::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Hukum Menshalatkan Jenazah Orang Fasik

Kamis, 02 Maret 2017 20:06 Jenazah

Bagikan

Hukum Menshalatkan Jenazah Orang Fasik
Di antara kewajiban umat Islam terhadap saudara muslim yang meninggal adalah mengurusi jenazah mereka, mulai dari memandikan, mengafani, menshalatkan, dan menguburkan. Tidak sampai di situ, sebagian besar masyarakat tetap berusaha mengirimkan doa dan menghadiahkan pahala baca Al-Qur’an, dzikir, dan amalan lainnya untuk kebahagiaan mayat di alam kubur.

Ini menunjukkan betapa kuatnya persaudaraan umat Islam. Persaudaraan mereka tidak hanya berlaku pada saat hidup di dunia, tetapi ketika saudara seimannya meninggal, mereka tetap mempertahankan jalinan persaudaraan dengan cara mengirimkan doa.

Keharusan mengurusi jenazah muslim berlaku untuk seluruh umat Islam tanpa ada pengecualian. Hukum mengurusi jenazah muslim dalam fiqih ialah fardhu kifayah. Artinya, kewajiban mengurusi jenazah hilang bila sudah dilakukan oleh sebagian orang dan dihukumi berdosa seluruhnya bila tidak ada yang mengurusi sama sekali
.
Perlu diketahui, selama jenazah masih berstatus muslim pada akhir hayatnya, seluruh umat Islam dituntut untuk mengurusi jenazah mereka, meskipun semasa hidupnya dikenal sebagai  pendosa dan suka berbuat maksiat.

Sayyid Abdurrahman Ba’lawi dalam Bughyah al-Mustarsyidin mengatakan:
 
يجب تجهيز كل مسلم محكوم بإسلامه، وإن فحشت ذنوبه، وكان تاركا للصلاة وغيرها من غير جهود، ويأثم كل من علم به أو قصر في ذلك، لأن لا إله الا الله وقاية له من الخلود في النار، هذا من حيث الظاهر، وأما باطنا فمحل ذلك حيث حسنت الخاتمة بالموت على اليقين والثبات على الدين فألاعمال عنوان.

“Wajib mengurusi jenazah setiap muslim, meskipun banyak dosa, seperti meninggalkan shalat dan lain-lain selama tidak mengingkari kewajibannya. Dianggap berdosa setiap orang yang mengetahui dan mereka tidak mengurusinya, karena dari sisi lahiriah, kalimat tauhid menjaga manusia dari azab kekal di neraka, sementara dari aspek batin, husnul khatimah didasarkan pada keyakinan, keteguhan beragama, dan amalan sebagai tandanya.”
    
Dengan demikian, setiap jenazah muslim mesti diurusi oleh umat Islam, sekalipun semasa hidupnya sering melakukan kesalahan dan berbuat maksiat. Sebab pada hakikatnya, siapapun yang pernah melafalkan kalimat tauhid dan meyakininya hingga akhir hayat, mereka dijamin tidak akan kekal di neraka meskipun pendosa.  

Oleh sebab itu, seyogyanya umat Islam tidak boleh pilih kasih dalam mengurusi jenazah. Jangan sampai yang diurusi hanya muslim yang rajin shalat, sering ke masjid, dan dekat dengan masyarakat, sementara muslim yang berprilaku buruk tidak diurusi. Andaikan ada jenazah muslim yang tidak dishalatkan misalnya, tentu seluruh umat Islam yang mengetahui kematiannya akan menanggung dosanya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)