::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Nasihat KH Sholeh Darat Membendung Hoax

Rabu, 11 Januari 2017 10:00 Opini

Bagikan

Nasihat KH Sholeh Darat Membendung Hoax
Ilustrasi: deklarasi anti-hoax di Jakarta.
Oleh M. Rikza Chamami

Maraknya berita hoax (tipuan, menipu, kabar burung, berita bohong, pemberitaan palsu, informasi palsu) yang beredar bebas akhir-akhir ini menjadi keprihatinan bersama. Hoax diartikan sebagai usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu.

Aneh sekali, kebohongan sengaja diproduksi demi fitnah. Ini adalah tanda-tanda akhir zaman. Orang tidak malu berbohong dan bangga dengan menyebar fitnah. Ada lagi yang parah, fitnah menjadi "industri" yang menghasilnya uang. Naudzubillah min dzalik. Fitnah berupa hoax kali ini tidak hanya terucap dari lisan, tapi sudah menjadi tulisan-tulisan yang disebarkan lewat media sosial (medsos).

Bagaimana sebagai Muslim, kita dapat membendung agar hoax itu tidak terjadi? Yang jelas bahwa hoax itu diproduksi manusia. Berarti unsur manusia itulah yang harus dididik. Manusia yang berani memproduk hoax sama halnya melaksanakan kemaksiyatan. Dan agar jauh dari kemaksiyatan, ketaqwaan itu menjadi kunci utama. Dengan memegang teguh dan melaksanakan ketaqwaan sejati, sangat tidak mungkin hoax disebarkan.

Ada pesan menarik dari Maha Guru Ulama Nusantara, KH Sholeh Darat (1820-1903) tentang perilaku negatif yang harus dijaga dalam hidup, yakni bahaya lisan. Keterangan ini dapat dilihat dalam Kitab Munjiyat halaman 14 yang ditulis pada bab: "Sifat Madzmumah Kaping Pat Iku Afatul Lisan". 

Disebutkan oleh Mbah Sholeh Darat secara tegas bahwa lisan adalah anggota tubuh yang mulia dan sebuah kenikmatan agung. Maka menjaga lisan itu menjadi sebuah kewajiban agar tidak terjadi kerusakan. Jika tidak bisa menjaga lisan, maka sudah dipastikan ada setan yang menggodanya.

Itulah gambaran utama Mbah Sholeh Darat tentang pentingnya menjaga lisan. Hoax yang muncul adalah akibat tidak bisa menjaga lisan—yang kini berubah dengan tidak bisa menjaga tulisan-tulisan yang disebarkan di medsos. Mbah Sholeh Darat pun sudah merespon sejak dahulu kala. Bahwa proses menjaga lisan agar tidak menjelekkan orang itu tidak hanya dilakukan dengan lisan saja, tapi bisa dalam bentuk lain.

Mbah Sholeh Darat menyebutkan: "Lan setuhune ngrasani iku ora temtu kelawan pengucape lisan bahe balik  endi-endi ingkang aweh weruh kelawan ngina-ngina iya iku ngerasani arane. Kaya layang atau persemon atau isyarat atau penjiwit maka iku kabeh iya haram; Sesungguhnya membicarakan kejelekan orang itu tidak hanya dengan ucapan lisan saja, tapi apa saja yang disebutkan guna menjelekkan orang disebut "ngrasani". Seperti dengan surat, sindiran, isyarat atau cubitan itu semuanya haram".

Tegas sekali kalimat pesan itu. Dimana tingkah laku menjelekkan orang lain masuk kategori perbuatan haram (dilarang oleh agama yang menghasilkan dosa besar). Media menjelekkan orang lain juga tidak hanya dengan lisan saja, tapi bisa berkembang dengan surat/tulisan, sindiran, isyarat atau cubitan. Jika kalimat itu kita maknai di hari ini, menjelakkan orang bisa dilakukan dengan medsos.

Dalam rangka mengurangi kemaksiyatan yang dilakukan oleh lisan, maka Rasulullah Saw meminta para Muslim untuk diam agar selamat. Rasulullah Saw juga bersabda: Barangsiapa dapat menjaga perutnya dari makan haram, dan menjaga kemaluan dari kehinaan, dan menjaga semuanya saja dari hal-hal yang tidak bermanfaat, maka akan dijaga dari semua kejelekan dan kerusakan.

Untuk menjaga bahaya lisan ini agar tidak mudah menyebar hoax, maka Mbah Sholeh Darat menyebutkan agar menghindari dua puluh perilaku: bicara yang tidak manfaat, berlebihan bicara, masuk pembicaraan buruk, debat yang tidak berujung, bertengkar, melagukan kejelekan, mencela, melaknat hewan, menyanyi, tertawa lepas, menertawakan orang, membuka rahasia, perjanjian bohong, bicara bohong, sumpah palsu, ngrasani, adu domba, mempunyai dua lisan menjual informasi orang yang berseteru, memuji manusia, membahas ilmu agama yang lembut tanpa bekal ilmu, bertanya kepada orang awam tentang sifat Allah.

Dari dua puluh bahaya lisan ini dapat diambil garis intinya, bahwa lisan itu bisa terjaga karena dirinya sendiri dapat mengendalikan dan dapat menjaga iri terhadap orang lain. Termasuk agar orang dapat menjaga lisan, maka butuh dekat pada Allah dengan bekal ilmu yang baik. Demikianlah pesan singkat Mbah Sholeh Darat yang terkait dengan bahayanya lisan, yang hari ini dapat kita tarik sebagai peringatan kita agar menjaga lisan dalam membendung hoax.

Penulis adalah Wakil Ketua KOPISODA (Komunitas Pecinta KH Sholeh Darat) dan Dosen UIN Walisongo Semarang.