::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mbah Moen: Islam Sarang dari Belitung, Bukan dari Demak

Jumat, 17 Maret 2017 03:01 Nasional

Bagikan

Mbah Moen: Islam Sarang dari Belitung, Bukan dari Demak
Rembang, NU Online 
Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair menceritakan bahwa Islamnya orang sarang berasal dari dakwahnya orang Belitung dan Bangka, bukan oleh para wali dari Demak. 

Kiai berusia 89 tahun itu mengatakan demikian saat sambutan selaku tuan rumah pada Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara yang diadakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di pondok pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah Kamis (16/3). 

Sejarahnya, kata dia, ketika Kubilai Khan menguasai Kerajaan China dan mengirim pasukan ekpedisi ke Jawa, prajuritnya dipotong telinganya oleh Raja Singosari Kertanegara. 

Kemudian ketika Pasukan Tartar dikirim untuk menyerang Raja Jawa itu, Singosari telah tiad dan diganti Kerajaan Majapahit. Pasukan dari China itu dikalahkan oleh Majapahit sehingga banyak yang berlarian ke berbagai daerah dan ada yang kembali ke negeri asal. 

Namun, ungkap Mbah Moen, sebagian pasukan Kubilai  Khan itu ada yang muslim. Dan Prajurit muslim itu setelah lari dari Majapahit lantas menetap di Bangka dan Belitung. Lalu mereka berubah menjadi petani atau guru. Di antaranya ada yang berdakwah hingga ke Sarang. Itu terjadi sebelum era Demak. 

"Cerita ini saya dengar dari abah saya. Abah saya dari kakek saya. Kakek saya dari buyut saya. Buyut saya itu dulu mengajinya di Belitung, napak tilas ke pendakwah asal Belitung. Makanya di Kecamatan Sarang ada desa Belitung," pungkasnya menegaskan bahwa orang  Belitung punya jasa besar bagi dakwah Islam di Nusantara.  (Ichwan/Abdullah Alawi)

Ada kesalahan penafsiran kontributor NU Online menuliskan pidato Mbah Maemun dalam artikel ini. Tulisan sudah diperbaiki . Redaksi moho maaf atas kejadian tersebut