringatan Maulid
Foto: Ilustrasi
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Kepada yang terhormat admin bahtsul masail NU Online, saya mau menanyakan perihal berdiri di tengah peringatan maulid. Apakah hukum berdiri ketika Barzanjian saat bacaan tertentu yang dikenal dengan sebutan mahallul qiyam? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Abdul Fattah/Kalimantan Selatan)

Jawaban
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Peringatan maulid di Indonesia lazimnya diisi dengan pembacaan rawi atau sejarah hidup Nabi Muhammad SAW.

Di tengah pembacaan rawi ini pada bagian tertentu orang-orang tua dan guru kita mendadak berdiri dari duduk bersilanya. Mereka membaca shalawat bersama-sama. Ini merupakan cara bagaimana mereka memberikan contoh kepada generasi umat Islam selanjutnya perihal penghormatan bagi Rasulullah SAW.

Saudara penanya yang budiman, memang kita tidak menemukan dalil baik Al-Quran maupun hadits secara spesifik yang memerintahkan atau melarang kita untuk berdiri di tengah pembacaan rawi. Hanya saja hal ini lebih didorong oleh rasa hormat dan takzim yang begitu besar dari umat kepada rasul yang mereka cintai.

Sementara berdiri yang dilakukan oleh orang tua dan para guru kita lebih karena akhlak mereka terhadap Rasulullah SAW. Para orang tua kita jelas meneladani akhlak para ulama sebagai pewaris para nabi terhadap rasulnya. Ada baiknya kita telaah uraian Sayid Bakri bin Sayid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin sebagai berikut.

فائدة) جرت العادة أن الناس إذا سمعوا ذكر وضعه صلى الله عليه وسلم يقومون تعظيما له صلى الله عليه وسلم وهذا القيام مستحسن لما فيه من تعظيم النبي صلى الله عليه وسلم ، وقد فعل ذلك كثير من علماء الامة الذين يقتدى بهم. قال الحلبي في السيرة فقد حكى بعضهم أن الامام السبكي اجتمع عنده كثير من علماء عصره فأنشد منشده قول الصرصري في مدحه صلى الله عليه وسلم: قليل لمدح المصطفى الخط بالذهب على ورق من خط أحسن من كتب وأن تنهض الاشراف عند سماعه قياما صفوفا أو جثيا على الركب فعند ذلك قام الامام السبكي وجميع من بالمجلس، فحصل أنس كبير في ذلك المجلس وعمل المولد. واجتماع الناس له كذلك مستحسن.

Artinya, “Sudah menjadi tradisi bahwa ketika mendengar kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut-sebut, orang-orang akan berdiri sebagai bentuk penghormatan bagi rasul akhir zaman. Berdiri seperti itu didasarkan pada istihsan (anggapan baik) sebagai bentuk penghormatan bagi Rasulullah SAW. Hal ini dilakukan banyak ulama terkemuka panutan umat Islam.

Al-Halabi dalam Sirah-nya mengutip sejumlah ulama yang menceritakan bahwa ketika majelis Imam As-Subki dihadiri para ulama di zamannya,  Imam As-Subki membaca syair pujian untuk Rasulullah SAW dengan suara lantang,

‘Sedikit pujian untuk Rasulullah SAW oleh tinta emas//di atas mata uang dibanding goresan indah di buku-buku
Orang-orang mulia terkemuka bangkit saat mendengar namanya//berdiri berbaris atau bersimpuh di atas lutut’


Selesai membaca syair Imam As-Subki berdiri yang kemudian diikuti oleh para ulama yang hadir. Kebahagiaan muncul di majelis tersebut dan maulid Rasulullah SAW diperingati di dalamnya.

Pertemuan umat Islam demi kelahiran Rasulullah SAW juga didasarkan pada istihsan,” (Lihat Sayid Bakri bin Sayid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I‘anatut Thalibin, Darul Fikr, Beirut, Libanon, tahun 2005 M/1425-1426 H, juz III, halaman 414).

Dari keterangan di atas kita dapat menarik simpulan bahwa berdiri saat pembacaan rawi berlangsung bukan dilatarbelakangi oleh sebuah perintah wajib di dalam Al-Quran atau hadits. Aktivitas berdiri ketika itu lebih didorong oleh akhlak umat terhadap nabinya. Para ulama memandang bahwa berdiri untuk menghormati Rasulullah SAW adalah sesuatu yang baik (istihsan).

Selagi fisik masih sehat, hadirilah majelis-majelis yang memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW karena di situ rahmat Allah ta’ala turun sehingga menambah pengalaman batin tidak sedikit orang yang hadir. Di samping itu ada baiknya kita berdiri saat mahallul qiyam sebagai bentuk cinta dan takzim kita kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga Allah memberikan mandat syafa’at kepada Rasul-Nya untuk menyelamatkan kita di dunia maupun di akhirat.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)