::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Diplomasi Politik ala Subhan ZE

Jumat, 27 Januari 2017 09:02 Fragmen

Bagikan

Diplomasi Politik ala Subhan ZE
Bagaimana memahami diplomasi politik Subhan ZE? Sebagai seorang ahli strategi dan penggerak, Subhan ZE menjadi catatan penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Namun, tidak banyak kader yang memahami secara komprehensif alur sejarah hidup, kegelisahan, pemikiran, dan jaringan yang dibangun olehnya. 

Hingga kini, nama Subhan ZE terus terngiang dalam berbagai forum diskusi dan obrolan santai, namun tidak banyak yang memahami jurus politik dan strategi diplomasinya dalam mengawal negara dan menjaga Nahdlatul Ulama.

Subhan merupakan tokoh yang lahir pada 29 Januari 1929 di Kepanjen, Malang, Jawa Timur, serta besar di Kudus, Jawa Tengah. Dari penelusuran yang dilakukan penulis, tidak banyak keluarganya di Malang yang dapat diwawancarai terkait dengan sosok Subhan. Bahkan, warisan tanah dan harta benda dari Subhan ZE yang telah dihibahkan ke sebuah lembaga pendidikan, juga telah berganti yayasan. Nama Subhan sering disebut oleh aktifis muda NU, khususnya di PMII dan Ansor, namun tidak banyak yang memahami sepak terjangnya.

Semasa hidupnya, Subhan tidak lekang oleh kontroversi. Ia sering dicitrakan sebagai pemuda yang glamour, dengan jaringan perkawanan yang luas. Mobilitasnya ditopang oleh kekuatan ekonomi dan jaringan bisnis yang telah dibangunnya, yang menghantarkan Subhan sebagai sosok mandiri yang tangguh dan mampu bergerak dengan idealisme.

Meski sering dianggap melanggar batas etika kaum santri, Subhan ternyata disayang banyak kiai. Ia juga dianggap dekat dengan kiai-kiai nasional, karena seringnya silaturahmi dan keteguhan prinsipnya menjaga negara. Subhan disebut sebagai kadernya Kiai Asnawi Kudus, serta dekat dengan Kiai Ma'shum Lasem, Kiai Bisri Mustofa Rembang, Kiai As'ad Syamsul Arifin, serta Kiai Rifai Imam Puro (Mbah Liem) Klaten. Dengan para kiai, Subhan menempatkan diri sebagai santri, sebagai murid spiritual.

Dalam catatan As'ad Said Ali, Subhan ZE merupakan kader yang dididik oleh Kiai Asnawi. Di antara kader didikan Kiai Asnawi, yakni Kiai Turaikhan, Kiai Arwani dan beberapa tokoh penggerak dari kalangan santri (Pergolakan di Jantung Tradisi: NU yang Saya Amati, 2008). Jaringan pesantren di Kudus, merupakan basis pondasi bagi Subhan untuk membangun komunikasi dengan para kiai. Selain itu, pendidikan dan jaringan bisnis Subhan juga dimulai dari Kudus, yang membuatnya memiliki ikatan pertemanan yang kuat dengan tokoh-tokoh kunci di kawasan pantura.

Dukungan para kiai tampak ketika Subhan hendak dipecat dari PBNU, pada puncak perseteruan dengan Kiai Idham Chalid. Ketika hendak dipecat oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Subhan ZE dibela Mbah Ma'shum Lasem. Tentu saja, dukungan Kiai Ma'shum berdasar pada prinsip yang kuat, dengan wibawanya di antara para kiai membuat Subhan mendapatkan legitimasi.

Atas apa yang terjadi pada Subhan, Mbah Ma'shum mengungkapkan bahwa keputusan rapat Syuriah tidak bisa memecat tanpa melalui prosedur organisasi yang sah. Menurut Mbah Ma'shum, jika PBNU hendak memecat Subhan ZE, haruslah melalui mekanisme muktamar. Dalam membela Subhan, Mbah Ma'shum bukan satu-satunya kiai yang memiliki prinsip kuat seperti itu. Pandangannya diikuti oleh beberapa kiai lain, di antaranya Kiai Mahrus Ali (Lirboyo), Kiai Abdul Malik (Demak, anggota DPR dari Partai NU), serta KH Ali Ma'shum, menantu Kiai Munawwir pengasuh pesantren Krapyak Yogyakarta. Di sisi lain, beberapa pengurus cabang NU juga mendukung Subhan. Juga, sebagian besar berpendapat bahwa apa yang dilakukan Subhan, dengan segenap keglamourannya, dilakukan sebelum menjadi pengurus PBNU. Alasan pemecatan Subhan ZE sudah usang, dan terlihat sebagai kemarahan yang terlambat (Thomafi, Mbah Ma'shum Lasem, 2007: 159).

Selain dekat dengan para kiai, Subhan ZE juga mengkader anak-anak muda pesantren, yang kelak menjadi tulang punggung Nahdlatul Ulama. Di antaranya, Kiai Tolhah Hasan, yang pernah menjadi Menteri Agama Indonesia, pada 1999-2001. Kiai Tolhah juga menjadi Rektor Universitas Islam Malang (Unisma), hingga 1998. Kiai Tolhah juga menjadi Wakil Rais 'Am PBNU (2004).

Nasaruddin Umar, dalam Kiai Multitalenta: Sebuah Oase Spiritual KH Tolhah Hasan (2006: 151), menuliskan betapa sosok Subhan ZE sangat penting bagi Kiai Tolhah Hasan. Bagi kiai Tolhah, Subhan ZE merupakan guru politiknya, yang mengkader pergerakan, organisasi, dan perjuangan kebangsaan. Inilah yang membentuk mental tanggung dalam diri Kiai Tolhah, berkat sentuhan dan diskusi intensif dengan Subhan ZE. Subhan ZE merupakan guru politik bagi Kiai Tolhah Hasan. "Subhan ZE, tokoh NU yang dikenal cerdas, kaya dan berani, juga menjadi gurunya. Ketokohannya, diakui tidak hanya di kalangan NU, tapi telah menjadi tokoh nasional. Gagasan-gagasannya sangat brilliant." Bagi Kiai Tolhah, Subhan ZE sangat berkesan dalam membangun mental anak-anak muda, agar berani bergerak dan memperjuangkan prinsip.

Subhan berpengaruh tidak hanya di kalangan pesantren, namun juga berjejaring dengan generasi muda lintas agama dan organisasi. Dengan aktifis PMKRI, HMI, PMII dan GP Ansor, Subhan ZE menjadi referensi untuk mencari celah di tengah puncak kekuasaan Soekarno. Subhan bersama anak-anak muda, melawan komunisme. Di antara yang bergerak bersama Subhan ZE, adalah aktifis penting dari PMKRI: Harri Tjan SIlalahi (Tjan Tjoen Hok).

Harri Tjan lahir di Yogyakarta, pada 11 Februari 1934. Ia mengawali karir organisasi sebagai aktifis PMKRI. Di organisasi ini, ia menjadi Ketua pada periode 190-1961. Ia juga melalangbuana untuk menghadiri forum internasional di Jakarta, Praha dan Kanada, dalam prose pembebasan Irian Barat. Selain itu, ia juga turut mendirikan Pax Romana di Roma, Montevideo, dan Buenos Aires. Pada 1957, Harri Tjan dikirim ke Amerika untuk mempelajari dinamika perburuhan di St. Jon's College di Baltimore. Ia juga berkunjung ke Detroit, Amerika Serikat pada 1962, untuk menghadiri siding ISC (International Stundent Conference).

Nama Silalahi, merupakan pemberian suku adat di Batak, ketika ia berkujung bersama kawannya di daerah itu. Di tanah Batak, ia dianggap sebagai pengganti adik temannya yang hilang pada masa kecil, sehingga diberi marga Silalahi (Tim Setyautama, Tokoh-Tokoh Tionghoa di Indonesia, 2008: 434). Harri Tjan Silalahi merupakan teman Subhan ZE dalam isu perlawanan terhadap PKI. Ia terpilih sebagai sekjen Front Pancasila, sebuah organisasi anti komunis yang dikomando Subhan ZE. Pada tahun 1965, Harri Tjan menjadi anggota Partai Katolik. Dan, tahun 1967 ia menjadi Sekjen Partai Katolik. Pada 1975, Harri Tjan ikut dalam pemilihan umum, sebagai calon dari Partai Katolik, namun tidak terpilih. Kemudian, Harri Tjan berkiprah sebagai Direktur CSIS, serta menjadi Pembina Bakom PKB (Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa) Pusat bersama Jusuf Wanandi (Liem Ban Kie).

Jaringan luas Subhan ZE dapat menjadi referensi anak-anak muda pesantren, yang memiliki passion di pergerakan politik. Subhan piawai membangun komunikasi dengan para kiai sepuh, sekaligus bergerak serentas menembus komunitas lintas agama-etnis. Memahami jurus-jurus politik dan seni diplomasinya, senantiasa membuka tirai misteri bagi sejarah panjang tokoh-tokoh penggerak Nahdlatul Ulama. (Munawir Aziz)
 

Penulis adalah Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, bukunya bertema "Gus Dur & Jaringan Tionghoa Nusantara", dalam proses terbit(Komunikasi via email: moena.aziz@gmail.com)