::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menghayati Makna Salam dalam Islam

Ahad, 06 Agustus 2017 12:15 Khutbah

Bagikan

Menghayati Makna Salam dalam Islam
Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah,

Salam adalah salah satu hal yang penting dalam Islam. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa di antara kewajiban seorang Muslim dengan Muslim lainnya adalah mengucapkan salam. Dalam sehari semalam pun, umat Islam minimal mengucapkan salam sekurang-kurangnya lima kali. Salam menjadi salah satu rukun shalat yang dilakukan di ujung tahiyyat akhir.

Sedemikian penting salam sehingga seolah-olah kita tidak boleh meninggalkannya. Meninggalkan salam dalam sehari saja sama dengan kita meninggalkan sebuah kewajiban. Sebenarnya apa makna salam? Apa keistimewaan salam kalau sekadar ucapan assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh?

Jama’ah shalat jum’at hafidhakumullah,

Senada dengan salâmah, kata salâm berasal dari bahasa Arab yang berari selamat, terlepas dari marabahaya, kedamaian, kesejahteraan, dan sentosa. Kata ini seakar dengan kata “islâm” yang secara harfiah bermakna bersikap damai atau  pasrah diri. Keberserahan diri yang total kepada Allah akan membawa seorang hamba kepada keselamatan (salâmah) baik secara lahir maupun batin.

Ekspresi salam bisa dibedakan setidaknya menjadi tiga jenis. Pertama, salam sebagai sapaan. Ia menjadi media, misalnya, untuk menyapa rekan sejawat, hadirin dalam sebuah forum, atau sejenisnya. Salam di sini semata menjadi ucapan yang menunjukkan ekpresi keakraban dan kesantunan sebagai sesama manusia. Pada level ini, kadang seseorang lupa bahwa ucapan asalamu’alaikum sebebenarnya juga memuat unsur doa. Maka tidak heran bila kita juga mendengarnya tak hanya di majelis-majelis pengajian, tapi juga di konser dangdut, karaoke, kerumunan orang demo, atau lainnya. Salam sebatas formalitas untuk sapaan. Dalam konteks ini, salam sejajar dengan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, atau selamat malam.

Kedua, salam sebagai doa. Dalam makna ini, pengucap salam menyadari bahwa ucapannya lebih dari sekadar basa-basi, atau ekspresi ekraban belaka. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh berarti semoga keselamatan, kasih sayang, dan keberkahan tercurah kepada kalian. Sebuah kalimat yang sangat indah, yang menggabungkan antara semangat untuk menyapa dan mendoakan sekaligus kepada orang lain. Doanya pun sangat mulia. Keselamatan adalah hal yang paling didamba-dambakan oleh seluruh manusia, bahkan binatang sekalipun. Salam semacam ini tak bisa disejajarkan dengan sapaan basa-basi antar teman.

Ketiga, salam sebagai bagian dari unsur syariat. Sebagaimana salam sebagai rukun shalat. Salam seperti ini tak bisa tergantikan dengan “selamat pagi” atau “selamat siang”. Ia harus dilakukan sesuai dengan syariat yang telah digariskan. Ketika kita pernah mendengar KH Abdurrahman Wahid mengatakan bahwa assalamu’alaikum bisa diganti dengan “selamat pagi” maka yang dimaksud adalah salam dalam pengertian pertama: salam sekadar basa-basi, yang kadang juga dilakukan dalam forum-forum kegiatan maksiat; salam sebagai budaya, bukan sebagai syariat.

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah,

Yang terpenting dari semua penjelasan itu adalah spirit untuk membangun hubungan positif dengan pihak lain. Sebuah hubungan yang sadar bahwa keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, harus diejawantahkan secara bersama-sama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الْأَرْحَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Hai manusia sebarkan perdamaian (salam), berilah makan dan sambunglah silaturahim, dan shalatlah tatkala manusia sedang tidur, maka kamu akan masuk surga dengan seamat (HR at-Tirmidzi)

Dalam hadits yang lain disebutkan:

أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ  تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ ، وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Amalan Islam apa yang paling baik?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Memberi makan (kepada orang yang butuh) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali dan kepada orang yang tidak engkau kenali.” (HR Bukhari)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa menebar perdamaian atau salam merupakan bagian dari ciri pokok sikap Islam yang baik. Bukan hanya mengucapkan salam, tapi juga membantu pihak yang lemah dengan tanpa pandang bulu. Inilah sikap Islam yang sejak awal memang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin).

Jama’ah shalat jum’at hafidhakumullah,

Dalam al-Qur’an, Allah pun menyampaikan salam. Salam tersebut ditujukan kepada para penduduk surga dengan segenap kenikmatan yang mereka peroleh. Dalam Surat Yasin ayat 58 disebutkan:

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

“(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.”

Menariknya, di ayat ini disematkan kata rahîm (Yang Maha Penyayang) untuk mengikuti kata salâm. Rahmah adalah kata yang sangat sering disebut-sebut dalam Al-Qur’an. Fakta ini kian menegaskan bahwa salam bertalian erat dengan semangat untuk menebar kasih sayang kepada siapa saja dan apa saja, sebagaimana sifat Allah yang tak pernah membeda-bedakan kasih sayang-Nya bagi seluruh hamba.

Rahmah adalah sifat yang Allah wajibkan atas Diri-Nya sendiri sebagaimana bunyi ayat:

كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ  لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

"Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang.” (QS al-An’am: 12)

Nabi sendiri pernah memerintahkan, “Berakhlaklah seperti akhlak Allah!” yang berarti berusaha menghayati dan menerapkan sifat kasih sayang-Nya yang sangat luas.

Alfaqir mengajak sekaligus berdoa, semoga kita semua tergolong orang yang gemar menebar salam, meresapi maknanya, dan menerapkan semangat terdalamnya dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam.

َبارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II


اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Mahbib)