::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Kiai Baedlowie Ditanya soal Beragam Aliran

Ahad, 12 Februari 2017 06:01 Hikmah

Bagikan

Ketika Kiai Baedlowie Ditanya soal Beragam Aliran
KH Mahrus Ali, KH Arwani Amin, dan KH Baedlowie Syamsuri.
Fenomena berkembangbiaknya berbagai macam aliran (firqah) di Indonesia memang tidak mendadak muncul di akhir dasa warsa ini. Justru pada awal abad 19, di antara sebab NU lahir adalah karena ada paham lain yang mulai berkembang di Arab Saudi saat itu. 

Namun, semakin hari pergolakan dan perkembangan aneka macam paham semakin nampak lebar dan nyata di tengah masyarakat di Indonesia. Namun, anehnya kenapa kiai-kiai yang alim allamah di Indonesia tidak ada yang mengikuti paham tersebut. 

Sebagai contoh, KH M. Hasyim Asy'ari, KH Kholil Bangkalan, KH Mahfudz Tremas, KH Khotib Sambas dan kiai-kiai lain yang justru mereka adalah lulusan dari Arab Saudi. Mereka masih berpegang teguh kepada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah. 

Terkait hal itu, pernah suatu ketika KH Muhammad Shofi Al-Mubarok bertanya kepada ayahnya KH Ahmad Baedlowie Syamsuri yang juga salah seorang murid Syekh Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadani. 

"Pak, kelihatannya, aliran yang itu kan bagus toh, Pak? Kalau dilihat, mereka begitu menghidupkan sunnah?" tanya Gus Shofi 

Kiai Baedlowie menjawab, "Bapak lebih memilih jalur-jalur yang sudah ditempuh para guru-guru Bapak, Simbah Kiai Muslih (Mranggen), Simbah Kiai Umar (Mangkuyudan), Mbah Arwani (Kudus). Bapak kok yakin kalau beliau-beliau itu ahli sorga semua". 

Lebih lanjut, Kiai Baedlowie menegaskan "Andai saja Mbah Muslih, Mbah Umar, Mbah Arwani itu kok tidak ahli sorga, saya ingin melihat, siapa lagi orang yang ahli sorga (di dunia ini)?"

Artinya, marilah kita mantapkan hati kita untuk selalu menapaki jalan yang sudah ditempuh oleh pendahulu kita.  Kita tidak perlu mengikuti ajaran-ajaran baru yang belum bisa dipertanggungjawabkan silsilah sanad dan sambungnya sampai Baginda Nabi Muhammad SAW. 

(Ahmad Mundzir) 

*Cerita ini dikutip dari mauidzah Gus Shofi dalam acara pertemuan rutin alumni Pesantren Sirojuth Tholibini, Brabo di Karangsono, Mranggen, Demak, Jumat (10/2/17).