::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Merespon Konflik Suriah: Repotnya Berdiri di Tengah

Senin, 19 Desember 2016 18:00 Opini

Bagikan

Merespon Konflik Suriah: Repotnya Berdiri di Tengah
Ilustrasi
Oleh Edi Subkhan

Di tengah isu penistaan agama yang disangkakan pada Ahok, akhir 2016 time line Facebook dikuasai perang opini pihak yang pro Bashar al-Assad maupun yang kontra. Jutaan informasi disebar via Facebook, dan barangkali sebagian besar dari kita tanpa sempat mengkonfirmasi sumbernya langsung saja menjadi bagian dari jaringan penyebar informasi mengenai konflik Suriah, apapun itu, baik yang pro maupun kontra Assad.

Taggar #SaveAleppo mengemuka, banyak mengundang simpati bahkan dorongan agar pemerintah Indonesia segera mengirim kekuatan militernya untuk ikut serta mengakhiri konflik Suriah. Ketika pemerintah Arab Saudi menggalang kekuatan militer beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan Indonesia menolak ikut serta, Jokowi jadi bulan-bulanan bullying. Lawatan Presiden dan parlemen Indonesia ke Iran jadi bumbu penyedap tuduhan bahwa Jokowi pro Assad dan akan membawa nasib umat Islam di Indonesia sama seperti di Suriah.

Hal itu karena Iran dalam konflik Suriah menyokong pemerintahan Assad bersama Russia, dan isu sektarian yang diembuskan adalah: Assad presiden Syi’ah yang kejam dan membantai warganya sendiri. Narasi drama yang dibangun lebih lengkapnya adalah: Bashar al-Assad presiden Syi’ah yang kejam terhadap rakyatnya sendiri, hingga muncul para pemberontak yang ingin menumbangkannya. Setelah konflik bersenjata terjadi, kabut asap peta politik mulai tersingkap. Arab Saudi, Qatar, Yordania, Turki, Amerika Serikat (AS), Israel, dan beberapa negara Eropa tampak mendukung para pemberontak, di sisi lain Iran dan Russia mendukung Bashar al-Assad.

Respon umat Islam di Indonesia terbelah. Beberapa kelompok yang selalu responsif terhadap isu-isu politik Islam segera bersikap, walau sulit dan barangkali sadar pilihannya bukan tanpa risiko. Misalnya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin yang berada di lingkaran partai dakwah (baca: Partai Keadilan Sejahtera [PKS]). Kedutaan besar Russia di Jakarta mereka demo karena melihat Russia mendukung Assad yang menurut mereka telah membantai Muslim Sunni di Suriah. Sikap politik tersebut secara tidak langsung telah menjadikan HTI dan PKS berada di blok/pihak AS, Israel, dan kawan-kawan, satu pihak yang selama ini jadi sasaran kritik abadi mereka.

Sikap tersebut juga menunjukkan mereka dalam satu blok/pihak dengan ISIS, karena para pemberontak di Suriah tiada lain kecuali ISIS dan kawan-kawannya. Hal yang saya pribadi tidak habis pikir adalah: sekian banyak orang yang posting di media sosial berada dalam posisi kontra Assad dan jika ditanya ternyata tak banyak yang paham bahwa dengan demikian mereka berada dalam satu blok dengan AS, Israel, bahkan ISIS. Anehnya juga tak banyak yang kritis bagaimana bisa AS, Israel, berada satu blok dengan Arab Saudi, Qatar, Yordania, Turki, untuk sama-sama menggulingkan rezim Assad.

Sementara itu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah tampak lebih berhati-hati dalam bersikap, sebagaimana yang dilakukan pemerintah Indonesia. Hal tersebut bisa jadi karena memang konflik Suriah teramat pelik dan kompleks. Duta besar Indonesia untuk Suriah, Djoko Harjanto bahkan menyatakan banyak sekali informasi yang simpang siur hingga sampai di Indonesia. Misalnya tudingan bahwa Assad adalah Syi’ah dan juga keterlibatan media-media mainstream milik Barat yang membawa kepentingan Barat di Timur Tengah (Republika, 21/3/2016). Tuduhan bahwa rezim Assad merupakan rezim Syi’ah dan telah membantai Muslim Sunni juga dibantah oleh Muhammad Najih Arromadloni, sekretaris Ikatan Alumni Suriah (Syam) Indonesia (al-Syami) (nu.or.id, 14/5/2016).

Belajar dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah, setidaknya kita perlu melihat tendensi kepentingan Barat atas Timur Tengah dan Islam.

Kepentingan Barat

Kehadiran Barat yang direpresentasikan oleh AS dan negara-negara Eropa (terutama NATO) di Timur Tengah tentu bukan tanpa tendensi kepentingan tertentu. Kita bisa ingat bagaimana AS mendukung penuh para mujahidin di Afganistan agar dapat menjadi pengganggu permanen dari Uni Soviet waktu itu. Sayangnya milisi yang disokong penuh oleh AS tersebut sekarang jadi tanpa tuan dan cenderung destruktif. Namun keberadaannya di Timur Tengah tetap menguntungkan bagi AS, yakni sewaktu-waktu dapat dimainkan untuk jadi bagian dari proxy war di Timur Tengah, sekaligus jadi kambing hitam jika diperlukan.

Motif untuk menjadi satu-satunya kekuatan adidaya di dunia barangkali menjadikan AS berupaya untuk menundukkan potensi-potensi adidaya yang dimiliki oleh negara-negara lain. Terlebih negara-negara tersebut tidak berada dalam satu aliansi dan kesepemahaman dengan AS Di tahun 1960-an kita bisa telisik beberapa versi sejarah yang menyatakan bahwa kejatuhan Presiden Soekarno salah satunya direncanakan dan disetir oleh C.I.A., tiada lain karena Soekarno tidak dapat lagi disetir oleh AS dan sekutunya, dan juga Soekarno mulai dekat dengan Tiongkok. Berikutnya tahun 1990-an Saddam Husain dijatuhkan bahkan dengan intervensi langsung AS ke Irak dengan dalih membebaskan rakyat Irak dari pemimpinnya yang otoriter dan mencegah perang dunia karena Irak memiliki senjata pemusnah massal. Tuduhan yang pada kemudian hari tak pernah terbukti sama sekali.

Kembali menurut penuturan Arromadloni, sekretaris al-Syami (nu.or.id, 14/5/2016), pada 2009 Qatar meminta agar Assad membukakan jalur pipa gas alamnya melintasi Suriah hingga Turki menuju Eropa. Namun Assad menolak permintaan tersebut dan justru pada 2011 bekerjasama dengan Irak dan Iran untuk membuka jalur pipa ke Timur. Bisa jadi hal tersebut menjadi salah satu pemicu keterlibatan dari Arab Saudi, Qatar, Yordania, dan Turki dalam menyokong para pemberontak Suriah dalam menggulingkan Assad. Yakni rasa sakit hati blok Qatar, Turki, Arab Saudi yang kemudian melibatkan AS dan NATO sebagai mitra bisnis yang saling menguntungkan dan harus menjaga kepentingan masing-masing. Kerjasama Assad dengan Iran juga artinya mengancam posisi AS di Timur Tengah.

Senada dengan itu, Steven Sahiounie (ahtribune.com, 10/8/2016) menyatakan bahwa target Arab Spring setelah Tunisia, Libya, dan Mesir berikutnya adalah Suriah. Namun rencana awal tidak berjalan baik di Suriah hingga AS out of budget. Sahiounie menulis AS memulai rencana penggulingan Bashar al-Assad dengan menyelundupkan para teroris yang sebelumnya dimainkan untuk menggulingkan Moammar Khaddafi di Libya ke Deera, daerah perbatasan Suriah dan Yordania. Masjid Omari menjadi basis masuk dan pelatihan para pemberontak awal. Syaikh Ahmad al-Sayasneh, imam masjid Omari yang sudah sepuh dan bermasalah dengan penglihatannya terkelabuhi.

Para pengikut Ikhwanul Muslimin dan juga pengkut Salafi lokal Suriah diidentifikasi oleh Sahiounie sebagai pihak yang juga ikut membantu pergerakan awal para teroris/tentara bayaran dari Libya yang diselundupkan ke Deera. Rencana ini disusun dengan baik oleh C.I.A. dan dimonitor langsung dari Yordania. Di situ senjata dan dana sudah disiapkan untuk membakar api konflik/revolusi Suriah. Para demonstran lokal yang sudah tidak suka dengan rezim Assad barangkali banyak yang tidak tahu bahwa mereka menjadi bagian dari bidak-bidak catur yang dimainkan oleh pihak luar Suriah.

Deera tak pernah disangka bisa jadi pemicu awal konflik karena letaknya yang di perbatasan. Namun justru karena di pinggiran Deera strategis sebagai jalur suplai senjata dari Yordania. Jika benar konflik Suriah karena rakyat ingin Assad lengser, fakta menunjukkan bahwa hingga tahun kedua konflik, warga Aleppo dan beberapa kota besar seperti Damaskus dan Basrah tak pernah ikut demonstrasi menuntut Assad lengser. Bisa jadi karena mereka relatif terpelajar hingga tidak mudah untuk diseret pada isu murahan sektarian Sunni vs Syi’ah. Sahiounie menegaskan bahwa upaya AS menghancurkan Suriah dengan melengserkan Assad dan mengganti dengan pemimpin lain yang lebih kooperatif bukan hanya soal jalur gas, ladang minyak, juga tambang emas, melainkan juga untuk melumpuhkan Suriah di bawah kepemimpinan Assad yang selama ini jadi penyeru utama di Timur Tengah soal Palestina.

Upaya Mencoreng Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

Kepentingan Barat lain yang perlu ditelusuri adalah upaya untuk menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama Rahmatan lil ‘alamin. Pelanggengan konflik Timur Tengah bertahun-tahun bisa ditafsirkan sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa wilayah tempat lahirnya Islam sendiri tak pernah lepas dirundung konflik. Citra yang barangkali ingin ditunjukkan pada dunia adalah: Islam agama yang mengajarkan terorisme, peperangan dan pembunuhan, sebagaimana ditunjukkan oleh al-Qaeda, ISIS, Assad, dan lainnya. Karena itu pula barangkali media-media mainstream Barat menyebut para pemberontak di Suriah dengan sebutan “Jihadis”, satu label yang berkonotasi positif dalam ajaran Islam.

Provokasi media-media Barat dan juga ISIS telah banyak mengundang simpati dan dorongan para “Jihadis” dari berbagai penjuru dunia untuk ikut berjuang di Suriah. Sahiounie mengemukakan bahwa kebanyakan mereka datang ke Turki dari Afganistan, Australia, Afrika, dan Eropa, kemudian diangkut bus-bus milik pemerintah Turki langsung ke perbatasan Turki-Aleppo. Konon tiket pesawat, bus, gaji, persediaan makanan dan obat-obatan sudah disediakan oleh pejabat dari Saudi di Turki. Soal senjata, AS mensuplai penuh dari gudangnya di pelabuhan Benghazi, Libya, sebagian besar persenjataan tersebut merupakan sitaan saat sukses menggulingkan rezim Khaddafi. Mehdi al-Harati, warga Libya berpaspor Irlandia, dijadikan pimpinan Free Syrian Army (FSA) setelah sebelumnya sukses memimpin pasukan teror di Libya.

Sahiounie memungkasi analisisnya bahwa: krisis Suriah adalah produksi bersama AS, Uni Eropa, NATO, Turki, Yordania, Israel, Arab Saudi, dan Qatar. Suplai senjata dilakukan oleh AS, sementara gaji, uang suap, dan lainnya ditanggung pangeran Qatar dan raja Saudi. Media yang digandeng untuk mempropagandakan narasi Hollywood adalah al-Jazeera milik Qatar, CNN, BBC, dan France24. Mereka inilah yang menggambarkan para “jihadis”/pemberontah Suriah sebagai pejuang pembebasan yang perlu didukung. Padahal di situ jelas ada ISIS, hal yang sangat kontradiksi tentunya. Al-Jazeera sejak awal krisis bahkan telah menawarkan $100 bagi siapa pun yang dapat menyerahkan video amatir dari Suriah kepada mereka. Sayembara tersebut seketika jadi lahan subur industri baru di Suriah, ‘sutradara’ dan ‘aktor’ bermunculan. Tak ada yang memverifikasi kebenaran isi video, asal mendukung propaganda semua diterima dan sebarluaskan media-media mainstream.

Telaah Sahiounie tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi, putra dari almarhum Syaikh Ramadhan al-Buthi, salah seorang Ulama Suriah yang wafat di tangan kelompok pemberontak dalam konflik Suriah (republika, 7/12/2015). Ia menyatakan bahwa agenda memecah belah Suriah melalui konflik sektarian sudah terbaca ayahnya, oleh karena itu Syaikh Ramadhan al-Buthi memilih jalan tengah, berdiri di tengah, menjadi moderat, untuk menghindarkan konflik. Ia tak pernah mencela pemerintah namun tidak juga memujinya. Sebelumnya ia dikenal sebagai Ulama yang kritis terhadap pemerintah. Tiap bertemu Assad justru yang dilakukan adalah menasehatinya, bukan menyanjungnya. Namun karena upayanya untuk bersikap netral itulah al-Buthi di-bully sebagai Ulama pemerintah.

Pada akhirnya al-Buthi harus wafat dibom oleh para “jihadis” ketika sedang memimpin pengajian tafsir di Masjid al-Iman, Damaskus, 21 Maret 2013. Ironis sekali, seorang Ulama besar yang diakui keilmuannya di level internasional dibunuh karena dianggap pro pemerintah, dianggap akan menggagalkan skenario konflik sektarian di Suriah. Itulah yang terjadi, untuk berdiri di tengah menjadi moderat dan mencegah konflik saja fitnah datang bertubi-tubi, yang bisa saja fitnah itu datang dari pihak yang tidak tahu betul duduk perkaranya, bisa juga didalangi oleh pihak yang akan dirugikan jika konflik tak terjadi.

Dr. Taufiq Ramadhan menengarai bahwa konflik di Suriah sejatinya bukan konflik sektarian antara Sunni vs Syi’ah, apalagi Muslim vs non-Muslim. Menurutnya, selain menghancurkan Suriah menurutnya target dari konflik Suriah adalah mencoreng wajah Islam. Sekarang yang berkonflik dengan senjata bukan lagi warga Suriah, tapi diarahkan agar melibatkan warga Suriah. ISIS sendiri tak semuanya warga Suriah, demikian juga Jubha el-Nusra, anggotanya berasal dari berbagai negara. Ia mengatakan banyak sekali yang datang dari Eropa terutama melalui Turki untuk sampai ke Suriah. Ia mengatakan, tidak mungkin Barat tidak tahu hal ini, tidak mungkin intelijen tidak dapat mengidentifikasi gerakan mereka, namun dibiarkan saja karena akan menguntungkan dalam setting konflik yang disponsori oleh Barat.

Fenomena tersebut justru dimanfaatkan oleh Barat, yakni agar umat Islam di Eropa terprovokasi bertindak kriminal dan teror hingga wajah Islam benar-benar tampak buruk di Barat. Dr. Taufiq Ramadhan menyatakan bahwa yang ditakuti adalah kebangkitan Islam di Barat, oleh karenanya dibiarkan saja umat Islam datang ke Suriah dan saling bantai-membantai di situ. Ia juga meminta agar kita kritis terhadap ISIS: mengapa tak memerangi Israel, namun justru memerangi sesama Muslim? Begitu juga bagaimana Jubha el-Nusra dapat memperoleh bantuan logistik dan persenjataan dari Israel, termasuk Rudal Hawn, dan korban luka el-Nusra diobati di Israel. Barangkali para “jihadis” itu pun sebagian besar tak sadar jadi bagian yang dimainkan oleh para pemain yang lebih besar.

Selain itu Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin jelas punya kepentingan masing-masing, yakni mewujudkan cita-cita ideologisnya. Bagi Hizbut Tahrir Suriah harus direbut dari rezim Assad yang relatif sekuler dan diganti dengan Khilafah Islamiyah. Propaganda Hizbut Tahrir juga menggema ketika peristiwa Tahrir Square di Kairo, Mesir, juga misi pembebasan Palestina. Bagi Hizbut Tahrir pembebasan Palestina harus dilanjutkan dengan pendirian Khilafah Islamiyah, karena kalau yang dituju sekadar pengakuan terhadap Palestina sebagai negara yang merdeka ternyata tidak sejalan dengan visi ideologis Hizbut Tahrir. Oleh karena itu, informasi yang datang dari kanal-kanal informasi dan berita Hizbut Tahrir seluruh dunia, termasuk dari Timur Tengah, juga besar kemungkinan tidaklah netral. Sementara itu Ikhwanul Muslimin tampak lebih tertarik pada sentimen Sunni melawan Syi’ah.

Dus, mengamati banjir informasi di dunia maya mengenai Suriah, yang sebagian besar disetir oleh media-media mainstream Barat, juga media-media dari pihak yang punya kepentingan terhadap konflik Suriah, tentu kita mesti hati-hati. Dalam hal yang paling sederhana: janganlah ikut memperkeruh ruang publik umat Islam di Indonesia dengan berbagai posting yang provokatif, menyesatkan, dan belum dapat diverifikasi kebenarannya terkait dengan konflik Suriah. Upaya memecah belah umat Islam barangkali sedang terjadi juga di Indonesia, teror oleh jaringan ISIS dan sejenisnya dan provokasi para pemuka agama yang seringkali mengundang gesekan antara satu mazhab dengan mazhab lain perlu diwaspadai. Upaya membenturkan kelompok-kelompok ideologis di akar rumput bisa saja dilakukan sebagaimana terjadi di Suriah sebelum konflik pecah.

Oleh karenanya, menghindari konflik hendaknya lebih diutamakan. Hal ini penting mengingat tidak semua umat Islam di Indonesia terpelajar. Masih banyak yang lemah literasinya dalam berhadapan dengan jutaan informasi yang menyebar melalui televisi dan dunia maya. Wafatnya Syaikh Ramadhan al-Buthi patut jadi pelajaran, bahwa jadi moderat di tengah konflik pun berisiko difitnah, dihujat, dan dibunuh. Apalagi jika sudah memutuskan untuk ikut salah satu blok opini, padahal baik yang pro maupun kontra belumlah jelas betul mana yang benar. Namun satu yang pasti, bahwa konflik yang diuntungkan pasti bukan rezim Assad ataupun para “jihadis”, yang diuntungkan pasti para sutradara konflik di balik layar, juga industri persenjataan. Konflik Suriah mulanya juga bukanlah soal Sunni vs Syi’ah, ada intervensi AS, NATO, Arab Saudi, Qatar, Yordania, Turki, di blok berbeda terdapat Iran dan Russia. Sekiranya pihak-pihak tersebut belum bersedia untuk melepaskan ego dan kepentingan masing-masing, barangkali perdamaian di Suriah belum akan terjadi dalam waktu dekat.

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis adalah Takmir Masjid Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Semarang (UNNES).