::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Kiai NU Diminta Jadi Tuan Rumah Pelantikan FPI

Jumat, 10 Februari 2017 08:17 Nasional

Bagikan

Ketika Kiai NU Diminta Jadi Tuan Rumah Pelantikan FPI
KH Achmad Chalwani
Purworejo, NU Online
Beberapa waktu lalu, KH Achmad Chalwani, Pengasuh Pesantren An-Nawawi Purworejo, didatangi beberapa calon pengurus FPI Purworejo. Dalam sowan itu, mereka meminta agar sang kiai mau menjadi tuan rumah pelantikan.

Kiai Chalwani menjawab bahwa ia kini masih menjabat sebagai Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah. Ia ingin di NU saja, tidak merangkap di kepengurusan FPI. Dengan hormat dan berat hati, mantan anggota DPD RI ini tidak bersedia menjadi tuan rumah pelantikan tersebut. Dalam hal ini, terangnya, ingin mengisi dan memajukan organisasi yang sudah ada: Nahdlatul Ulama.

"Namun demikian, itu bukan berarti saya menolak atau anti dengan FPI, ataupun Habib Rizieq. Mereka amaliahnya NU. Bahkan, salah satu shalawat gubahan Habib Rizieq–berjudul Kisah Sang Rasul–sering dilantunkan di mana-mana oleh Habib Syekh bin Abdul Qadir As-Seggaf. Mereka tetap Ahlussunnah wal Jama’ah," tutur Romo Kiai.

"Ini juga bukan berarti saya membela Ahok. Saya sejak awal sepakat dengan apa yang difatwakan MUI," imbuhnya, ketika ditemui NU Online, Rabu malam (8/2), di Purworejo, Jawa Tengah.

Hanya saja, menurut Romo Kiai, dirinya yang menjadi tokoh NU beserta santri-santrinya memiliki gerakan (harakah)  yang agak berbeda dengan FPI. "Kita lebih memilih gerakan yang lebih soft, lemah lembut," terang mantan Rais Syuriyah PCNU Purworejo.

Kiai Chalwani juga menunjukkan kitab berjudul "Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam al-Insan al-Kaamil" karya Sayyid Muhammad bin Sayyid Alawy bin Sayyid Abbas al-Maliky al-Hasany yang terbit tahun 1411 H. Dalam halaman 248, Mursyid Tarekat Qadiriyyah/Naqsyabandiyyah ini menunjukkan sebuah Hadits, yang kurang lebih artinya:

Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu mereka mengucapkan "Assaamu 'alaikum (kematian atas kalian)". Aisyah menyahut "Bal 'alaikumus saam (sebaliknya semoga kalianlah yang mendapatkan kematian)." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menegur, "Hai 'Aisyah, sesungguhnya Allah menyukai keramahan dalam segala hal." Aisyah berkata, "Tidakkah Engkau mendengar apa yang mereka katakan?" Rasulullah bersabda, "Aku telah menjawab Wa'alaikum (semoga menimpa kalian)." (HR. Imam Muslim).

Dengan menunjukkan Hadits di atas, Kiai Chalwani menunjukkan sikap dan argumentasi yang selama ini menjadi dasar dalam dakwah Islam yang lembut, tanpa anti, apalagi benci dengan kelompok lain yang gerakannya sedikit berbeda dengan NU pada umumnya.

"Sebagai orang NU, pandangan saya terhadap FPI ya sama dengan ormas-ormas lain, semisal Muhammadiyah, al-Washliyyah, dan lain-lain. Kita-kita masing-masing memiliki ciri khas, seperti di NU ini, di akhir pidato mengucapkan: wallaahul muwaffiq ila aqwamith thariq. Sedangkan di Muhammadiyah memakai ihdinash shirathal mustaqim, nasrullahi wa fathun qarib. Tidak apa-apa berbeda, termasuk dalam gerakan dakwahnya. Dan berbeda itu tak lantas harus diartikan anti, juga tidak lantas harus disamakan," terangnya. (Ahmad Naufa/Mahbib)