::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Bagaimana Seorang Menteri Diperkenalkan dan Memperkenalkan NU?

Ahad, 05 Februari 2017 10:03 Wawancara

Bagikan

Bagaimana Seorang Menteri Diperkenalkan dan Memperkenalkan NU?
Banyak cara orang mengenal atau diperkenalkan kepada NU. Menteri Tenaga Kerja H Hanif Dhakiri mengenal NU secara langsung dari rumah, sejak ia lahir. Di rumahnya, di Salatiga, Jawa Tengah, terdapat logo dan foto tokoh-tokoh NU.

Pengalaman tersebut, ia tuturkan secara selintas kepada Abdullah Alawi dari NU Online selepas menjadi narasumber pada diskusi NU di “Tengah Gelombang Populisme” yang digelar Lakpesdam PBNU di Cianjur, (27/1). Berikut petikannya:

Apa pendapat Anda tentang peran NU yang kini telah berusia 91 tahun?

Di usia yang ke-91 tahun ini, NU harus tetap menjadi suluh bagi bangsa ini secara keseluruhan. Saya merasa NU sudah berada dalam track (jalan) yang benar. Bahkan dalam situasi sekarang ini. NU sudah berada pada track yang benar! NU harus tetap menjadi kelompok yang menggelorakan Islam rahmatan lil alamin yang moderat, toleran, bisa merangkul semua anak bangsa menjadi bagian yang bisa berkontribusi kepada Indonesia secara keseluruhan,” pungkasnya.

Bagaimana Anda mengingat masa kecil terkait dengan N dan U?

Sejak kecil kan di rumah saya  ada logo NU, dalam figura selalu ada, dalam kalendar selalu ada. Kemudian gambar-gambar tokoh NU, seperti Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Sansoeri, dan lain-lain.

Bagaimana dengan orang tua Anda memperkenalkan NU?  

Orang tua menceritakan langsung soal pengalaman orang tua dulu, kakek-kakek saya dulu misalnya. Mereka mengenalkan pertama secara simbol. Ada di rumah. Komplit. Yang kedua, orang tua banyak bercerita  mengenai soal NU. Terus kemudian mereka mengajak saya ke kegiatan-kegiatan ke-NU-an.

Ada pesan orang tua untuk Anda bahwa suatu saat harus aktif di NU?

Ya pastilah, pasti! Intinya harus mengabdi kepada NU-lah. Jadi, terjemahan orang kampung kayak abah dan ibu saya itu, mengabdi kepada bangsa dan kepada negara itu, ya mengabdi kepada NU karena di daerah basisnya di situ.

Sebagai orang tua, bagaimana Anda memperkenalkan NU kepada anak-anak?

Saya melakukan hal yang sama dengan orang tua saya.

Bagaimana reaksi anak-anak?

Kalau masih anak kecil kan lebih banyak bertanya apa kan? Lalu kita jelaskan. Jadi, apa yang dilakukan orang tua kepada saya, saya lakukan kepada anak saya. Satu, simbol. Kalau Anda ke rumah saya, ada logo NU, foto-foto tokoh NU, Mbah Hasyim, Gus Dur, Mbah Wahab, Mbah Bisri, ada semua di rumah saya. Kemudian buku-buku, karena saya suka buku, di rumah saya, hampir semua bacaan tentang NU semua ada. Saya kan punya banyak koleksi buku. Saya selalu ada perpustakaan, di rumah dinas, ada perpustakaan. Di rumah saya sendiri, ada perpustakaan. Di rumah orang tua saya di Salatiga, isinya banyak tentang NU, tokoh NU, dan ajaran NU, dan segala macam.

Saran untuk orang tua untuk memperkenalkan NU kepada anak-anaknya?

Dari pengalaman pribadi, baik saya diasuh oleh orang tua, maupun saya mengasuh anak saya saat ini, menurut saya, itu tadi, di rumah anak harus diperkenalkan dengan simbol-simbol NU, dengan tokoh-tokoh NU, dengan pikiran-pikiran NU, lalu diajak terlibat di dalam kegiatan-kegiatan NU. Maka, salah satu yang suka adalah membawa anak ke kegiatan NU. Dia melihat orang dan dia akan bertanya. Jika saya mengajarkan tentang nasionalisme saya ajak nonton bola. Bukan bolanya yang penting, tapi teriakan penonton “Indonesia”, “Indonesia”itu sesuatu yang akan mudah diingat bagi anak.