::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Nenek Tunanetra Ini Tertegun saat Banser Pamekasan Robohkan Gubuknya

Senin, 13 Februari 2017 13:00 Daerah

Bagikan

Nenek Tunanetra Ini Tertegun saat Banser Pamekasan Robohkan Gubuknya
Pamekasan, NU Online
Mata Sarimbi tiba-tiba basah. Nenek tunanetra berumur 81 tahun ini tampak tertegun kala ada massa berbaju loreng merobohkan gubuknya.

Pasukan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Pamekasan menurunkan genting-genting gubuk nenek yang hidup sebatangkara di Dusun Pandaan, Desa Panglegur, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Ahad (12/2).

Ketertegunan Sarimbi berubah senyum sipis. Karena maksud Banser merobohkan gubuknya untuk dibangun kembali. Kehadiran Banser yang membangun ulang rumah tak layak huninya membuat Sarimbi tersadar betapa Allah sedang mengirimkan 'malaikat' yang mampu meringankan beban hidupnya.

Madura Idea Foundation (MIF) Kabupaten Pamekasan yang diketuai pemuda NU Madura Fudoli, bergandengan tangan dengan Banser membangun rumah Sarimbi yang dibantu perangkat desa setempat. Ketua PC GP Ansor Fathurrahman juga tampak berjibaku bersama pengurus GP Ansor lainnya.



"Siapa yang tak terketuk hatinya menyaksikan janda renta yang hidup di gubuk reyot? Semoga langkah kami ini bisa meringankan beban hidupnya," tegas Fathurrahman.

Sejauh ini, nyaris tidak ada perhatian dari pemerintah terhadap nasib Sarimbi. Gerakan bedah rumah yang dilakukan Banser dan MIF, sepertinya mampu mengetuk hati pemerintah desa. Sehingga, mereka turut terlibat.

"Poses renovasi rumah nenek Sarimbi ini dilaksanakan secara gotong- royong dan mendapat respon positif dari pihak desa," ungkap Fudoli.

Pihaknya berharap agar pemerintah dan dinas terkait juga bisa peduli dengan nasib warga yang hidupnya memprihatinkan seperti yang dialami nenek Sarimbi. Apalagi, tegas Fudoli, tugas pemerintah sama sekali tidak berat karena tinggal merealisasikan anggaran yang bersentuhan dengan kaum dluafa. (Hairul Anam/Fathoni)