::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sarung Kiai Wahid Hasyim di Pertemuan Tingkat Tinggi Tokoh Nasional

Ahad, 12 Februari 2017 19:04 Fragmen

Bagikan

Sarung Kiai Wahid Hasyim di Pertemuan Tingkat Tinggi Tokoh Nasional

KH Saifuddin Zuhri yang sangat dekat dengan KH Abdul Wahid Hasyim mengaku terkesima dengan cara berpakaian dan filosofi penampilan putra Hadratussyekh Hasyim Asy'ari itu. Ia menyebut Kiai Wahid memegang pendirian "tidak asal berpakaian".

Kiai Wahid sering tampil necis dan harmonis. Di kalangan orang mengerti seni berpakaian, ia termasuk well dressed, selalu tampil rapi. Kualitas maupun warna baju, kemeja, dasi, celana hingga sepatu dan kaos kaki selalu serasi, sedap dipandang. Begitu pula jika mengenakan sarung, kombinasi antara baju, kemeja dan sarung mempunyai daya pikat dan rasa hormat. Warna-warna pakaian yang menjadi kegemarannya selamanya kalem, meskipun sesekali ada variasi akan tetapi tidak menimbulkan "kejutan".

Pernah suatu kali KH Saifuddin Zuhri bertanya tentang "falsafah" berpakaian itu. Beliau menjawab, "Tugas kita dalam menjalankan misi ini adalah menarik simpati banyak orang. Jika mereka belum tertarik ide-ide atau gagasan-gagasan kita, biarlah sekurang-kurangnya mereka tertarik pada kepribadian kita. Nah, berpakaian yang menyenangkan dalam pandangan akan menimbulkan kesan mengenai kepribadian kita."

Kiai Saifuddin menilai, cara Kiai Wahid berpakaian disertai cita rasa dan daya insting yang sangat kuat, tahu benar dalam keadaan bagaimana beliau mengenakan setelan celana dan dalam keadaan apa mengenakan setelan sarung.

Pada suatu hari Kiai Wahid diundang Bung Karno ke Istana Kepresidenan di Yogya. Di sana telah berkumpul Dr Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, Muhammad Yamin, dan tokoh-tokoh nasional lainnya. Tiba di Istana, Kiai Wahid langsung bergabung dengan mereka yang tengah menantikan kedatangannya. Kiai Saifuddin waktu itu duduk bersama ajudan dan para pengawal Istana dalam jarak 20 meter. Tiap kali Kiai Wahid mengemukakan pendapatnya dalam diakusi itu, saban itu pula gelak tawa berderai dari para pemimpin nasional, tanda persetujuan dalam suasana gembira.

Satu jam kira-kira pertemuan para pemimpin itu usai, Kiai Wahid cepat-cepat meninggalkan mereka meskipun mereka hendak menahannya agar berada di antara mereka lebih lama lagi. Kiai Wahid segera menuju mobil dan dalam kendaraan itulah Kiai Saifuddin bertanya tentang pilihan beliau mengenakan sarung dalam menghadiri pertemuan tingkat tinggi itu?

Jawab Kiai Wahid, "Kedatangan saya bukan atas kemauan saya tetapi atas permintaan mereka. Buat mereka tidak menjadi soal apa pakaian yang hendak saya kebakan. Kecuali itu, sengaja saya memakai sarung untuk mengangkat harga kaum sarungan!"

"Para kiai," sambungnya, "kadang-kadang kurang dihargai oleh mereka yang sok intelektuil hanya karena sarungnya." Dengan mengenakan sarung Kiai Wahid hendak mengikis citra miring terhadap orang NU dan pesantren waktu itu dan menunjukkan bahwa kualitas seseorang tak terkait secara langsung dengan simbol atau identitas yang melekat pada dirinya. (Mahbib)


Sumber: Saifuddin Zuhri, Kaleidoskop Politik di Indonesia (Jilid III), 1982 (Jakarta: Gunung Agung)