Innalillahi wainna ilahi rajiun, Mustasyar PBNU KH Ahmad Syatibi Syarwan wafat, Jumat (15/9), pukul 12.00 WIB. Lahul fatihah...::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Dewan Syariah Nasional dan OJK Bahas Praktik Ekonomi Syariah Keseharian

Selasa, 21 Maret 2017 09:03 Pesantren

Bagikan

Dewan Syariah Nasional dan OJK Bahas Praktik Ekonomi Syariah Keseharian
Sleman, NU Online
Pesantren Sunan Pandanaran dan OJK Yogyakarta menggelar halaqah perbankan syari'ah untuk kalangan pondok pesantren dan kiai di Pesantren Sunan Pandanaran Sleman, Senin (20/3) pagi. Mereka membahas peluang-peluang ekonomi syariah untuk berkembang di Indonesia.

Menurut Kepala OJK Yogyakarta Fauzi Nugroho, Indonesia menduduki peringkat atas dalam hal prosentase mayoritas penduduk beragama Islam. Tapi, perlu dicatat juga, sistem perekonomian global hari ini berkembang sangat pesat. Sementara, Indonesia masih dalam kondisi merangkak untuk bersaing di pasar global. Selain itu, dalam penggunaan produk syariah, umat Islam di Indonesia juga masih terbilang minim di tengah tantangan global yang kian massif.

Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat KH Cholil Navis mengatakan, “Kita sering salah kaprah dalam memaknai kata syari'ah. Di mana, dalam imajinasi masyarakat kita, seringkali memaknai istilah tersebut dengan pendekatan fiqh sentris.” Padahal, menurutnya, sungguh belum tentu demikian.

"Syariat itu beda dengan fiqh. Interpretasi ulama, fuqaha, itu baru namanya fiqh. Syariat itu tidak ada unsur khilafiyahnya, tapi kalau fiqh ada. Bahkan banyak. Fiqh itu multi interpretasi. Tapi syariat itu tidak demikian" kata Kiai Cholil yang juga sebagai anggota Dewan Syariah Nasional ini.

Pada konteks ini, lanjutnya, kalau bicara syariah, dalam ibadah jelas kita tidak bisa berkreasi atau berijtihad semaunya. Namun, ibadah berbeda dengan muamalah. “Dalam konteks ini kita diberi ruang untuk berkreasi. Maka, sangat masuk akal jika tidak ada ketentuan dalam muamalah yang rigid.”

Menurut Kiai Cholil, dalam muamalah Tuhan hanya menjelaskan kepada manusia mengenai  nilai-nilai dalam bertransaksi. Misal, tidak boleh lalim, batil, gharar, maysir, dan lain sebagainya. (Anwar Kurniawan/Alhafiz K)