::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Hubungan Memakai Sarung dengan Akhlak yang Baik

Jumat, 07 April 2017 12:46 Nasional

Bagikan

Hubungan Memakai Sarung dengan Akhlak yang Baik
Jakarta, NU Online 
Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Imam Suprayogo, mengungkapkan di antara banyak fungsi dan penggunaan sarung, ada satu fungsi yang sangat penting, yakni pembangunan akhlak yang baik.

Imam mengatakan hal tersebut dalam Seminar Nasional “Sarung Nusantara” yang digelar Lembaga Takmir Masjid Nahdltaul Ulama (LTM NU) di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Kamis (6/4).

“Di pesantren dibiasakan memakai sarung karena pesantren ingin membangun akhlak yang baik. Lalu apa hubungannya dengan sarung? Para kiai itu ternyata sangat detail memelihara akhlak sampai kalau buang air kecil diatur nggak boleh sambil berdiri apalagi berjalan. Kalau memakai celana maka besar kemungkinannya buang air kecil sambil berdiri. Untuk memudahkan ketika buang air kecil bisa jongkok, dibiasakanlah memakai sarung. Sebab ketika berdiri kalau memakai sarung, akan kelihatan pantatnya,” urai pria kelahiran Trenggalek.

Ia mengatakan mungkin saja buang air kecil sambil jongkok bagi pemakai celana.  “Itu kalau pemakai celana panjang mau mencopot celana panjangnya ketika buang air kecil sehingga bisa  kencing sambil jongkok,” katanya.

Dalam seminar bertema Sarung sebagai Identitas Budaya Bangsa, Imam juga menegaskan hal yang tak kalah penting adalah siapa yang menggunakan sarung. 


“Di dalam badan ada hati, ada ruh yang harus dipelihara. Kalau hati dan ruhnya bagus dan indah maka tatkala pakai sarung juga indah,” tegas Imam.

Sebagai akademisi, ia mengakui bahwa pendidikan yang tepat adalah melalui pesantren, karena di pesantren diajarkan kejujuran, kedisiplinan, serta berbagai metode untuk mengembangkan akhlak mulia. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)