::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (I)

Jumat, 17 Februari 2017 03:01 Opini

Bagikan

Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (I)
Oleh: Muhammad Ali Rahman 

Dalam NU Online edisi 02/02/2017, dimuat artikel berjudul: Habib Luthfi Ungkap 2 Ulama Penting dalam Penentuan Berdirinya NU. Artikel tersebut, kiranya perlu diteliti ulang. Kenapa? Karena, selain tidak mencantumkan tahun peristiwanya, juga terdapat keganjilan. Kisah tersebut sebenarnya sudah lama beredar di internet, namun sepertinya belum ada yang memberikan tanggapan. 

Pada pertengahan 2016 lalu, dari seorang kiai, penulis mendapat informasi, bahwa di internet beredar artikel tentang latar belakang berdirinya NU yang berbeda dengan yang umum. Penulis pun lalu mencari tahu. Alhasil, penulis mendapati artikel yang dimaksud dalam: www.muslimoderat.com/2015/08/, lalu di  utarabersatu.blogspot.co.id/2013/10/. 

Kisah dalam artikel itu bersumber dari Habib Luthfi bin Yahya, Pekalongan, Jawa Tengah. Di bagian akhir sumber kedua ditambahi kalimat: “Atau Anda bisa kunjungi ke: http://www.habiblutfiyahya.net/......”  Penulis pun mengunjungi alamat website tersebut, yang pada intinya didapati informasi serupa. 

Agar lebih jelas, berikut ini penulis akan cantumkan artikel tersebut, sebagaimana aslinya. Habib Luthfi berkisah: 

"Menjelang berdirinya NU beberapa ulama besar kumpul di Masjidil Haram, ini sudah tidak tertulis dan harus dicari lagi narasumber-narasumbernya, beliau-beliau menyimpulkan sudah sangat mendesak berdirinya wadah bagi tumbuh kembang dan terjaganya ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Akhirnya diistikharahilah oleh para ulama Haramain. Lalu mengutus Kiai Hasyim Asy’ari untuk pulang ke Indonesia agar menemui dua orang di Indonesia. Kalau dua orang ini meng-iya-kan jalan terus, kalau tidak jangan diteruskan. Dua orang tersebut adalah al-Habib Hasyim bin Umar bin Thoha bin Yahya Pekalongan dan Syaikhuna Mbah Kiai Kholil Bangkalan Madura.


Oleh sebab itu, tidak heran jika Muktamar NU yang ke-5 dilaksanakan di Pekalongan tahun 1930 M, untuk menghormati Habib Hasyim yang wafat pada itu. Itu suatu penghormatan yang luar biasa. Tidak heran kalau di Pekalongan sampai dua kali menjadi tuan rumah Muktamar Thariqah. Tidak heran karena sudah dari sananya. Kok tahu ini semua sumbernya dari mana? Dari seorang yang shaleh, Kiai Irfan.


Suatu ketika saya duduk-duduk dengan Kiai Irfan, Kiai Abdul Fattah dan Kiai Abdul Hadi. Kiai Irfan bertanya pada saya: “Kamu ini siapanya Habib Hasyim?”


Yang menjawab pertanyaan itu adalah Kiai Abdul Fattah dan Kiai Abdul Hadi: “Ini cucunya Habib Hasyim, Yai.”


Akhirnya saya diberi wasiat, katanya: “Mumpung saya masih hidup, tolong catat sejarah ini. Mbah Kiai Hasyim Asy’ari datang ke tempatnya Mbah Kiai Yasin. Kiai Sanusi ikut serta pada waktu itu. Di situ diiringi oleh Kiai Asnawi Kudus, terus diantar datang ke Pekalongan. Lalu bersama Kiai Irfan datang ke kediamannya Habib Hasyim. Begitu KH. Hasyim Asy’ari duduk, Habib Hasyim langsung berkata: “Kyai Hasyim Asy’ari, silakan laksanakan niatmu kalau mau membentuk wadah Ahlussunnah wal Jama’ah. Saya rela, tapi tolong saya jangan ditulis.” Begitu wasiat Habib Hasyim.


Kiai Hasyim Asy’ari pun merasa lega dan puas. Kemudin Kiai Hasyim Asy’ari menuju ke tempatnya Mbah Kiai Kholil Bangkalan. Mbah Kyai Kholil bilang sama Kyai Hasyim Asyari: “Laksanakan apa niatmu. Saya ridha seperti ridhanya Habib Hasyim. Tapi saya juga minta tolong, nama saya jangan ditulis.”


Lantas Kiai Hasyim Asy’ari bertanya: “Bagaimana Kiai, kok tidak mau ditulis semua?”


Mbah Kiai Kholil pun menjawab: “Kalau mau tulis silakan, tapi sedikit saja.”


Itu tawadhu’nya Mbah Kiai Ahmad Kholil Bangkalan. Dan ternyata sejarah tersebut juga dicatat oleh Gus Dur,” pungkas Kiai Irfan.” 


Memabaca tulisan di atas, awalnya penulis tertarik, sebab jika informasi itu benar, maka terdapat kisah lain tentang ikhwal berdirnya NU yang akan memperkaya penulisan sejarah NU. Apalagi bersumber dari seorang tokoh yang membawahi jam’iyah thariqah. 

Hanya saja, setelah dicermati, tanpa mengurangi rasa hormat penulis kepada beliau, ternyata banyak keganjilan. Dari keganjilan yang ada, penulis berbaik sangka dengan berusaha mencari sumber-sumber pembanding yang mungkin saja ada kaitannya. Namun, dari sekian sumber yang penulis telaah, tidak ada yang berkaitan, apalagi yang menguatkan. 

Informasi tersebut telah beredar di media online. Bahkan menurut  sumber online di atas, informasi itu disampaikan oleh Habib Luthfi pada 2010 M, dalam Harlah NU di Kota Pekalongan. Itu artinya, kurang lebih enam tahun beredar.

Sepengetahuan penulis, belum ada yang menyanggahnya. Lagi-lagi penulis tersudut pada pertanyaan: “Ini benar atau sebaliknya?” Sampai pada akhirnya penulis bertemu beberapa orang kiai (maaf, namanya tidak dicantumkan) yang menyarankan agar ada tulisan pembanding. Sebab, menyangkut organisasi dan tokoh-tokoh besar. (Bersambung)

Penulis tercatat sebagai pengurus di salah satu Lembaga dan Banom NU; penulis buku "Riwayat Syaikhona Kholil Bangkalan, Isyarah & Perjuangan di Balik Berdirinya NU", "Istighatsah An-Nahdliyah", "Syair Gus Dur", dan lain-lain.