::: NU menyelenggarakan rukyat awal Ramadhan 1438 H pada Jumat, 26 Mei 2017 di berbagai daerah di Indonesia  ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Novel Perjalanan Ruhani Sunan Gunung Jati

Rabu, 15 Februari 2017 14:27 Pustaka

Bagikan

Novel Perjalanan Ruhani Sunan Gunung Jati
“Gusti pernah bilang bila air senantiasa mengalir sampai jauh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Meskipun wadahnya berbeda-beda, air selalu memiliki permukaan yang datar. Ini adalah gambaran kodrat Gusti Allah. Dan air tidak pernah melawan kodrat Gusti Kang Murbeng Dumadi. Watak air akan membawa seseorang menempuh jalan kehidupan dengan irama yang paling mudah, dan pada akhirnya akan masuk ke samudra anugerah Gusti Allah,” ujar Patih Keling. 

“Bagaimana ketika air itu mengalir ke Pakuan Pajajaran, hingga akhirnya saling berhadapan dengan Kanjeng Eyang,” batin Syarif Hidayatullah.  

Dialog spiritual di atas menjadi semacam energi yang mengantarkan Sunan Gunung Jati menemui eyangnya, menghabiskan waktu untuk berdakwah. Jauh sebelum itu secara emosional ibunya, Syarifah Mudaim – telah memberi bekal berbagai kearifan yang tak ditemukan di tanah kelahiran suaminya. Kearifan yang akan menjadi modal utama dalam melakukan dakwah, maupun bergaul dengan para wali tanah Jawa. Melalui cerita, ia telah memberi pemahaman bagaimana bibit Islam disemaikan di daerah Caruban, diawali oleh seorang saleh bernama Syaikh Datuk Kahfi. 

Dalam Babad Tanah Sunda Babad Cirebon yang ditulis Pangeran S. Sulendraningrat, penyebar islam ini disebut dengan nama Syeh Nurjati. Santri generasi pertama yang berguru kepada Syaikh Datuk Kahfi, tak lain putra-putri Prabu Siliwangi dari permaisuri Nyai Ratu Subanglarang. Nama Nyimas Rarasantang, putri kedua Sri Baginda Maharaja Prabu Siliwangi dari permaisuri Nyai Ratu Subanglarang, setelah menunaikan ibadah haji dan menjadi istri Syarif Abdullah, Sultan Palestina. 
Jauh sebelum itu di Tanjungpura, Karawang, juga telah berdiri Pesantren Quro. Salah seorang santrinya adalah Nyai Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa dari Kerajaan Singapura Muara Jati yang masih keturunan Raja Sunda, Prabu Niskala Wastu Kancana. Nyai Subang Larang kemudian dijodohkan dengan Raden Pamanah Rasa, Putra Mahkota Kerajaan Pajajaran. Dari rahim Nyai Subang Larang ini kemudian lahir Pangeran Walangsungsang dan Nyimas Rarasantang. 

Sebelum berkenan dipersunting, Nyai Subang Larang mengajukan tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu disediakan bintang saketi. Dalam Novel Prabu Siliwangi: Bara Di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya (Edelweiss (Pustaka IIMaN Group), 2009) dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan bintang saketi tak lain adalah tasbih, yang merupakan simbol islam. Sehingga sekalipun diperistri seorang raja yang agama negaranya belum Islam, Nyai Subang Larang tetap bersikeras agar diperkenankan melaksanakan wirid dan ritual Islam lainnya. Anak-anaknya kelak harus jadi muslim dan muslimah. 

Perjalanan dakwah Syarif Hidayatullah – kelak dikenal sebagai Sunan Gunung Jati – ke bumi Jawa memetakan apa yang telah dilakukan ibu dan uwaknya, Nyimas Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang. Sejarah memang senantiasa berulang. Ketika meninggalkan istana di Palestina – padahal ia telah diangkat sebagai sultan menggantikan almarhum ayahnya – seperti mengulang apa yang dilakukan uwaknya, Pangeran Walangsungsang dan ibunya Nyimas Rarasantang saat meninggalkan Keraton Pakuan Pajajaran.

Syarif Hidayatullah memperdalam nur muhammad dari satu guru mursyid kepada guru lainnya, sama persis seperti yang telah dilakukan Nyimas Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang dulu. Langkah Syarif Hidayatullah pun sebenarnya menapak jejak orang tuanya dari arah sebaliknya. Bila perjalanan Nyimas Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang bisa dipetakan dari Keraton Pakuan Pajajaran – Amparan Jati – Pasai – Campa – Mekkah, maka langkah Syarif Hidayatullah dimulai dari Palestina – Mekkah – Pasai – Muara Jati – Amparan Jati, lalu menempa diri di Caruban Larang sebelum menjadi bagian dari simpul perjuangan wali songo.

Syarif Hidayatullah lahir di Palestina, ketika kota itu sedang menggeliat menjadi salah satu kota metrolopolis terpenting di timur tengah. Di kota ini ayahnya, Syarif Abdullah memimpin negeri dengan latar belakang sosio culture dimana tiga agama samawi hidup tumbuh berdampingan. Masyarakat islam berdampingan dengan kaum kristiani dan Yahudi, yang ketiganya memiliki sejarah dan keterkaitan dengan kota itu sangat tinggi baik histori maupun religi. 

Hanya seorang pemimpin yang memiliki kekuatan mental untuk mendudukkan ketiga masyarakat yang berbeda secara adil itulah yang akan mampu memimpin Palestina, sebab percikan ketegangan sedikit saja bisa menimbulkan kobaran api. Dan hal itu berhasil dilakukan Syarif Abdullah, yang kemudian menurunkan sikap bijak dan tepa selira itu kepada Syarif Hidayatullah. Watak yang kemudian sangat membantu ketika menghadapi masyarakat Caruban dan Sunda, yang kala itu lebih menonjol sikap sempit wawasan, agak malas, dan tidak memiliki pengetahuan agama yang baik, sehingga melahirkan watak yang mudah menyerah dan gampang tersinggung.

Kenapa Syarif Hidayatullah memilih Jawa? Bila ibunya, Nyimas Rarasantang dan uwaknya, Pangeran Walangsungsang keluar dari Keraton Pakuan Pajajaran terdorong oleh ilham untuk mengejar nur muhammad, Syarif Hidayatullah memilih meninggalkan Palestina setelah selesai mengkaji kitab Usul Kalam. Kitab ini mengisahkan perjalanan keluarga ahlul bait yang tercerai-berai setelah peristiwa perang Jamal dan Shiffin. Nasab dari ayahnya, Syarif Abdullah, merujuk kepada keluarga bagida Ali r.a. Pertemuannya dengan Syaikh Abdullah Sidiq di Samudera Pasai, semakin menentukan bagaimana Syarif Hidayatullah akan menjadi satu titik penting dari perkembangan islam di Jawa. 

Ia kemudian bersinggungan dan saling mempengaruhi dengan para dewan wali yang telah lebih ada. Dengan Sunan Ampel yang bila dirunut akan mempertemukan pada satu leluhur yang sama. Secara historis pertemuan dengan Sunan Ampel adalah membagi daerah dakwah menjadi dua bagian besar di barat dan timur yang dibatasi Sungai Cipamali. Dari Cipamali ke barat sampai Ujung Kulon adalah wilayah dakwah Syarif Hidayatullah, yang tak lain masyarakat Sunda dan pesisir.

Sedangkan dari Cipamali sampai Blambangan yang menjadi wilayah kekuasaan Sunan Ampel, tak lain adalah masyarakat Jawa. Pemisahan ini tidak saja memisahkan dua wilayah, tapi lebih kepada memisahkan dua kultur dan histori yang berbeda – Sunda dan Jawa.  Peristiwa ini akan mengingatkan kita kepada Rakeyan Darmaraja ketika memberi wilayah jajahan kepada putranya, Raden Wijaya. Saat itu tidak ada pemisahan ini, sehingga menyatukan dua kultur yang berbeda itu dihadang banyak hambatan.

Kekuasaan Syarif Hidayatullah mulai terlihat dominan ketika Pangeran Cakrabuana menyerahkan Caruban Larang kepadanya. Ia kemudian berinisiatif menghentikan seba kepada Pakuan Pajajaran dan menyatakan sebagai negeri mandiri. Langkah politis yang kemudian telah melukai perasaan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, yang tak lain eyangnya sendiri. Prabu Siliwangi mengutus Tumenggung Jagabaya untuk memberi peringatan kepada Syarif Hidayatullah, tapi siapa yang mengira rombongan itu dihadang pasukan Caruban dan Demak. 

Prabu Siliwangi tidak menyadari bila sebelum langkah itu diambil, Syarif Hidayatullah telah memetakan wilayah dari Cipamali ke barat itu dalam genggamannya dengan menyebarkan ajaran islam di beberapa titik penting. Sehingga ketika Prabu Siliwangi melangkah jauh, wilayah Pajajaran sendiri telah terkepung. Begitu pula ketika Pajajaran berhasil mengikat kerjasama dengan Portugis, Caruban Larang telah mengikat hubungan erat dengan Demak dan Banten, yang terikat tidak saja secara politis melainkan lebih jauh dari itu – mengikat hubungan kekeluargaan melalui pernikahan.

Akhirnya langkah Syarif Hidayatullah sampai pula di Pakuan Pajajaran, bertemu dengan Prabu Siliwangi ketika Banten Surosowan telah berdiri dan Demak telah semakin matang baik secara politis maupun militer. Pertemuan mengharukan itu berakhir ketika Prabu Siliwangi menyetujui untuk menyebarkan islam di mana pun, dengan satu syarat jangan dengan paksaan dan pertumpahan darah. 

Langkah jihad Syarif Hidayatullah berkobar di Sunda Kalapa menghadapi Portugis yang telah disokong Pajajaran. Demikianlah yang bisa ditemukan dalam novel sejarah ini. Tentu saja tidak saja konflik keyakinan dan politis, ketika meretas jihad di bumi leluhur, Syarif Hidayatullah tak bisa menghindari dari kisah dramatis dan romantis, seperti juga yang dialami Nyimas Rarasantang dan Pangeran Cakrabuana ketika memilih keluar dari Keraton Pakuan Pajajaran.
 
Syarif Hidayatullah-di Jawa Barat lebih dikenal dengan Syaikh Sunan Gunung Jati-meninggalkan tanah kelahiran ayahnya untuk berguru kepada beberapa orang guru seperti kepada Syeikh Tajudin al-Kubri selama 2 tahun, Syeikh Athaillah Syazali. Di Baghdad berguru Tasawuf Rasul dan tinggal di pesantren saudara ayahnya selama 2 tahun (Sunarjo, 1983:51). Dalam waktu singkat Syarif Hidayatullah telah mempunyai banyak nama di antaranya Syaid Al kamil, Syeikh Nuruddin Ibrahim Ibnu Maulana Sultan Mahmud al-Khibti.

Nama-nama yang menyiratkan tahapan perjalanan kehidupannya intelektual dan keimanannya dari remaja hingga dewasa. Ketika ayahnnya wafat yang secara historis menjadi penerus kesultanan, dia menolak dan meminta adiknya Syarif Nurullah untuk menggantikan dirinya. Syarif Hidayatullah lebih memilih pergi ke Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Dalam perjalanannya ke Jawa, Syarif Hidayatullah singgah di Gujarat. 

Di sana Syaid Kamil betemu dengan Dipati Keling beserta anak buahnya. Dipati Keling dan anak buahnya masuk Islam dan mengabdi pada Syarif Hidayatullah. Kemudian mereka bersama-sama meneruskan perjalannannya menuju Jawa. Sebelum ke Jawa, Syaid Kamil singgah di Pasai. Disini Syarif Hidayatullah berguru kepada Syaid Ishak. Di Pasai mereka tinggal selama dua tahun. Setelah itu, Syaid Kamil dan rombongan meneruskan perjalan menuju ke Jawa, yang diawali dengan persinggahannya di negeri Banten. Di negeri itu sudah banyak yang memeluk agama Islam berkat binaan dari Syaid Rakhmat atau Ali Rakhmatullah seorang guru agama dari Ampel Gading yang kemudian bergelar Susuhunan Ampel.

Setelah bertemu dengan Sunan Ampel, Syarif Hidayatullah diminta untuk meneruskan Ali Rakhmatullah untuk mengajar agama Islam di negeri Banten. Ketika Syaid Rakhmatullah pulang ke Ampel, Syarif Hidayatullah ikut pula ke Ampel guna lebih memperdalam agama Islam. Ketika tiba di Ampel, di sana telah berkumpul para wali. Pada saat itu para wali sedang membagi pekerjaan untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Setelah bersilaturahmi dengan para wali, maka diatur mengenai siasat penyebaran Islam di Jawa. Saat itu Syaid Kamil atau Syarif Hidayatullah diminta untuk menyebarkan agama Islam di Jawa bagian Barat yaitu di tatar Sunda.

Kisah Syaikh Sunan Gunung Jati – terutama dalam kisah tradisional – lebih banyak dihiasi kisah-kisah mitos. Tentu saja kisah-kisah ini bukan untuk mengacaukan alur sejarah. Kisah-kisah mitos tumbuh dari kecintaan dan penghormatan rakyat yang mungkin berlebihan kepada sosok Syaikh Sunan Gunung Jati ini. Dan dibanding dengan fakta sejarah – terutama sumber primer – tentu kisah bercampur mitos ini terasa lebih dramatik dan tetap mengandung nilai-nilai spiritual dan moral. Sehingga dalam kaitannya untuk mengungkap nilai-nilai luhur yang tak banyak terungkap dalam fakta sejarah primer itulah, pembaca dapat menemukan kisah-kisah bercampur mitos dalam alur novel Suluk Gunung Jati : Novel Perjalanan Ruhani Syaikh Syaikh Syarif Hidayatullah ini. 

Novel Suluk Gunung Jati: Perjalanan Ruhani Syaikh Syarif Hidayatullah, bukanlah laporan dokumenter. Kendati fakta-fakta sejarah menjadi landasan utama, pada akhirnya tetap memerhatikan unsur-unsur dramatik sebuah novel. Sehingga Syaikh Gunung Jati dalam interaksi kesehariannya tetap dipandang sebagai sosok manusia yang memiliki emosi. Sisi romantisme sebagai seorang lelaki dewasa berkelindan dalam alur yang tidak paralel ini. E. Rokajat Asura berhasil menghubungkan dan menyambungkan antara sejarah dan kebenaran mengenai riwayat dan ajaran Sunan Gunung Jati. 

Di dalamnya tersaji tidak hanya dinamika perjuangan dakwah dan konflik politik, penulis juga menampilkan romansa percintaan. Inilah yang menjadikan novel ini manusiawi dan menyentuh hati pembaca. Dengan dasar sumber tertulis maupun cerita tutur, lewat novel ini kita seperti diajak menyelami tafsir atas perjalanan ruhani Syarif Hidayatullah dalam berdakwah. Islam yang diperkenalkan Sunun Gunung Jati adalah Islam yang ramah dan menghargai nilai-nilai budaya lokal. 

Novel sufistik ini menjadi menarik, setidaknya karena dua hal. Pertama, kehadiran novel ini mengisi kelangkaan, untuk tidak dibilang ketiadaan, novel sejarah Islam di Indonesia masa kini. Kedua, lewat novel ini kita diingatkan kembali pada metode dakwah para wali di masa lampau yang bersemangat merangkul, bukan menggertak apalagi menghukum seperti yang mulai marak akhir-akhir ini. Dan sungguh novel ini terbit pada saat yang tepat, saat Indonesia membutuhkan inspirasi untuk kembali belajar ramah dan menghargai nilai-nilai budaya dalam bingkai kebhinekaan. Saya kira, dua hal tersebut sudah cukup untuk menjadikan novel ini wajib 'ain untuk disebarkan dan dibaca.

Data buku:
Judul: Suluk Gunung Jati: Novel Perjalanan Ruhani Syaikh Syarif Hidayatullah 
Penulis: E. Rokajat Asura
Terbit: Agustus, 2016
Tebal: 347 halaman
ISBN: 978-602-7926-26-4
Peresensi: Faried Wijdan, warga NU, tinggal di Depok, Jawa Barat.