::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

NU Riyadh Wadahi Heterogenitas Ekspatriat Indonesia

Senin, 02 Januari 2017 18:00 Internasional

Bagikan

NU Riyadh Wadahi Heterogenitas Ekspatriat Indonesia
Foto: ilustrasi
Riyadh, NU Online
Semarak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya menggema dari Nusantara saja, tetapi juga tersiar di negeri tempat lahir Beliau, Arab Saudi. Berbekal mahabbah dan harap akan syafaatnya, ekspatriat Nahdliyin yang mendiami Kota Riyadh mengadakan festival dan pengajian akbar.

Acara yang diadakan Jumat, (30/12) lalu tersebut juga diselenggarakan untuk memperingati Haul Ke-7 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. 

Festival yang kemudian berlanjut pengajian akbar tersebut dimulai pada pukul 20.30 waktu setempat. Acara dibuka dengan pembacaan puisi dan kisah Nabi Muhammad dengan bahasa Inggris oleh putri-putri ekspatriat Nahdliyin. Pembacaan maulid Simthud Duror kemudian menggema tak lama setelah festival usai. 

Musolli Busadin, Ketua Majelis Wakil Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (MWCINU) Riyadh dalam sambutannya mengajak seluruh nahdliyin untuk berpartisipasi dan berjuang dalam menghidupkan spirit Aswaja di Kota Riyadh. 

Dalam redaksi khusus, dia mengajak Nahdliyin untuk menyukseskan program madrasah diniyah yang sedang dalam tahap penggodokan. Menurutnya, MWCINU Riyadh juga berkepentingan mendirikan madrasah diniyah sebagaimana yang dilakukan oleh PCINU Arab Saudi yang bermarkas di Jeddah. 

Hadir dalam acara tersebut, Dubes Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel. Selain menceritakan kenangannya tentang Gus Dur, dalam sambutannya, Agus Maftuh menceritakan suka dukanya menjadi duta besar. 

Menurutnya, meskipun sudah banyak prestasi yang ditoreh olehnya bersama para staf di antaranya, menangani dan menyelesaikan kasus majikan yang tidak menggaji ekspatriat Indonesia selama 13 tahun, dan menyelesaikan kasus pekerja yang di-PHK oleh Syarikah Bin Laden; namun keberhasilan tersebut masih dianggap tidak seberapa sampai semua ekspatriat Indonesia hidup tentram. 

Menanggapi madrasah diniyah yang diinisiasi oleh MWCINU Riyadh, Agus Maftuh mendukung sepenuhnya program tersebut. Menurutnya, meskipun telah meninggalkan negaranya, ekspatriat, khususnya kalangan nahdliyin harus tetap menjaga identitasnya. Salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan mengikuti kegiatan yang diadakan oleh MWCINU di madrasah diniyah. 

Nur Hadi, mahasiswa Jami’ah al-Imam Muhammad ibn Sa’ud yang menjadi pembicara pertama pada pengajian tersebut, menyinggung keharusan MWCINU untuk menjadi wadah pemersatu ekspatriat yang heterogen. 

Sedang Ulil Abshar, mahasiswa Jami’ah al-Imam Muhammad ibn Sa’ud yang menjadi pembicara kedua menceritakan kisah masyhur Rasulullah yang mengangkat anak yang ditinggal mati syahid oleh orang tuanya. (Irza A. Syaddad/Fathoni)