::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kisah Menarik dari Penjara Suci

Kamis, 09 Februari 2017 21:00 Pustaka

Bagikan

Kisah Menarik dari Penjara Suci
“Kau punya uang Rp.5.000? Pokoknya aman, aku punya lapak (tempat) bagus, sunyi.” Ternyata temanku itu mau mengajak aku nyabu alias konsumsi narkoba. Pada saat itu, hatiku terketuk. Entah kenapa hatiku mengatakan aku harus pergi jauh, jauh sekali. Akhirnya terlintas di benakku sebuah ludah yang pernah kubuang dahulu, ‘pesantren’. Aku pun mengutarakannya kepada ayahku bahwa aku ingin masuk pesantren tapi harus jauh, di Jawa, tapi aku tidak tahu pesantren apa". 

Abu Dohak menceritakannya dengan bahasa yang cair dan mudah dipahami. Ia berasal dari Medan, yang kemudian menempuh pendidikan di sebuah pesantren di Jawa Timur, bahkan akhirnya ia meneruskan sampai kuliah di Hadralmaut, Yaman. Pesantren mampu mengubah hidupnya yang semula gelap menjadi terang.

Pangeran senja menyebut pesantren sebagai  ‘negeri seribu budaya’, bukan karena aneka ragam suku dan bangsa penduduknya saja, lebih dari itu, karena pesantren mengajarkan santrinya merangkai seribu keinginan, seribu mimpi, seribu keajaiban, seribu keistimewaan, seribu keindahan di mata manusia serta di sisi Allah (hal.75).

Sementara Siti Rumiatin mengungkapkan, momen istimewa ketika di pesantren ialah ketika ada acara besar seperti haul, PHBI, Muharram, Mauludan, Haflah Akhirussanah. Adapun momen yang paling menyaedihkan adalah ketika ia mengingat orangtua yang bekerja untuk menghidupinya di “penjara suci itu”, sedangkan ia merasa belum bisa bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu (hal.110).
Selain kisah tersebut, masih banyak kisah-kisah lainnya. Buku ini ditulis oleh 30 santri dari Pesantren Langitan Tubah dan Tebuireng Jombang. Ada suka dan duka, inspirasi dan motivasi, serta humor dan kenakalan kaum santri di dalamnya. 

Mereka bergabung dalam komunitas yang mereka dirikan bernama Pesantren Indonesia Menulis (PIM). Buku ini adalah karya perdana bersama mereka dan akan dilanjut karya-karya selanjutnya. Selain itu, mereka juga ingin mengajak pesantren-pesantren lainnya untuk bisa menulis dan menerbitkan buku. PIM siap membimbing pesantren mana pun yang ingin ditraining menulis. 

Berdasarkan data yang ada, kini di Indonesia telah berdiri lebih dari 25.785 pesantren dengan jumlah 3,65 juta santri. Rasanya sayang jika mereka hanya bergelut di pesantren tanpa berkarya dan dinikmati khalayak umum. 

Secara tidak langsung, buku yang diterbitan oleh Emir Devisi dari Penerbit Erlangga ini menjawab tudingan miring sebagian kalangan yang menyebut bahwa pesantren adalah biang teroris. Padahal pesantren sama sekali tidak mengajarkan hal itu. Terbukti dari kisah-kisah yang dituturkan jujur oleh para santri ini. 

Alhasil, buku ini sangat layak dibaca oleh semua lapisan masyarakat.  Bagi yang tidak kenal pesantren agar kenal dunia pesantren. Bagi yang pernah hidup di pesantren, buku ini bisa sebagai sarana nostalgia. Meski tidak dimungkiri, buku ini banyak istilah santri yang mungkin belum akrab di kalangan umum.

Data Buku
Judul : Kisah dari Bilik Pesantren
Penulis : Fathurrahman, Dkk.
Penerbit         : Emir, Erlangga, Jakarta
Cetakan : Januari 2017
Tebal : 176
ISBN : 978-602-09-3556-0
Kode buku : 808-204-010-0

Peresensi : Nida Husna, Mahasiswi Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) Jakarta