::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Cara Komunitas Oya Jaga Kebersihan Sungai di Gunung Kidul

Jumat, 17 Februari 2017 08:04 Daerah

Bagikan

Cara Komunitas Oya Jaga Kebersihan Sungai di Gunung Kidul
Gunung Kidul, NU Online
“Kalau sungai itu bisa bicara, mungkin ia sudah merintih. Tolong, jangan kotori aku. Jangan lempari aku dengan sampah.” Hal ini diilustrasikan oleh Djoyo Noto Suwarno saat NU Online menanyakan dasar pembentukan Komunitas Kali Oya (KKO), Rabu (15/2).

Kebersihan dan keindahan sungai harus dijaga. Warga di sekitar sungai harus memulainya. Hal itulah yang juga menjadi bekal keyakinan komunitas yang beralamat di Dusun Klegung, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Gunung Kidul.

Ia mengatakan, kotoran dan sampah terdapat di pohon-pohon di tepi sungai. ‘Bendera dari setiap negara’, demikian ungkapan untuk membahasakan terlalu banyak dan bervariasinya sampah-sampah itu. Keindahan sungai dan pohon-pohon di tepi sungai menjadi hilang karena adanya ‘bendera-bendera’ itu.

“Tapi kita harus berterima kasih kepada pohon-pohon itu, karena bisa menjadi sangkutan sampah-sampah. Itu juga memberi tahu kita, betapa banyak sampah yang dibuang ke sungai, yang juga mengotori laut. Ini harus dihentikan,” kata Ketua KKO.

Kami memang bukan orang kota. Biarkan saja orang meremehkan pemikiran dan gerakan kami yang tinggal di desa. Tapi kami akan menjaga keyakinan untuk terus peduli dengan sungai, tambahnya.

Keyakinan tersebut mulai menampakkan hasil. Komunitas yang awalnya hanya beranggotakan tiga orang, kini tak kurang 500 orang tergabung sebagai anggota. Anggota tidak hanya dari dalam Dusun Klegung, namun hampir seluruh Desa Katongan, bahkan banyak yang berasal dari kecamatan lain.

“Mereka yang dari luar desa, banyak yang mengenal komunitas kami melalui facebook. Banyak yang tergerak untuk menjadi anggota, menawarkan bantuan tenaga dan ide-ide,” lanjut mantan Kepala Desa Katongan itu.

Untuk mewujudkan sungai yang bersih, anggota komunitas melakukan kerja bakti bersih-bersih sungai. Kegiatan kerja bakti dilakukan dua kali setiap pekan, yaitu Jumat dan Ahad. Selain bersih-bersih sungai, anggota juga membangun jalan setapak di sepanjang tepi sungai, serta melakukan penanaman pohon untuk mencegah erosi sungai.

“Kami tidak memaksa semua anggota supaya bisa ikut setiap ada kerja bakti. Ini hanya bagi yang tergerak saja dan memiliki waktu. Kalau sedang senggang, silakan ikut kerja bakti. Kalau sedang sibuk, ya bisa lain kali. Jadi tidak ada paksaan,” ujar Djoyo.

Tidak adanya pemaksaan juga berlaku untuk pendanaan. Anggota komunitas tidak diharuskan membayar iuran wajib. Untuk menunjang kegiatan, beberapa pengurus dan anggota menyumbang secara sukarela.

Wakil Ketua KKO Tato Pakusadewo mengatakan, beberapa anggota komunitas membudidayakan tanaman pisang. Hasil dari pembudidayaan tanaman pisang selain untuk kepentingan pribadi anggota, juga sebagiannya disumbangkan untuk komunitas.

“Ada yang sudah panen empat kali,” kata pria yang sempat berkecimpung sebagai pemain teater, sinetron, dan dubbing.

Djoyo, Tato, dan semua anggota KKO berharap langkah sederhana mereka dapat menjadi sumbangan bagi indah dan lestarinya lingkungan sungai Oya. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)