::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian V-Habis)

Jumat, 17 Februari 2017 05:02 Nasional

Bagikan

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian V-Habis)
Kiai Said (bersorban) menyerahkan cendera mata yang diterima personel Wali Aan Kurnia (Apoy)
Jakarta, NU Online
Salah satu pertanyaan Wali adalah tentang jenggot. Beberapa waktu lalu, video guyonan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj tentang jenggot sempat viral. Soalnya di video tersebut ada pernyataan kontroversi, jenggot mengurangi kecerdasan. 

Pada pertemuan tersebut, Kiai Said menjelaskan duduk perkaranya. Pada zaman Nabi Muhammad, setelah perang Hunain, umat Islam mendapat harta rampasan (ghanimah) yang banyak. Dapat sapi, unta, kemudian dibagi-bagi di Ja’ronah. 

“Baru kali ini Nabi membaginya secara aneh,” katanya kepada kepada manajer Wali dan personelnya yaitu Apoy yang ditemani Farhan ZM atau Faank (vokalis), Ihsan Bustomi, dan Hamzah Shopi, serta manajemen Wali, di ruangan Kiai Said, lantai tiga gedung PBNU, Jakarta, Rabu sore (18/1).

Pada pembagian ghanimah tersebut, para sahabat Nabi yang senior tidak mendapat bagian. Namun para mualaf (orang yang baru masuk Islam). Mereka ada Abu Sufyan dan lain-lain. 

Pembagian yang dilakukan Nabi tersebut, meski tidak dipahami sahabat, mereka memilih diam karena semua tahu itu perintah Allah SWT. Nabi selalu dibimbing wahyu dalam tindakannya. 

Namun, tak dinyana, ada sahabat yang maju ke depan melakukan protes. Sahabat tersebut, perawakannya kurus, jenggot panjang, jidatnya hitam, namanya Dzil Khuwaisir. 

I’dil (berlaku adillah) ya Muhammad, bagi-bagi yang adil Muhammad,” ujar Kiai Said menirukan  Dzil Khuwaisir. 

“Celakalah kamu. Yang saya lakukan itu diperintahkan Allah,” tegas Nabi Muhammad. 

Orang itu kemudia pergi. 

Nabi Muhammad mengatkaan, nanti dari umatku ada orang seperti itu. Dia bisa membaca Al-Qur’an, tapi tidak tidak paham. Hanya di bibir dan tenggorokan. Mereka itu sejelek-jeleknya manusia, bahkan lebih jelek daripada binatang.

“Saya tidak termasuk mereka. Mereka tidak termasuk saya,” ungkap Nabi Muhammad.

Nah, kata Kiai Said, prediksi Nabi Muhammad tersebut terbukti tahun 40 H. Sayidinia Ali bi Abi Thalib dibunuh bukan oleh orang kafir, melainkan orang muslim, namanya Abdurrahman bin Muljam At-Tamimi, dari suku Tamimi. Pembunuh itu ahli tahajud, puasa, dan penghafal Al-Qur’an. 

“Kenapa membunuh Ali, karena ia dianggap kafir. Kenapa Aliu kafir? Karena Ali dalam menjalankan pemerintahannya tidak dengan hukum Islam, tapi hukum musyawarah. Dia menggunakan ayat Waman lam yahkum bi ma anzalallahu fahuwa kafirun. Ali dibunuh orang hafal Qur’an,” jelasnya. (Abdullah Alawi)