::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KH Hasyim Muzadi, Komitmen Kebangsaan dan Moderasi Islam

Kamis, 16 Maret 2017 15:30 Tokoh

Bagikan

KH Hasyim Muzadi, Komitmen Kebangsaan dan Moderasi Islam
KH Ahmad Hasyim Muzadi.
Dunia internasional yang kerap diwarnai aksi ekstremisme membutuhkan progresvitas pemikiran dan praksis gerakan yang dapat menumbuhkan Islam sebagai agama Rahmat dan perdamaian di atas semua golongan.

Langkah strategis ini dilakukan oleh KH Ahmad Hasyim Muzadi ketika mendirikan lembaga bernama International Conference of Islamic Scholars (ICIS) saat dirinya menjabat sebagai Ketua Umum PBNU dalam rentang periode 1999-2009. Lembaga ini menjadi corong dan wadah bukan hanya bagi para ulama, tetapi juga para akademisi dan cendekiawan untuk bersama-sama mewujudkan perdamaian dunia.

ICIS juga menjadi wadah bagi generasi muda dalam melakukan rembug bersama untuk menyikapi berbagai persoalan bangsa dengan melakukan sejumlah kajian strategis. Komitmen kebangsaan yang mengglobal ini tidak lahir dari langkah instan KH Hasyim Muzadi, melainkan melalui proses panjang ketika dirinya aktif berorganisasi di berbagai jenjang.

Ahmad Hasyim Muzadi lahir di Bangilan, Tuban, Jawa Timur pada 8 Agustus 1944 silam dari pasangan KH Muzadi dan Nyai Hj Rumyati. Ia mempunyai istri bernama Hj Mutamimah yang dari rahimnya lahir 6 orang anak yang terdiri dari 3 putra dan 3 putri. 

Hasyim Muzadi mengawali pendidikannya di Madrasah Diniyah Tuban pada 1950-1953. Ia kemudian meneruskan ke jenjang pendidikan dasar di SD Tuban tahun 1954-1955 dan berlanjut di SMPN 1 Tuban pada 1955-1956.

Lulus dari sejumlah sekolah tersebut, Hasyim Muzadi meneruskan pengembaraan ilmunya ke berbagai pesantren di antaranya Pesantren Gontor, Ponorogo (1956-1962), Pesantren Senori Tuban (1963), dan Pesantren Lasem di tahun yang sama (1963).

Pendidikan tinggi ia tempuh di Institut Agama Islam (IAIN) Malang pada 1964-1969. Di masa mahasiswa inilah dia mulai aktif di berbagai organisasi. Pada saat awal masuk kuliah di tahun 1954, Hasyim Muzadi sudah diamanahkan memimpin Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Bululawang. Setahun kemudian pada 1965, ia juga diamanahi memimpin Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Bululawang sebagai Ketua PAC.

Dua tahun kuliah di IAIN Malang, ia aktif menggerakkan mahasiswa saat menjadi Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Malang pada 1966. Di tahun yang sama, ia juga tercatat memimpin KAMI Malang.

Seakan tak pernah putus akan kiprah gemilangnya ketika memimpin organisasi, setahun kemudian ia dipilih menjadi Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Malang pada 1967-1971. Keberhasilannya dalam menghidupkan ruh gerakan organisasi terus dia lakukan sehingga ketika selesai di Ansor Malang, ia dipercaya menjabat Wakil Ketua PCNU Malang 1971-1973 dan didaulat memimpin sebagai Ketua PCNU Malang pada 1973-1977. Pada rentang tahun yang sama, ia juga menjabat sebagai Ketua DPC PPP Malang.

Bukan hanya di tingkat kota, Hasyim Muzadi juga melakukan pengabdian secara luas di tingkat provinsi dengan terpilih menjadi Ketua PW GP Ansor Jawa Timur pada 1983-1987. Karir di GP Ansor tersebut ia teruskan di tingkat pusat dengan menjabat salah satu Ketua PP GP Ansor pada 1987-1988.

Pada tahun 1988, ia kembali ke mengabdi di kepengurusan NU di tingkat wilayah dengan menjabat sebagai Wakil Ketua PWNU Jawa Timur hingga tahun 1992. Atas komitmen pengabdian dalam mengembangkan gagasan dan aksi di PWNU Jatim, ia dipercaya oleh Nahdliyin Jawa Timur menjadi Ketua PWNU Jatim pada tahun 1992-1999. Dia juga tercatat pernah menjadi Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur.

Ketika perhelatan Muktamar NU tahun 1999 di Pesantren Lirboyo, Hasyim Muzadi salah seorang yang digadang-gadang dapat menggantikan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tidak lain dan tidak bukan, Gus Dur-lah yang memunculkan nama KH Hasyim Muzadi untuk memimpin PBNU. Terbukti, Muktamirin secara mantap memilih Hasyim Muzadi sebagai sosok komplit karena telah teruji mampu memimpin organisasi dari tingkat ranting. Dia terpilih menjadi Ketua Umum PBNU menggantikan Gus Dur.

Kiai Hasyim Muzadi menjadi Ketua Umum PBNU selama dua periode, yaitu pada 1999-2004 dan 2004-2009. Bagi Kiai Hasyim, tidak mudah menggantikan sosok fenomenal seperti Gus Dur dalam memimpin jam’iyah NU. Selain perjuangan mengawal Islam Ahlussunnah wal Jamaah secara nasional, Gus Dur juga mampu menginspirasi dunia internasional untuk menyemai benih-benih perdamaian dan hak-hak kemanusiaan.

Berangkat dari kiprah gemilang Gus Dur itulah, Kiai Hasyim berupaya keras untuk meneruskan perjuangan Gus Dur dalam memoderasi Islam hingga ke level global. ICIS yang didirikan Kiai Hasyim menjadi wadah perjuangan moderasi Islam dari berbagai kalangan. Karena para ulama, akasemisi, cendekiawan, dan peneliti nasional dan internasional berupaya diakomodasi oleh Kiai Hasyim untuk bergerak bersama dalam mewujudkan kesatuan bangsa dan perdamaian dunia.

Selain menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) ICIS saat itu, Kiai Hasyim juga pernah menjabat sebagai Presiden World Conference on Religions for Peace (WCRP). Organisasi internasional para pemuka agama untuk perdamaian dunia ini juga pernah dipimpin Gus Dur. Jabatan terakhir yang ia emban di PBNU adalah sebagai Rais Syuriyah pada periode 2010-2015.

Di dunia akademis, KH Hasyim Muzadi pernah mengajar di sejumlah perguruan tinggi terkemuka, di antaranya UIN (dulu IAIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sunan Ampel Surabaya, dan Universitas Indonesia. Ketika mendirikan Pesantren Al-Hikam di Depok, Kiai Hasyim juga mendirikan Sekolah Tinggi Kuliyyatul Qur'an (STKQ) di pesantren tersebut.

Perguruan tinggi yang dibangunnya itu menyediakan besasiswa bagi para penghapal Al-Qur'an. Atas gagasan dan kiprahnya mengampanyekan Islam rahmatan lil alamin hingga ke level dunia, Kiai Hasyim dianugerahi Doktor Honoris Causa bidang Peradaban Islam oleh IAIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2006.

KH Hasyim Muzadi yang pernah menjadi tandem Megawati Soekarnoputri sebagai Calon Wakil Presiden pada era Pilpres 2004 menghembuskan napas terakhir pada Kamis, 16 Maret 2017 di kediamannya komplek Pondok Pesantren Al-Hikam Malang, Jawa Timur.

Ia meninggal sekitar pukul 06.25 WIB setelah beberapa kali mengalami perawatan di ICU Rumah Sakit (RS) Lavalette Malang karena kondisi kritis. Namun, jenazah Kiai Hasyim Muzadi dimakamkan di Komplek Pondok Pesantren Al-Hikam Depok, Jawa Barat. 

Di era Presiden RI Joko Widodo, KH Hasyim Muzadi ditunjuk sebagai salah seorang Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Pemakaman Kiai Hasyim dilakukan secara kenegaraan dengan Wakil Presiden HM. Jusuf Kalla sebagai Inspektur Upacara pemakamannya di Pesantren Al-Hikam Depok.

Iring-iringan kenegaraan juga dilakukan ketika jenazah Kiai Hasyim hendak diberangkatkan dari kediamannya di Malang ke Bandara Abdurrahman Saleh menuju Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta hingga ke Depok. Iring-iringan ini melibatkan sejumlah personel militer dari Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut.  

(Fathoni Ahmad)