Innalillahi wainna ilahi rajiun, Mustasyar PBNU KH Ahmad Syatibi Syarwan wafat, Jumat (15/9), pukul 12.00 WIB. Lahul fatihah...::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Membina Kaum Termarjinalkan

Jumat, 30 Desember 2016 13:00 Opini

Bagikan

Membina Kaum Termarjinalkan
Gambar ilustrasi.
Oleh Ahmad Muzakki

Ketika saya membaca pernyataan seorang PSK di koran bahwa dia berprofesi sebagai PSK karena tuntutan ekonomi dan bertekad kuat untuk meninggalkan pekerjaan itu apabila memperoleh pekerjaan yang layak, saya sadar bahwa sebagian dari mereka berprofesi sebagai PSK karena dipaksa oleh keadaan ekonomi yang belum begitu menguntungkan.

Dan ketika saya membaca pernyataan dari seorang lesbian dan homoseksual bahwa kecenderungan mereka untuk menyukai sesama jenis adalah bukan semata kemauan sendiri, akan tetapi timbul dari dalam jiwa yang sulit untuk dihilangkan dan bersedia meninggalkan hal itu apabila kecenderungan itu telah hilang, saya baru tahu bahwa sebagian mereka menjadi pelaku seks yang menyimpang dari ajaran agama akibat bukan semata-mata karena keinginannya sendiri.

Dan ketika saya membaca dan mendengar pernyataan dari seorang waria yang mengatakan bahwa jenis kelamin yang mereka miliki tidak sesuai dengan karakteristik yang ada dalam diri mereka, saya baru tahu bahwa sebagian mereka hanya ingin menyesuaikan karakteristik yang ada di dalam jiwanya dengan prilakunya.

Sekalipun demikian, saya tidak berani untuk menghalalkan profesi PSK, seks sesama jenis dan berperilaku tidak sesuai dengan jenis kelaminnya. Dan saya hanya berani mengatakan bahwa mereka bukan musuh kita, mereka tidak perlu diasingkan, mereka adalah saudara kita, warga negara Indonesia yang berhak mendapatkan jaminan kehidupan dari negara. 

Mereka perlu memperoleh pembinaan dan pendidikan. Mereka harus dibawa ke jalan yang lebih baik dan bermartabat. Dari sinilah perlu adanya kerja sama dari semua golongan dan seluruh lapisan masyarakat untuk memberikan bantuan kepada mereka, baik berupa harta, jaminan kesehatan, bimbingan rohani dan sebaginya.

Mungkin pemerintah dalam hal ini harus lebih merespon kenyataan yang dihadapi oleh sebagian saudara kita ini yang oleh sebagian masyarakat sering diremehkan dan dikerdilkan, dengan cara melibatkan beberapa kelompok untuk membantu menyelesaikan permasalahan di atas.

Pertama, Tim Pembimbing Rohani. Orang-orang yang telah saya sebutkan di atas, tentunya perlu mendapatkan siraman rohani dari para agamawan. Tujuannya adalah memperkenalkan ajaran agama bagi yang belum kenal dan menguatkan ajaran agama bagi mereka yang imannya masih lemah.

Sangat diperlukan penyampaian tentang perintah-perintah dan larangan-larangan agama. Karena, ketika keyakinan kita sudah mantap, maka larangan sebesar apapun akan kita hindari sekuat tenaga dan perintah sebanyak apapun akan kita laksanakan dengan ikhlas. Dan mereka juga memerlukan tempat ibadah yang layak untuk munajat kepada Tuhan. Ada satu hal yang perlu diingat bahwa mereka harus menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah dilarang.

Tentunya dalam penyampaian dakwahnya, yang lebih dikedepankan adalah mengajak mereka untuk berpikir optimis, bahwa Tuhan selalu membuka pintu tobat bagi mereka yang benar-benar menyadari akan kesalahan dan keinginan meninggalkan perbuatan dosa. Dalam hal ini yang harus berperan adalah para ulama`, tokoh masyarakat, pastor, biksu dan agamawan lainnya disesuaikan dengan keyakinan agamanya masing-masing.

Kedua, Tim Medis. Para dokter-dokter yang ada di daerah-daerah khususnya perlu memperhatikan orang-orang tersebut. Seperti menjaga kesehatan para PSK, memberikan terapi penyembuhan terhadap kaum waria, lesbian dan homoseks, menyampaikan akibat-akibat negatif yang ditimbulkan akibat perilaku yang mereka lakukan. Tujuannya adalah membantu mereka keluar dari jalan hidup yang sebenarnya tidak mereka inginkan.

Ketiga, Tim Psikolog. Para ahli kejiwaan juga perlu memberikan masukan dan solusi kepada mereka yang membutuhkannya. Mereka merasa tertekan berada di tengah-tengah masyarakat yang berbeda dengan keadaan mereka, sehingga mereka banyak yang memilih hidup jalan-jalan dan di tempat remang-remang, yang tentunya hal ini membuat kaum-kaum semacam ini semakin berkembang. 

Perlunya memberikan motivasi kepada mereka agar punya keinginan untuk sembuh dari penyakit yang sedang melanda dan tidak menghiraukan omongan yang bersifat melecehkan dari masyarakat. Tapi, apabila ada kritik-konstruktif, maka seharusnya didengarkan dan dijadikan pelajaran.

Keempat, Ketua Kelompok. Untuk mempermudah koordinasi dengan orang-orang tersebut, tentunya diperlukan adanya ketua kelompok di tiap-tiap daerah sesuai dengan golongannya. Bukan berarti hal ini ingin membolehkan sesuatu yang dilarang, akan tetapi semua ini untuk merespon dan memberikan solusi terhadap relitas hidup yang berbeda yang telah berkembang disekitar kita.

Dengan adanya ketua koordinasi diharapkan adanya laporan misalnya, berapa orang PSK, Waria, lesbian dan homoseks yang ada di Kota A misalnya? berapa orang diantara mereka yang terkena penyakit HIV? Apakah mereka memperoleh tempat ibadah yang layak? Apakah mereka telah tersentuh oleh tim medis? Berapa diantara mereka yang telah sembuh dari kebiasaan-kebiasaan yang menyimpang?

Kelima, Tim Kreatif. Pemerintah perlu membentuk tim kreatif untuk membantu mereka agar belajar menjadi wirausaha. Mereka perlu diajari keahlian-keahlian agar mereka mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka juga perlu sandang, pangan dan papan karena mereka juga manusia yang sama dengan kita.

Keenam, Para Pengusaha. Untuk membantu mereka di dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka, mungkin tidak hanya pemerintah yang harus bertanggung jawab, akan tetapi semua masyarakat harus ikut berpartisipasi di dalamnya, khususnya para pengusaha. Mereka yang punya lapangan pekerjaan hendaknya mau menerima orang-orang yang saya sebut di atas untuk bekerja di tempatnya. 

Tentunya dengan mempertimbangkan kualitas yang mereka miliki. Karena saya yakin diantara mereka ada yang memiliki keahlian-keahlian di bidang yang berbeda-beda. Mungkin para tim kreatif, sebagaimana disebutkan diatas bisa bekerja sama dengan para pengusaha untuk menyalurkan mereka yang sudah layak untuk bekerja.

Itulah sedikit tawaran dari saya, semoga bisa menjadi solusi bagi kaum PSK, Waria, Lesbian, Homoseksual dan bisa menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dan seluruh masyarakat yang peduli sosial untuk membantu mereka keluar dari jalan hidup yang sebenarnya tidak diinginkan. Mudah-mudahan mereka bisa menjalani hidup yang normal seperti manusia pada biasanya. Semoga mereka mendapatkan petunjuk untuk kembali ke jalan Tuhan yang diridloi. Amin. Wallahu A`lam Bisshawab.

Penulis adalah Santri Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyyah Situbondo.