::: NU menyelenggarakan rukyat awal Ramadhan 1438 H pada Jumat, 26 Mei 2017 di berbagai daerah di Indonesia  ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Dimana dan Kemana Pisau Tajam NU

Ahad, 01 Januari 2017 04:00 Opini

Bagikan

Dimana dan Kemana Pisau Tajam NU
Oleh Faridur Rohman

Tidak sedikit warga NU itu seperti pisau, tajam menggilas bagi siapa saja yang menghujat ritual keagamaan juga pada orang-orang yang merongrong keutuhan berbangsa dan bernegara. Sayangnya pisau itu perlu diasah kembali agar lebih tajam untuk membela kaum petani dan kebanyakan.

Langit masih mendung, beberapa jam lalu gerimis mengguyur. Gedung berundak yang menjulang tinggi di Jalan Pahlawan Kota Semarang masih dikerumuni puluhan orang bercaping dan berjarik. Sudah seminggu lamanya mereka bertahan. Sisa-sisa hujan masih tercecer membasahi jalan bercampur dengan air mata. 

Ada yang duduk menggigil kedinginan, ada yang berdiri menghadap ke jalan, melihat lalu lalang kendaraan. Sebagian lagi menatap tajam pada siapa saja yang ada di dalam gerbang sembari memegang erat payung di tangan kanan. Mereka setia menunggu keputusan tegas dari sang durjana. Setegas spanduk yang mereka bentangkan pada pagar beruji besi “#RembangMelawan #TolakPabrikSemen #KawalPutusanMA”.

"Saya sangat mendukung gerakan ibu-ibu dari pegunungan Kendeng yang menuntut pemerintah dalam hal ini gubernur Jateng supaya melaksanakan putusan MA. Tidak ada hukum yang tertinggi selain MA. Oleh karena itu saya minta kepada Pak Ganjar untuk bersikap sebagai negarawan dan tidak berbelit belit. Sebenarnya urusan melestrikan lingkungan itu urusan negara juga."

Begitu bunyi pesan yang disampaikan salah satu ketua ormas keagamaan terbesar di negeri ini, Nahdlatul Ulama. Menjadi oase di padang kerontangnya garis perjuangan. Imam Aziz kala itu, Jum’at (30/12) dengan memakai kemeja lengan pendek, celana bahan bersandal jepit mendatangi aksi petani pegunungan Kendeng dan sekitar. Membagi suplemen semangat dan harapan. Berdiri bersama memegang payung sebagai simbol kaum papa harus dilindungi. Memberi isyarat bahwa NU bersama anak muda dan mahasiswa progresifnya juga masih peduli dengan isu-isu agrarian.

Lain Kendeng lain Sukamulya. Para petani desa yang menolak pengukuran lahan imbas akan dibangunnya bandara terpaksa bentrok dengan aparat. Peristiwa November itu juga menjadi catatan merah soal isu-isu agrarian. Lewat lembaga batuan hukum NU, dibantu pemudanya (Anshor) dan mahasiswanya (PMII) sigap melakukan kajian strategis dan turut aktif membantu menyelesaikan soal sengketa lahan ini. Menegasikan kembali, ditataran akar rumput NU hadir mejadi bahu untuk mereka bersandar.

Masih banyak contoh sengketa lahan yang terjadi pada tahun ini, 2016. Entah itu melibatkan warga dengan pabrik, Aparat, Perusahaan korporasi, tambang dan lain sebagainya. Masih ingat? Sebut saja, Selok Awar Awar, Lumajang, Urut Sewu Kebumen, Kendal,Tulang Bawang, Lampungdan banyak lagi di Sumatera ditambah Kalimatan dan wilayah timur Indonesia yang tak terekam media. Mestinya ini juga menjadi garis perjuangan NU baik ditataran pusat sampai yang paling rendah, ranting atau desa.

Di mana semestinya NU

Refleksi itu bernama cermin, tempat di mana seseorang bisa berkaca tentang apa yang ada pada diri dan apa yang harus dibenahi. Semestinya NU juga harus harus berkaca tentang tujuan untuk apa ia didirikan. Salah satu butir yang ditelurkan berdirinya NU atau yang disebut Khittah NU 1926 adalah membentuk organisasi untuk memajukan pertanian, perdagangan, dan industri yang halal menurut hukum Islam. Ini memberikan bukti bahwa kiai-kiai khas NU memikirkan soal pertanian sekaligus para petaninya.Tidak berhenti pada itu, hasil muktamar Situbondo 1984, juga menelurkan hal yang sama salah satunya soal pengembangan pertanian.

Bagi kalangan nahdliyin (sebutan warga NU) pasti tidak asing dengan kata “Pak Tani itulah penolong negeri”. Kata itu benar adanya, pernah ditulis oleh Rais Akbar KH Hasyim Asy’ri, kurang lebih kata itu diambil dari cuplikan tulisan beliau, “Pendek kata, bapak tani adalah goedang kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperloean. Pa’ Tani itoelah penolong Negeri apabila keperloean menghendakinja dan diwaktoe orang pentjari-tjari pertolongan. Pa’ Tani itoe ialah pembantoe Negeri jang boleh dipertjaja oentoek mengerdjakan sekalian keperloean Negeri, jaitoe diwaktunja orang berbalik poenggoeng (ta’ soedi menolong) pada negeri; dan Pa’ Tani itoe djoega mendjadi sendi tempat  negeri didasarkan.”

Dimana semestinya NU jika terjadi sengketa lahan yang melibatkan para petani?. Bagi penulis setiap penambangan yang dilakukan oleh korporasi, mesti madharatnya lebih besar dibanding asas kemanfaatan. Semisal yang terjadi pada petani Kendeng jika pabrik semen benar berdiri? Apa ada jaminan ia memberikan kesejahteraan atau sebaliknya kerusakan ekosistem lingkungan, bencana, kekeringan dan langka pangan yang terjadi. 

Yang hanya ada janji janji pendapatan bertambah dan itu memang benar. Bertambah bagi segelintir orang dan pucuk perwakilan. Sedang para petani dan kebanyakan akan menjadi buruh di mana setelah kering keringatnya, mereka akan tersingkir digantikan keringat yang segar. Bagaimanapun juga, menjaga kelestarian adalah harga mati, seperti halnya menjaga keutuhan NKRI, semestinya.

Ratusan orang tidak cukup untuk mengembalikan hutan yang gundul dalam sekejap. Tidak saja menanam tapi merawat agar tumbuhan tetap tumbuh dan besar butuh energi ekstra dan waktu yang amat panjang. Sedangkan cukup, tidak lebih dari puluhan orang, dan puluhan hari satu hutan bisa dihabiskan dalam waktu yang singkat.

“Mencemarkan lingkungan, baik udara, air maupun tanah,  apabila menimbulkan dlarar, maka hukumnya haram dan termasuk perbuatan kriminal (jinayat)” begitu bunyi Keputusan Muktamar NU Cipasung, Tasikmalaya 1994. Diperkuat lagi dengan Halaqoh Gerakan Nasional Kehutanan dan Lingkungan Hidup Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta 2007, negara sedang genting mengalami krisis ekologi adalah kaca di mana semestinya NU berdiri.

Saya akhiri tulisan ini dengan mengutip kata Imam Syafi’i “Pendapatku benar tetapi bisa jadi mengandung kesalahan, sedangkan pendapatmu salah tetapi bisa jadi memiliki kebenaran.” Wallahu A’lam.

Penulis adalah Pegiat Omah Aksoro, Nyantri di Nutizen dan pernah belajar di STAINU Jakarta, Kader PMII karena sudah menyelesaikan PKD.